Fenomena Baru Dakwah Islam
Beberapa tahun terakhir konten-konten bertemakan ramadan muncul di berbagai platform media sosial, terutama instagram. Menariknya, konten-konten ramadan ini tidak dibuat atau dipublikasikan oleh tokoh agama islam atau ormas islam.

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
BANTUL – Beberapa tahun terakhir konten-konten bertemakan ramadan muncul di berbagai platform media sosial, terutama instagram. Menariknya, konten-konten ramadan ini tidak dibuat atau dipublikasikan oleh tokoh agama islam atau ormas islam.
Konten ramadan semakin banyak disebarluaskan oleh influencer umum bahkan yang bukan agama islam. Fenomena ini cukup menarik perhatian khalayak luas pengguna media sosial terutama generasi Z yang notabene memiliki penguasaan yang baik dalam mengakses media sosial.
Meski konten-konten ramadan juga diisi oleh kalangan non-muslim namun tidak lantas hal ini mendapat kecaman dari khalayak muslim. Konten-konten ramadan yang diisi oleh kalangan non-muslim pertama kali dikenalkan oleh Habib Ja’far Al Hadar melalui acara talkshow populer di YouTube yang dipandu sendiri oleh beliau dan Onadio Leonardo (Onad) di bawah naungan Deddy Corbuzier.
Fokus utama tlakshow ini adalah dakwah atau kajian menjelang berbuka seperti umumnya media konvensional adakan selama ini namun dikemas secara berbeda.
Dengan menggunakan platform digital youtube, talkshow dakwah ini membawakan angin baru dalam dakwah Islam. Menjadi menarik kemudian, tamu-tamu yang dihadirkan dalam talkshow tersebut datang dari latar belakang keyakinan yang beragam.
Sajian tema lebih kepada dakwah moderat, toleransi dan diskusi keagamaan yang santai dan relevan bagi generasi muda tanpa mendeskritkan atau menjelekkan agama tertentu.
Fokus acara ini adalah dakwah moderat, toleransi, dan diskusi keagamaan santai yang relevan bagi generasi muda. Ditayangkan pada bulan ramadan menjelang berbuka dan tidak jarang menghadirkan tamu dari berbagai latar belakang keyakinan yang berbeda bahkan tokoh agama lain dalam membangun diskusi keagamaan. Terkesan sederhana, namun cukup menarik perhatian berbagai kalangan untuk menikmati konten dakwah dengan nafas toleransi seperti ini.
Konten ramadan tidak berhenti pada sosok tokoh Habib Ja’far Al Hadar saja yang notabene seorang tokoh agama di kalangan umat Islam. Beberapa waktu belakangan juga muncul influencer-influencer non muslim dari etnis Chindo (China Indonesia) yang juga membagikan konsep konten ”war takjil” atau berburu takjil.
Takjil juga menjadi ikom ramadan umat muslim Indonesia dan ini juga menjadi sarana dakwah dalam bentuk kuliner dan budaya. Menariknya, bahkan para influencer Chindo ini pun terkadang juga menggunakan busana muslim seperti hijab dan baju koko.
Media digital terkhusus media sosial telah berhasil membawa pesan dakwah dengan lebih toleran dan ringan. Sehingga Islam sebagai pesan utama yang memiliki bulan mulia bernama ramadan dapat ditangkap oleh berbagai kalangan yang tidak hanya umat muslim saja.
Fenomena ini membawa dakwah islam secara spontan dan simultan, tanpa bersusah payah menjelaskan islam dan ramadan secara tidak langsung islam dan ramadan tersyiarkan sangat indah, toleran dan ringan bahkan menyenangkan. Hal ini dikarenakan konten-konten ramadan yang disajikan para influencer Chindo kerap dibubuhi hal-hal yang humoris.
Dari dinamika konten-konten ramadan yang ditampilakn oleh kalangan non-muslim namun perlu kita waspadai hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat komunikator dalam kontek ini bukanlah pemilik pesan aslinya.
Tidak selamanya hal yang berbau lelucon atau humor dapat ditangkap positif oleh masyarakat, itulah hal yang perlu diwaspadai. Karena efek dampaknya akan berpotensi menuai kritik jika konten dinilai tidak sensitif atau kurang tepat.
Dalam hal ini yang bisa kita lakukan untuk antisipasi adalah membangun kesadaran literasi digital. Perlu disadari apa yang disajikan dalam ruang digital seperti media sosial hanyalah sebuah hiburan, informasi dan pendidikan, seperti umumnya fungsi dari sebuah media.
Di sisi lain juga, bukan untuk menghalangi konten-konten sejenis ini, tapi sebagai umat muslim layaknya bisa terus menghidupkan ruh dakwah islam yang indah dan toleran. Agar penerima pesan dakwah dapat menangkap pesan Islam dengan senang dan akan menghidupkan lagi bentuk dakwah baru seperti halnya konten ramadan di media sosial oleh banyak kalangan.
Harapannya tidak ada batasan oleh siapa Islam itu dikonsumsi, dipahami, bahkan dipelajari. Ini terwujud dalam talkshow Habib Ja’far Al Hadar dengan menghadirkan kalangan non-muslim menjadi tamu di acara tersebut secara otomatis mereka mempelajari dan memahami Islam.
***
*) Oleh : Fuandani Istiati, Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Ahmad Dahlan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


