Advertisement
Kopi TIMES

Sekolah dan Lumpuhnya Nalar

Di ruang kelas modern, kita kerap menyaksikan sebuah fenomena yang jarang disadari tetapi nyata dampaknya

TIMES Indonesia,
Roro Syariati Sani
Roro Syariati Sani - Kopi Times
Sekolah dan Lumpuhnya Nalar
Roro Syariati Sani, Co. Learning Process Thursina IIBS Malang.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

MALANG Di ruang kelas modern, kita kerap menyaksikan sebuah fenomena yang jarang disadari tetapi nyata dampaknya: kelumpuhan intelektual yang terstruktur. Setiap awal semester, siswa kembali ke sekolah tanpa peta, tanpa rencana, bahkan tanpa pertanyaan tentang apa yang akan mereka pelajari. Mereka duduk rapi, membuka buku, menunggu instruksi, persis anak burung di sarang yang pasrah menanti induknya datang membawa makanan. 

Siswa hari ini mungkin mampu mengerjakan soal, tetapi hanya jika guru berdiri di samping mereka, memberi petunjuk langkah demi langkah. Mereka terampil mengikuti perintah, namun gagap memetakan cara belajar sendiri.

Advertisement

Kegagalan transfer pengetahuan dalam sistem sekolah menjadi pemandangan sehari-hari. Banyak siswa mampu menyelesaikan soal yang polanya identik dengan contoh di papan tulis. Namun ketika konteks sedikit diubah, keberhasilan mereka anjlok drastis. 

Ini menandakan bahwa yang dikuasai bukan pemahaman, melainkan hafalan prosedural. Situasi diperparah oleh rendahnya retensi: materi yang baru dipelajari cepat menguap karena minim pengulangan bermakna dan rendahnya keterlibatan aktif dalam proses belajar.

Dalam pembelajaran yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi, refleks menyerah muncul terlalu cepat. Saat diberi tantangan mandiri, sebagian besar siswa hanya bertahan kurang dari dua menit sebelum mengangkat tangan dan bertanya, “Pak, ini gimana caranya?” Mereka menghindari proses mengingat kembali, menalar, dan mencoba, lalu memilih jalan pintas berupa bantuan eksternal. Guru pun, sering kali tanpa sadar, menjadi tongkat penyangga permanen yang justru melemahkan otot berpikir siswa.

Masalah ini bukan monopoli Indonesia. Kritik terhadap sekolah sebagai bentuk institusionalisasi belajar telah lama muncul. Ivan Illich, dalam Deschooling Society, menyebut sekolah sebagai sistem yang membuat manusia percaya bahwa belajar hanya sah jika terjadi di ruang kelas, dipandu guru, dan dikemas kurikulum. 

Akibatnya, seseorang merasa tak berdaya belajar sendiri di luar sistem formal. Tentu, ini bukan ajakan meniadakan sekolah, sebab pendidikan dasar tetap fondasi penting peradaban. Namun kritik ini perlu dibaca sebagai peringatan: jangan sampai sekolah berubah menjadi tempat yang mematikan inisiatif belajar.

Advertisement

Di sinilah makna “menjembatani tanpa melumpuhkan” menjadi relevan. Guru seharusnya bukan sekadar pemberi jawaban, melainkan pengalih estafet tanggung jawab belajar ke tangan siswa. 

Scott H. Young, melalui konsep ultralearning, menawarkan paradigma belajar mandiri yang agresif dan intensif. Berbeda dengan sistem tradisional yang memposisikan siswa sebagai penerima instruksi, ultralearning membekali mereka dengan perangkat untuk menaklukkan pengetahuan secara otonom.

Paradigma ini berdiri di atas sembilan prinsip: metalearning (memetakan cara belajar sebuah subjek), fokus tanpa distraksi, directness atau belajar langsung di konteks nyata, drill untuk melatih bagian tersulit secara berulang, retrieval atau mengingat aktif tanpa melihat catatan, feedback cepat dan jujur, retention agar memori bertahan lama, intuition untuk memahami hingga ke akar konsep, serta experimentation untuk menemukan metode paling efektif secara personal. Prinsip-prinsip ini bukan teori kosong, melainkan alat praktis membangun kemandirian intelektual.

Di ruang kelas, pendekatan ini bisa diterapkan secara sederhana. Guru dapat mengganti kebiasaan “membaca ulang” dengan latihan retrieval. Misalnya, sebelum pelajaran dimulai, lakukan sesi brain dump lima menit: siswa menulis semua yang mereka ingat dari materi sebelumnya tanpa membuka buku. 

Dalam mata pelajaran prosedural seperti Matematika atau Bahasa Inggris, guru dapat membantu siswa mengisolasi kelemahan spesifik, lalu melatihnya intensif selama 10–15 menit hingga menjadi otomatis. Bukan seluruh bab, melainkan satu simpul kesulitan.

Jika prinsip ini dijalankan konsisten, dinamika kelas akan berubah drastis. Guru tidak lagi menjadi pusat jawaban, melainkan pelatih strategi. Siswa tidak lagi sekadar penerima materi, tetapi aktor utama dalam proses belajarnya sendiri. Sekolah pun bertransformasi dari institusi yang menyeragamkan menjadi laboratorium lahirnya pembelajar tangguh.

Dunia 2026 tidak ramah bagi manusia yang hanya bergerak saat diperintah. Kita tidak sedang mendidik calon pakar, tetapi berisiko mencetak asisten intelektual yang lumpuh tanpa arahan. Pendidikan yang berhasil bukan yang menghasilkan nilai A melalui bimbingan tanpa henti, melainkan yang pada akhirnya membuat guru “tidak lagi dibutuhkan” untuk hal-hal dasar. 

Saatnya berhenti menyuapi siswa dan mulai membiarkan mereka merasakan lapar intelektual. Sebab, hanya mereka yang mampu memancing sendiri yang akan bertahan di lautan informasi yang tak bertepi.

***

*) Oleh : Roro Syariati Sani, Co. Learning Process Thursina IIBS Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia