Menalar Kemajuan Negeri
Jika kemajuan hanya dipahami sebagai pertumbuhan ekonomi, maka kita akan menghasilkan bangsa yang kaya secara angka, tetapi miskin secara jiwa.

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
Malang – Kemajuan sebuah negeri sering kali dibayangkan seperti gedung pencakar langit yang menjulang, jalan tol yang membelah kota, atau angka pertumbuhan ekonomi yang dipajang seperti piala di panggung konferensi.
Kita gemar memotret kemajuan dari apa yang tampak di permukaan, seolah-olah kemajuan adalah benda yang bisa disentuh, dihitung, lalu dipamerkan. Padahal, kemajuan sejati sering kali tidak bersuara. Ia tumbuh diam-diam dalam ruang yang tidak selalu terlihat kamera: ruang berpikir, ruang etika, ruang keadilan, dan ruang kesadaran kolektif.
Negeri ini sebenarnya tidak kekurangan mimpi. Indonesia adalah bangsa dengan gudang ide yang luas, seperti lautan yang menyimpan ribuan pulau dan ribuan kemungkinan. Namun, persoalan kita sering bukan pada kurangnya gagasan, melainkan pada lemahnya nalar untuk mengolah gagasan itu menjadi arah.
Banyak rencana pembangunan lahir megah, tetapi cepat rapuh karena tidak ditopang oleh fondasi cara berpikir yang matang. Akibatnya, kemajuan berubah menjadi slogan, bukan menjadi napas kehidupan. Menalar kemajuan berarti menanyakan ulang: kemajuan untuk siapa? Untuk apa? Dan dengan cara apa?
Pertanyaan itu penting, sebab sejarah telah mengajarkan bahwa kemajuan yang hanya berorientasi pada angka bisa berubah menjadi ilusi. Ekonomi bisa tumbuh, tetapi rakyat bisa tetap sesak. Kota bisa gemerlap, tetapi desa bisa tetap tertinggal.
Infrastruktur bisa semakin panjang, tetapi jarak sosial justru semakin jauh. Kemajuan yang tidak berpihak pada manusia hanya akan melahirkan negeri yang terlihat maju di luar, tetapi keropos di dalam, seperti rumah yang dicat indah namun fondasinya retak.
Kemajuan sejati bukan sekadar soal melaju, tetapi soal menuju. Ia bukan hanya tentang kecepatan, melainkan tentang arah. Sebab jika sebuah bangsa berlari tanpa arah, maka ia hanya sedang mempercepat diri menuju jurang.
Kita sering menganggap kemajuan sebagai sesuatu yang datang dari luar: investasi, teknologi, modal asing, atau sistem modern. Padahal, kemajuan yang paling tahan lama selalu lahir dari dalam: dari kualitas pendidikan, dari daya kritis masyarakat, dari budaya membaca, dari tradisi berpikir ilmiah, dari keberanian untuk berbenah, dan dari etika publik yang kuat.
Negara maju bukan karena jalan rayanya lebar, melainkan karena warganya tidak mudah ditipu oleh propaganda. Negara maju bukan karena gedungnya tinggi, melainkan karena sistemnya mampu melindungi yang lemah.
Dalam konteks ini, menalar kemajuan berarti membangun tradisi intelektual. Tradisi yang tidak hanya memproduksi gelar, tetapi melahirkan keberanian berpikir. Tradisi yang tidak hanya melahirkan ahli, tetapi melahirkan manusia yang peduli. Sebab ilmu pengetahuan tanpa nurani hanya akan menjadi alat bagi yang kuat untuk menguasai yang lemah. Dan teknologi tanpa moral hanya akan menjadi pisau tajam yang bisa melukai siapa saja.
Kemajuan negeri tidak boleh diserahkan pada logika kekuasaan semata. Ia harus menjadi proyek kebudayaan. Sebuah proyek yang melibatkan akal sehat rakyat, kesadaran kolektif, dan keteguhan moral.
Tanpa itu, pembangunan akan selalu berputar pada lingkaran yang sama: proyek berganti proyek, tetapi problem tetap tinggal. Seperti menimba air dengan ember bocor, kita sibuk bekerja, tetapi hasilnya selalu menguap.
Hari ini, tantangan kemajuan Indonesia bukan lagi sekadar soal membangun jalan atau jembatan. Kita menghadapi tantangan yang lebih halus, tetapi lebih berbahaya: krisis kepercayaan, krisis integritas, krisis literasi, dan krisis empati.
Kita hidup di era ketika informasi berlimpah seperti hujan deras, tetapi kebijaksanaan justru terasa seperti musim kemarau. Banyak orang bisa bicara, tetapi sedikit yang mau mendengar. Banyak yang merasa pintar, tetapi jarang yang mau belajar. Banyak yang ingin viral, tetapi lupa menjadi benar.
Di sinilah pentingnya nalar. Sebab kemajuan negeri tidak mungkin lahir dari masyarakat yang mudah tersulut emosi dan mudah diprovokasi hoaks. Kemajuan negeri hanya bisa lahir dari masyarakat yang terlatih berpikir jernih, mampu memilah fakta dan opini, serta berani berdiri pada kebenaran meski tidak populer. Bangsa ini tidak kekurangan suara, tetapi kekurangan kedewasaan dalam menggunakan suara.
Kemajuan juga tidak boleh dipahami sebagai kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. Jika pembangunan hanya dinikmati oleh segelintir orang, maka itu bukan kemajuan, melainkan ketimpangan yang dipoles. Kemajuan yang benar adalah ketika jarak antara pusat dan pinggiran semakin dekat, bukan semakin jauh.
Ketika anak-anak desa memiliki peluang yang sama dengan anak-anak kota. Ketika pendidikan tidak menjadi barang mewah, melainkan hak dasar yang terjamin. Ketika rakyat kecil tidak lagi dipaksa bertahan hidup dengan kebijakan yang tidak mereka pahami.
Negeri ini akan maju bukan karena elite-nya pandai berpidato, tetapi karena rakyatnya diberi ruang untuk tumbuh. Sebab rakyat bukan beban pembangunan, melainkan akar pembangunan. Dan akar yang kuat hanya bisa tumbuh jika tanahnya subur: tanah yang bernama keadilan.
Kemajuan juga menuntut keberanian untuk jujur. Kita harus mengakui bahwa ada banyak luka sosial yang belum sembuh. Ada kemiskinan yang diwariskan lintas generasi. Ada pendidikan yang timpang. Ada birokrasi yang masih sering lebih sibuk melayani meja daripada melayani manusia.
Ada korupsi yang kadang tidak lagi terasa seperti kejahatan, tetapi seperti budaya yang dibiasakan. Jika bangsa ini ingin maju, maka ia harus berani menatap cermin tanpa make-up. Karena kemajuan tidak lahir dari menutup masalah, tetapi dari menghadapi masalah.
Menalar kemajuan negeri berarti menjadikan etika sebagai kompas. Kita boleh membangun ekonomi sebesar apa pun, tetapi jika caranya merusak lingkungan dan mengorbankan masa depan, maka itu bukan kemajuan. Itu hanya pesta yang membakar rumah sendiri.
Kita boleh membangun industri, tetapi jika masyarakat sekitar hanya kebagian debu dan limbah, maka itu bukan kemajuan. Itu hanya pemindahan beban dari yang kuat kepada yang lemah. Kemajuan adalah ketika pembangunan meninggalkan jejak kesejahteraan, bukan meninggalkan jejak ketidakadilan.
Dan pada akhirnya, menalar kemajuan negeri adalah tentang menghidupkan kembali cita-cita besar bangsa: mencerdaskan kehidupan, memuliakan kemanusiaan, dan membangun keadilan sosial. Kemajuan bukan hanya soal masa depan, tetapi soal bagaimana kita merawat hari ini. Ia bukan sekadar target, tetapi cara hidup. Ia bukan sekadar program, tetapi kesadaran.
Jika kemajuan hanya dipahami sebagai pertumbuhan ekonomi, maka kita akan menghasilkan bangsa yang kaya secara angka, tetapi miskin secara jiwa. Namun jika kemajuan dipahami sebagai proses memanusiakan manusia, maka Indonesia bukan hanya akan maju, tetapi juga akan bermartabat. Sebab negeri yang benar-benar maju bukanlah negeri yang paling cepat berlari, melainkan negeri yang paling bijak menentukan arah.
***
*) Oleh : Iswan Tunggal Nogroho, Praktisi Pendidikan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


