Bahasa Inggris dan Ilusi Mobilitas Sosial
Bahasa Inggris hari ini diperlakukan seperti tangga ajaib. Banyak orang tua percaya, selama anak mampu berbicara fasih, pintu menuju status sosial yang lebih tinggi akan terbuka dengan sendirinya. Maka kursus mahal dipenuhi, label internasional diperebutk

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Bahasa Inggris hari ini diperlakukan seperti tangga ajaib. Banyak orang tua percaya, selama anak mampu berbicara fasih, pintu menuju status sosial yang lebih tinggi akan terbuka dengan sendirinya. Maka kursus mahal dipenuhi, label internasional diperebutkan, dan penutur asing dielu-elukan.
Bahasa berubah dari alat komunikasi menjadi jimat masa depan. Sayangnya, keyakinan itu terlalu indah untuk sepenuhnya benar.
Di berbagai ruang kelas, ironi yang jarang dibicarakan justru terlihat paling jelas. Siswa mampu melakukan presentasi dengan lancar, menyapa dengan percaya diri, bahkan terdengar meyakinkan ketika berdiskusi. Namun saat berhadapan dengan teks yang menuntut pemahaman mendalam, instruksi yang kompleks, atau tugas yang meminta argumen runtut, kefasihan itu mendadak kehilangan tenaga.
Mereka bisa berbicara, tetapi tidak selalu mengerti. Mereka terdengar pintar, tetapi belum tentu terlatih berpikir. Inilah sisi gelap dari mimpi mobilitas sosial berbasis bahasa. Kita membangun generasi yang kuat di permukaan, tetapi rapuh di fondasi.
Sekolah dan orang tua sering terjebak pada hal-hal yang mudah dilihat dan dipamerkan. Aksen menjadi kebanggaan. Keberanian berbicara dianggap prestasi. Foto presentasi dalam bahasa Inggris beredar di media sosial sebagai bukti keberhasilan pendidikan modern.
Sementara itu, kemampuan membaca kritis, menulis reflektif, membangun logika, atau mempertanyakan informasi justru tertinggal karena prosesnya panjang, sunyi, dan tidak selalu fotogenik. Bahasa akhirnya diperlakukan seperti kosmetik: memperindah tampilan, tanpa memastikan kekuatan di dalamnya.
Padahal, berbagai kajian pendidikan berulang kali menegaskan bahwa mobilitas sosial lahir bukan semata dari kemampuan berbicara, melainkan dari kapasitas berpikir, beradaptasi, serta menyelesaikan persoalan baru. Dunia kerja dan pendidikan tinggi menuntut lebih dari sekadar kelancaran.
Mereka mencari individu yang mampu memahami instruksi, mengolah informasi, dan menghasilkan gagasan. Tanpa itu, bahasa Inggris hanya menjadi suara yang nyaring tetapi kosong. Ia mungkin membuka percakapan, tetapi tidak cukup untuk mempertahankan posisi.
Lebih problematis lagi, mitos ini menanamkan harapan berlebihan pada anak. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa selama sudah fasih, masa depan akan mengikuti. Ketika realitas berbicara sebaliknya, rasa percaya diri runtuh. Bukan karena mereka kurang potensi, melainkan karena sejak awal kita menjual cerita yang terlalu sederhana dan terlalu menjanjikan.
Tidak ada yang salah dengan mempelajari bahasa Inggris. Ia tetap penting, bahkan semakin tak terelakkan di tengah arus globalisasi. Namun menempatkannya sebagai tiket otomatis menuju kehidupan yang lebih baik adalah kekeliruan yang perlu segera dikoreksi. Bahasa seharusnya menjadi alat untuk memperluas cara berpikir, bukan pengganti dari proses berpikir itu sendiri.
Jika orientasi ini tidak berubah, kita akan terus memproduksi lulusan yang fasih memperkenalkan diri kepada dunia, tetapi kebingungan ketika dunia meminta kompetensi nyata. Mereka mampu berbicara panjang, tetapi kesulitan berdiri teguh. Dan mungkin, pada saat itulah kita sadar: yang selama ini kita kejar bukanlah pendidikan, melainkan penampilan.
***
*) Oleh : Evi Khoirun Nisa, Pendidik Thursina IIBS.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


