Advertisement
Kopi TIMES

Ilmu Tanpa Adab

Bersama dengan kemajuan pengetahuan yang sangat cepat, sebuah paradoks muncul menyertai: ketika ilmu kehilangan adab, siapa yang seharusnya memikul tanggung jawab?

TIMES Indonesia,
Eka Pratiwi Wulandari
Eka Pratiwi Wulandari - Kopi Times
Ilmu Tanpa Adab
Eka Pratiwi Wulandari, Guru Diniyah di Thursina IIBS Malang.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

MALANG Bersama dengan kemajuan pengetahuan yang sangat cepat, sebuah paradoks muncul menyertai: ketika ilmu kehilangan adab, siapa yang seharusnya memikul tanggung jawab?

Dewasa ini, kita hidup di zaman yang serba maju. Ketika pengetahuan bisa diakses hanya dengan satu sentuhan jari, informasi tersedia tanpa batas dan melimpah di mana-mana, bersama itu pula, di ruang publik yang sama, kita menyaksikan percakapan yang kasar, debat yang miskin empati, dan keputusan yang dingin terhadap dampaknya pada sesama. Di titik ini, pertanyaan lama kembali mengemuka: ketika ilmu kehilangan adab, siapa yang seharusnya memikul tanggung jawab?

Advertisement

Fenomena ini bukan sekadar keluhan moral. Ia nyata dan berdampak. Kita melihat orang-orang berpengetahuan tinggi yang mudah merendahkan, debat yang berubah menjadi hujatan, kritik yang kehilangan empati, bahkan kecerdasan yang dipakai untuk membenarkan kekerasan verbal dan manipulasi.

Selama ini, kita cenderung mencari kambing hitam. Ada yang menyalahkan sistem pendidikan yang terlalu menekankan angka dan peringkat. Ada pula yang menunjuk media sosial sebagai biang keladi yang menjadi ruang bebas tanpa pagar etika.

Sebagian lagi menuding keluarga, yang dianggap gagal menanamkan nilai sejak dini. Semua tudingan itu tidak sepenuhnya keliru tetapi juga tidak cukup.

Dalam praktik modern,  di ruang pendidikan, misalnya, keberhasilan sering diukur hanya dari seberapa cepat siswa menguasai materi, bukan juga dari bagaimana ia bersikap saat berbeda pendapat. Atau di ruang digital, yang memberi panggung bagi siapa pun yang paling lantang, konten yang paling lantang dan provokatif justru lebih mudah viral dibanding yang jernih, berimbang dan bijak.

Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, orang yang keras kerap dipuji, sementara yang santun dianggap lemah. Tanpa disadari, kita ikut membangun ekosistem yang memisahkan ilmu dari adab. Akibatnya, adab perlahan terpinggirkan, seolah ia hanya pelengkap, bukan inti.

Advertisement

Padahal, ilmu tanpa adab bukan hanya sekadar persoalan etika pribadi. Ia adalah persoalan sosial. Ketika orang berpengetahuan tinggi merasa sah untuk merendahkan yang lain, ketika kecerdasan digunakan untuk membenarkan kebencian, atau ketika kebenaran disampaikan tanpa belas kasih, ilmu justru kehilangan daya pencerahnya. Ia menjadi dingin, bahkan berbahaya. Lalu, siapa yang bertanggung jawab atas krisis adab ini?

Jawabannya tidak tunggal. Semua memiliki peran penting dalam ranahnya masing-masing. Kita perlu mengembalikan adab ke pusat pembicaraan tentang ilmu. Di sistem pendidikan, adab harus diajarkan bukan hanya lewat pelajaran khusus, tetapi melalui teladan guru dan iklim belajar yang manusiawi.

Di ruang publik, kita perlu memberi ruang bagi perbedaan tanpa menghilangkan rasa hormat. Di dunia digital, kita bisa mulai dari hal sederhana berpikir sebelum berbagi, dan mengingat bahwa di balik layar ada manusia lain.

Dan pada akhirnya, setelah semua bersinergi untuk mengambil peran dalam menjaga agar adab tetap di tempat seharusnya, maka kita juga harus “menuntut” setiap individu untuk ikut andil dalam hal ini.

Karena pilihan tetap bersifat personal, setiap orang berilmu memiliki pilihan: apakah ilmunya akan digunakan untuk memahami, atau untuk menghakimi; untuk merangkul, atau untuk meninggikan diri. Apakah ia dipakai untuk membuka ruang dialog, atau justru menutupnya dengan merasa paling benar.

Sebenarnya pertanyaan ini sudah lama dijawab oleh Imam Malik, seorang ulama besar dan guru dari Imam Syafi’i, beliau pernah menasihati muridnya: “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.”

Pesan singkat ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan fondasi cara pandang terhadap ilmu itu sendiri. Dalam pandangan Imam Malik, ilmu bukan hanya soal apa yang diketahui, tetapi juga bagaimana pengetahuan itu membentuk sikap, cara berbicara, dan cara memperlakukan orang lain.

Adab, pada dasarnya, bukan hiasan tambahan bagi ilmu. Ia adalah penuntun arah. Tanpa adab, ilmu kehilangan kompas moralnya. Sejarah telah berkali-kali menunjukkan bahwa kerusakan besar sering lahir bukan dari kebodohan, melainkan dari kecerdasan yang tidak dikendalikan oleh nurani.

Mengembalikan adab ke dalam ilmu tidak selalu membutuhkan kebijakan besar. Ia bisa dimulai dari hal sederhana di sekitar kita. Karena adab adalah kesadaran bahwa kebenaran tidak pernah memberi izin untuk bersikap kejam.

***

*) Oleh : Eka Pratiwi Wulandari, Guru Diniyah di Thursina IIBS Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia