
TIMESINDONESIA, JAKARTA – Tahun ini tahun 2025, tahun yang bagi saya cukup historik. Mengalami suatu fase yang didalamnya melabur nilai-nilai kebaruan transenden, filosofi berkemanusiaan dan ekspektasi peradaban futuristik. Terbenak pada logika yang ada di alam pikiran maupun melazimkan kepekaan nurani. Semuanya, secara singkat saya sebut sebagai kelana spiritual (The Spiritual Journey). Perjalanan yang mendistribusi stamina, mental, material, psikologi bahkan perasaan hakiki sebagai manusia yang berhamba pada Tuhannya dari ragam hamba-hamba lainnya.
Bermula dari agenda umrah sebagaimana biasa dilakukan sebagian awam orang yang ingin menunaikan prarukun kelima (sebelum haji atau yang kerap disebut sebagai haji kecil). Bersama dua saudara, seorang saudara ipar, saya membersamai ibu yang telah pernah ke sana sebelumnya, beberapa tahun silam. Turut serta dengan rombongan perjalanan travel umrah, berkisar 32 orang. Mengelana Madinah, Mekkah dan rute-rute kitarannya. Bertadabbur dan bertafakkur.
Advertisement
Kelana spiritual dimulai dari Madinah, kotanya Rasulullah yang terasa tenang, lengang, dan lapang. Sentralnya ada pada Masjid Nabawi. Masjid peradaban yang dibangun prasastinya oleh Rasul Muhammad dengan para sahabatnya lebih dari 14 abad yang lampau. Kendati deretan manusia banyak berdatangan, mengelompok dan hilir mudik, nyaris semua fokus dengan agenda ritual ibadahnya. Bersiklus rehat, sholat, ta'am. Diselingi ziarah, munajat do'a, melafadz dzikir, membaca Qur'an ditemani Air Zam Zam saat dahaga. Melalui penelitian, Air Zam Zam berkategori air terbaik sedunia, dengan zat paling lengkap dibutuhkan tubuh, tersaji di dalam masjid. Sementara itu, di penginapan ada minuman khas penghangat: Cae (Susu Krem plus Teh), alhamdulillah. Ada pula yang sesekali saja, membeli oleh-oleh seperlunya, sembari ketika pulang dari masjid.
Tetiba rasa tenang, lengang, dan lapang pada diri saya yang mengalami semacam transformasi batin. Apakah yang menyebabkannya? Saya pun tidak tahu, tetapi yang jelas Kota Madinah di dalam AlQur'an telah didalilkan bahwa Makkah dan Madinah berbeda dengan tempat-tempat lainnya di muka bumi. Dua kota suci yang tak bisa dimasuki makhluk akhir zaman: Dajjal. Makkah, ada ka'bah kiblat sentral sholat dan baitullah, Madinah ada makam Rasulullah, tempat raudhah kelak taman surga.
Penanda adzan sebelum subuh (assholatul lail) terdengar dari penginapan. Telah mulai banyak orang berdatangan, kian memadati shaf-shaf. Kemudian datang berbondong-bondong, berduyun bergelombang hingga adzan tiba, khidmat menanti subuh. Pengalaman perdana di Masjid Nabawi, terpanjat ucap: assamu'alaika ya rasulullah ya habibullah. Manusia dari berbagai benua dan samudera, dari berbagai belahan bumi, teratur mengatur diri dengan telah berwudhu suci. Sholat tiada terhenti, ada pula sholat gaib (ilal amwat). Bahkan lantunan qur'ani terus menggema pada diri masing-masing. Air Zam Zam pelepas dahaga dan keberkahan, ada di dalam masjid dan pelataran. Saat tepat, zikrullah dan munajat do'a-do'a.
Selanjutnya, singgah syukur pada tiga masjid. Masjid tersebut adalah Masjid Ali ibn Abi Thalib RA yang dulunya adalah kediamannya. Begitu pula Masjid Abu Bakar Shiddiq RA. Kemudian ke Masjid Al-Ghomamah, masjid yang dulunya bermula saat Rasul Muhammad menyelenggarakan Sholat Istisqo bersama para sahabat, atas izin Allah turun hujan yang menyejukkan di bumi Madinah. Masjid-masjid tersebut, berada di sekitar kawasan Masjid Nabawi yang dikerubungi pula koloni Burung Dara yang bersih nan indah, membuat suasana estetik (multidimensional). Beberapa orang diantaranya memberi pakan dan "bercengkerama" lembut. Burung Dara hinggap pula pada kubah-kubah masjid tersebut.
Adapun di Masjid Nabawi suasana sudah mulai penuh menjelang Dzuhur. Suasana siang, kendati panas tetapi semilir kesejukan tetap terasa nyaman, baik di dalam maupun di pelataran Masjid Nabawi. Allah punya kehendak mengendalikan iklim, alam dan suasana batin manusia. Sungguh, ada ketenangan dan keteduhan mengerubungi atma dalam ritual ibadah di Madinah. Puncaknya ketika melewati raudhah dan ziarah Rasulullah. Khidmat syahdu.
Selanjutnya perjalanan berlanjut ke Makkah yang menjadi inti pelaksanaan umrah, terapan napak tilas sebagaimana yang dilakukan Rasulullah. Berlega rasanya, karena saya mendapatkan suasana ramadhan 2025/1446 di Makkah, tempat yang sakral dan waktu ramadhan berpadu pada satu momentum umrah. Tak pelak, panorama yang tampak ada iftar ramadhan skala besar, atmosfer Makkah, manusia beribadah di ka'bah menerus gayung bersambut. Ramadhan dan ibadah di Baitullah.
Sebagai rangkaian rukun umrah, dijalani sesuai kaifiat dari niat dengan menentukan titik miqot pertama dari perjalanan menggunakan ihram (dua helai pakaian tanpa jahitan), kemudian tawaf sebanyak tujuh kali putaran poros ka'bah dari titik mula Hajar Aswad. Selanjutnya melakukan perjalanan Sa'i antara Safa hingga Marwa sebanyak tujuh rute serta diakhiri dengan tahallul. Bebersih dengan memotong rambut kepala sebagai penanda usainya rangkaian umrah secara tertib berurutan.
Pelaksanaan umrah bukan hal yang mudah, tetapi bukan pula sesuatu yang rumit. Sebentuk ritual yang memerlukan ketulusan, kesungguhan dan keyakinan prima untuk menjalaninya. Masing-masing orang punya pengalaman spiritual tersendiri dari apa-apa yang dialaminya. Dalam batin yang terbenak, pergerakan manusia memutar sekaligus menyentral pada poros ka'bah adalah suatu pemasrahan mondial, luruh total melabur dengan melepas ego dan keakuan diri. Kita sesungguhnya renik dan tidak ada apa-apanya dihadapan Sang Khalik Azza Wajalla.
Dari sisi horizontal, ada semacam perasaan setara dari seluruh manusia yang ada pada satu tujuan: tunduk patuh pada kuasa-Nya. Setara, tak ada perbedaan diantara manusia dengan manusia lainnya. Setara, berpakaian ihram dari apapun status sosialnya. Setara, bertawaf pada satu tempat dengan lantunan do'a dan harapan. Setara, pasrah dan tawakkal menunaikan kaifiat sebagai hamba dari para hamba. Ritual khanief ketertundukan hamba pada pencipta-Nya membentuk kesetaraan horizontal dan pemasrahan mondial yang begitu sakral pada ka'bah Baitullah. Tempat ibadah terlawas yang dibangun di dunia. Tempat dimana segenap manusia dari berbagai penjuru dunia yang berumrah dan haji, pasti mendatanginya. Di tengah-tengah renovasi pembangunan terus bergulir tiada henti pada sekitar kawasan. Spesifik umrah, bersiklus pula pada ziarah-ziarah istimewa.
Ritual khanief memiliki poros penentu, yang menyatu berpadu pada dua kota suci Makkah dan Madinah, tiada tertanding tiada berbanding. Dari titik umrah tersebut, saya merenung sejenak: tak ada pengendali, kecuali kendali Sang Khalik. Kesadaran spiritual yang menyimak kesetaraan horizontal kemanusiaan dan pemasrahan mondial keilahian, sebegitu kolosal. Kepada Allah kita bermohon rahmat (rahmatullah) dan kepada Rasulullah kita bermohon syafa'at (syafa'aturrasul). Labbaik Allahumma umrah, suatu kelana spiritual yang tak lumrah. Hamdalah.
***
*) Oleh: Mujaddid Muhas, M.A., Pelawat Umrah, mukim di Mataram Nusa Tenggara Barat.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Hainorrahman |
Publisher | : Rochmat Shobirin |