Islam Inklusif dalam Pendidikan Global
Di tengah arus globalisasi pendidikan, isu kesetaraan gender bukan lagi sekadar wacana, tetapi telah menjadi bagian dari standar mutu lembaga pendidikan internasional.

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Di tengah arus globalisasi pendidikan, isu kesetaraan gender bukan lagi sekadar wacana, tetapi telah menjadi bagian dari standar mutu lembaga pendidikan internasional. Sekolah-sekolah dengan jejaring global dituntut tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan lingkungan yang inklusif, adil, dan menghargai keberagaman.
Namun, bagi lembaga pendidikan Islam, ada satu tantangan yang sering muncul dalam diskusi lintas budaya: bagaimana menjelaskan teks-teks keagamaan yang secara literal tampak bias gender?
Sebagian hadis kerap dipahami secara tekstual sehingga menimbulkan kesan bahwa Islam membatasi peran perempuan di ruang publik. Hadis tentang mayoritas penghuni neraka adalah perempuan, hadis tentang kepemimpinan perempuan, atau hadis tentang penciptaan perempuan dari tulang rusuk yang bengkok sering dijadikan contoh dalam diskursus ini. Di ruang akademik internasional, pertanyaan-pertanyaan kritis terkait teks-teks tersebut tidak bisa dihindari.
Melalui kajian ulang terhadap hadis-hadis yang kerap dipersepsikan sebagai misoginis dengan menelaah pemikiran Ibn al-Mulaqqin, saya sampai pada kesimpulan bahwa problem utamanya bukan terletak pada substansi teks hadis, melainkan pada metode dan cara memahaminya.
Perspektif kontekstual sebagaimana juga ditegaskan oleh M. Syuhudi Ismail mengungkapkan bahwa banyak hadis bersifat situasional, menggunakan ungkapan simbolik, dan sangat berkaitan dengan realitas sosial serta kondisi historis pada masa Nabi.
Pemahaman ini menjadi sangat relevan dalam peran saya sebagai Manager of International Student and Teacher. Dalam mengelola siswa dan guru dari berbagai latar belakang budaya, saya menyadari bahwa persepsi terhadap Islam sering kali dibentuk oleh cara teks-teks keagamaan dipresentasikan.
Di forum internasional, Islam sering ditantang dengan pertanyaan: Apakah perempuan boleh menjadi pemimpin? Apakah Islam menempatkan perempuan sebagai makhluk kelas dua? Apakah teks hadis masih relevan dalam konteks modern?
Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak cukup hanya dengan mengatakan “ini sudah ada dalam kitab”. Dunia pendidikan global menuntut argumentasi yang rasional, kontekstual, dan akademis.
Di sinilah pentingnya pendekatan fiqh al-hadits yang integratif—memahami teks sekaligus konteks. Hadis tentang kepemimpinan perempuan, misalnya, muncul dalam konteks politik Persia pada masa itu. Ia bukan larangan universal sepanjang zaman. Begitu pula hadis tentang “tulang rusuk yang bengkok” bukanlah pernyataan inferioritas, melainkan metafora tentang karakter yang perlu dipahami dengan kelembutan.
Sebagai manajer yang membawahi siswa dan guru internasional, saya melihat langsung bagaimana cara kita memahami hadis berdampak pada budaya sekolah. Ketika teks dipahami secara kaku dan literal, ruang dialog menjadi sempit. Namun ketika teks dipahami secara kontekstual, lahirlah suasana akademik yang terbuka dan saling menghormati.
Pendidikan internasional tidak berarti mengadopsi nilai luar secara mentah-mentah. Sebaliknya, ia menuntut kemampuan menjelaskan nilai Islam dengan bahasa global tanpa kehilangan akar tradisinya. Di sinilah peran manajerial menjadi strategis: menjembatani antara otentisitas ajaran dan tuntutan relevansi zaman.
Dalam pengalaman saya, siswa internasional justru sangat menghargai Islam ketika dijelaskan secara ilmiah dan proporsional. Mereka melihat bahwa Islam memiliki metodologi keilmuan yang kuat dalam menafsirkan teks, bukan sekadar mengikuti tradisi tanpa kritik. Pendekatan kontekstual menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang statis, tetapi dinamis dalam menjawab tantangan zaman.
Lebih jauh, kepemimpinan perempuan dalam dunia pendidikan hari ini adalah realitas yang tak terbantahkan. Banyak institusi global dipimpin oleh perempuan yang kompeten dan visioner. Dalam konteks ini, pemahaman hadis yang komprehensif justru memperlihatkan bahwa Islam tidak menghalangi perempuan untuk berkontribusi di ruang publik selama memenuhi prinsip keadilan dan kemaslahatan.
Reinterpretasi hadis bukanlah upaya mengubah ajaran, melainkan ikhtiar untuk memahami maksudnya secara utuh. Dunia internasional membutuhkan wajah Islam yang argumentatif, bukan defensif; substantif, bukan simbolik.
Tantangan terbesar pendidikan Islam global bukanlah bagaimana mempertahankan teks, tetapi bagaimana menghadirkan makna teks secara relevan dan rahmatan lil ‘alamin. Ketika hadis dipahami secara kontekstual, ia tidak lagi menjadi sumber polemik, melainkan sumber hikmah. Dan di ruang-ruang kelas internasional itulah, kita membuktikan bahwa Islam tidak hanya mampu berdialog dengan dunia, tetapi juga memberikan kontribusi intelektual yang berharga bagi peradaban global.
***
*) Oleh : Nurul Aini Azizah, Manager of International Student and Teacher.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


