Advertisement
Kopi TIMES

Memahami Sumber Kesenjangan Pemikiran Siswa

Pernah menjadi kalimat viral dan bernada “Matematika ilmu yang menyenangkan”. Kalimat tersebut terdengar biasa namun ternyata menyimpan banyak makna.

TIMES Indonesia,
Humairoh Fauziah Romli
Humairoh Fauziah Romli - Kopi Times
Memahami Sumber Kesenjangan Pemikiran Siswa
Humairoh Fauziah Romli, Guru Thursina IIBS.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

MALANG Pernah menjadi kalimat viral dan bernada “Matematika ilmu yang menyenangkan”. Kalimat tersebut terdengar biasa namun ternyata menyimpan banyak makna. Separuh memaknai sebagai konfrontasi positif dan sisanya memaknai sebagai sindiran halus bahan adu tawa.

Bukan rahasia umum, mata pelajaran ini adalah salah satu mata pelajaran yang menjadi momok terjadinya kesenjangan pemikiran siswa terlebih semakin tinggi jenjang yang Ia tempuh. Kemampuan dasar numerasi dan rendahnya literasi matematika menjadi penyumbang terbesar lemahnya pemikiran siswa.

Advertisement

Kesulitan belajar matematika menurut para ahli umumnya mencakup kelemahan dalam memahami konsep abstrak, kemampuan berhitung, dan pemecahan masalah (diskalkulia), yang dipengaruhi faktor internal (motivasi rendah, kecerdasan) dan faktor eksternal (lingkungan, metode ajar).

Di sekolah tingkat dasar, matematika dimaknai dengan konsep belajar berhitung. Muncullah pemikiran bahwa angka adalah peran utamanya. Konsep angka sangat menyenangkan di level ini. Siswa sekolah dasar kelas rendah mulai belajar menyebutkan angka, mengurutkan, membandingkan, hingga mengoperasikan secara sederhana dengan konsep rigit dan berulang.

Tantangan dari level ini adalah konsistensi pengulangan konsep hitung yang menjadi dasar kemampuan numerasi. Siswa sekolah dasar kelas tinggi mulai mengembangkan konsep angka, nilai, dan bentuk.

Bagaimana sebuah angka yang awalnya bernilai positif menjadi bernilai negatif, bagaimana nilai tersebut bisa berubah ketika bertemu operasi, dan bagaimana hasil dari operasi tersebut mengubah bentuk angka yang bermula satu digit menjadi lebih dari satu digit, muncul tanda koma, adanya pembilang dan penyebut, bahkan materi tingkat lanjut menemui bentuk geometri yang merubah pertanyaan menjadi tidak hanya sekedar kalimat deskriptif namun ada pemecahan masalah melalui logika gambar.

Di sekolah menengah konsep belajar berhitung mulai berkembang dari materi sekolah dasar dengan kesulitan naik satu level. Siswa mulai berkenalan dengan bentuk lebih dari satu variable, bentuk polinom pangkat dua, bentuk gabungan geometri, dan nilai peluang kemungkinan. Disinilah kesenjangan pemikiran mulai terlihat, terlebih membutuhkan logika, pemahaman bacaan dan ilustasi gambar, dan pemecahan masalah yang lebih kompleks. 

Advertisement

Siswa yang menganggap ‘matematika ilmu yang menyenangkan’ dengan konotasi konfrontasi positif menganggap bahwa mendapatkan permasalahan dalam soal dan mampu mencari solusinya merasa seperti mampu menyelesaikan puzzle yang tercecer hingga menjadi bagian utuh dan tertantang ingin menyusun kembali puzzle-puzzle lainnya. Namun konotasi sebaliknya menimbulkan pernyataan ‘kenapa nilai x saja harus dicari’, ‘kenapa susah-susah mencari nilai y padahal ujung-ujungnya nilai nya nol’.

Di sekolah atas konsep belajar berhitung sudah sangat berkembang hingga menjadi matematika lanjut. Banyak materi dan banyak kompleksitas pemecahan masalah yang tidak ditemukan di materi fase sebelumnya.

Tidak hanya itu, mampu mengaitkan konsep yang satu dengan yang lain dan mengaplikasikan konsep ke dalam pengembangan disiplin ilmu lain menjadi tantangan yang seru di fase ini. Apabila mendapatkan rumus tidak hanya langsung digunakan, namun bisa untuk ditelaah kenapa bisa berubah dan menjadi seperti yang sering digunakan dalam fase sebelumnya.

Siswa yang sudah mulai menganggap sulit namun tanpa upaya belajar, tidak mengasah kemampuan logika dan mempertahankan konsep hitungan dasar akan merasa tertinggal dan tidak tahu harus memulai dari mana untuk memulainya.

Memperkenalkan konsep matematika dapat diajarkan dari fase anak-anak dalam konsep cerita sehari-hari dan memantik pertanyaan lanjutan dengan menambahkan konsep berhitung sehingga dapat sekaligus mengasah berfikir kritisnya.

Konsep abstrak dan berhitung tersebut bisa diperkenalkan dengan banyak metode ajar, dapat menyesuaikan karakter belajar, dan menggunakan alat digital yang semakin berkembang pesat sehingga pembelajaran lebih menarik dan meningkatkan motivasi belajar. Sehingga bukan hanya game saja yang seru untuk menyelesaikan tiap tahapan level yang semakin meningkat semakin menantang, namun matematika juga bisa dimaknai dengan pembelajaran layaknya game yang seru dan menantang.

Kesenjangan berfikir dan menurunnya literasi matematika siswa memiliki dampak sistematis yang serius, tidak hanya prestasi akademik individu namun juga pada kualitas sumber daya manusia dan daya saing bangsa. Menantikan tiap proses fase belajar matematika dengan motivasi keingintahuan yang tinggi menjadi pondasi keberhasilan dalam mengurangi presentase buta angka dan literasi matematika.

***

*) Oleh : Humairoh Fauziah Romli, Guru Thursina IIBS.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia