Menempatkan Ikan dalam Menu MBG
Menempatkan ikan sebagai salah satu menu utama dalam MBG bukan sekadar pilihan nutrisi, melainkan juga langkah strategis untuk menyatukan agenda kesehatan, ekonomi rakyat, dan kedaulatan pangan nasional.

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
Sumatera – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis yang saat ini dijalankan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Program ini menyasar kelompok yang dianggap paling membutuhkan intervensi nutrisi, seperti anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, hingga kelompok lansia.
Di balik kebijakan ini tersimpan tujuan besar: menekan angka stunting, memperbaiki kesehatan generasi muda, meningkatkan fokus belajar siswa, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui pemberdayaan petani, peternak, dan pelaku UMKM pangan.
Laporan Sekretariat Kabinet Republik Indonesia mencatat bahwa pada Januari 2026 program MBG telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Pada tahun pertama, yaitu 2025, program ini telah menjangkau sekitar 55,1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Angka ini menunjukkan betapa masifnya program tersebut.
Pada tahun 2026, cakupan sasaran bahkan diproyeksikan akan diperluas, tidak hanya kepada peserta didik, tetapi juga kepada guru dan tenaga pendidik sebagai bagian dari ekosistem pendidikan yang sehat.
Badan Gizi Nasional (BGN) menyebutkan bahwa ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah aktif beroperasi di berbagai daerah. Dalam evaluasi awal, tingkat keberhasilan program bahkan disebut mencapai 99 persen.
Di atas kertas, capaian tersebut tentu terlihat menjanjikan. Program ini seakan menjadi jawaban atas berbagai persoalan klasik yang selama ini menghantui pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Hasil studi yang dilakukan oleh LabSosio Universitas Indonesia bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menunjukkan dampak positif program ini. Penelitian tersebut menemukan bahwa program MBG mampu meningkatkan semangat belajar 66,4 persen siswa, memperbaiki status gizi sekitar 69 persen siswa, serta membantu meningkatkan konsentrasi belajar di sekolah.
Namun di balik angka-angka optimistis tersebut, penelitian yang sama juga mencatat adanya sejumlah tantangan dalam tata kelola program. Salah satu temuan penting adalah sekitar 73,3 persen pengiriman makanan yang pernah mengalami keterlambatan distribusi.
Respon masyarakat terhadap program MBG pun cukup beragam. Banyak orang tua siswa mengaku terbantu dengan adanya program ini karena dapat mengurangi beban pengeluaran keluarga untuk kebutuhan makan anak di sekolah. Bagi sebagian siswa, makanan dari program MBG juga menjadi tambahan energi yang membantu mereka lebih fokus mengikuti pelajaran di kelas.
Tidak sedikit pula kritik yang bermunculan. Sebagian kalangan menilai program ini berpotensi menjadi proyek besar yang rawan dimanfaatkan oleh kelompok tertentu jika tidak diawasi secara ketat. Kekhawatiran tersebut semakin menguat ketika pada tahun 2025 terjadi kasus keracunan makanan dalam program MBG di beberapa daerah.
Kajian Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada mencatat adanya kasus keracunan massal yang menimpa ratusan siswa, di antaranya 127 siswa di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, serta 427 siswa di Kabupaten Lebong, Bengkulu.
Hasil kajian menunjukkan bahwa peristiwa tersebut diduga dipicu oleh lemahnya manajemen dapur di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi, penggunaan bahan baku yang tidak layak, serta kontaminasi bakteri seperti Salmonella dan E. coli. Dampaknya, banyak siswa mengalami mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi makanan yang diduga dimasak terlalu lama sebelum dibagikan.
Kasus ini tentu memunculkan berbagai pertanyaan kritis di tengah masyarakat. Apakah sistem pengolahan makanan dalam program MBG telah mengikuti standar keamanan pangan yang baik? Apakah tenaga kerja yang direkrut dalam pengelolaan dapur memiliki kompetensi yang sesuai dengan bidangnya?
Apakah distribusi makanan sudah benar-benar mempertimbangkan kebutuhan gizi siswa secara tepat? Pertanyaan-pertanyaan tersebut wajar muncul, mengingat besarnya anggaran negara yang dialokasikan untuk mendukung program ini.
Di luar persoalan tata kelola tersebut, terdapat satu aspek yang juga patut mendapat perhatian serius, yakni komposisi bahan pangan dalam menu MBG. Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan potensi sumber daya perikanan yang sangat besar.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan bahwa potensi perikanan tangkap Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 12 juta ton per tahun. Sumber daya tersebut mencakup berbagai jenis ikan, mulai dari ikan pelagis kecil seperti teri, kembung, dan lemuru, hingga ikan pelagis besar seperti tuna, cakalang, dan tongkol.
Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang sangat penting bagi kesehatan manusia. Kandungan gizinya sangat lengkap, mulai dari protein berkualitas tinggi, asam lemak omega-3, vitamin, hingga berbagai mineral penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Bahkan untuk beberapa jenis ikan lokal, kandungan gizinya tidak kalah dengan ikan impor yang selama ini dianggap lebih bergengsi.
Sebagai contoh, ikan kembung yang mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional Indonesia memiliki kandungan protein sekitar 19 hingga 22 gram per 100 gram. Ikan ini juga kaya akan asam lemak omega-3 yang bermanfaat bagi perkembangan otak anak. Beberapa penelitian bahkan menyebutkan bahwa kandungan omega-3 pada ikan kembung bisa lebih tinggi dibandingkan ikan salmon yang selama ini populer sebagai sumber gizi premium.
Dengan potensi yang begitu besar, pertanyaannya kemudian adalah: apakah program MBG telah memanfaatkan kekayaan sumber daya ikan tersebut secara optimal dalam penyusunan menu makanan? Hal ini penting untuk dievaluasi agar pemenuhan kebutuhan protein anak sekolah tidak hanya bergantung pada sumber pangan tertentu saja.
Menu berbasis ikan sebenarnya memiliki banyak pilihan yang dapat disajikan secara menarik dan disukai oleh anak-anak. Olahan seperti nugget ikan, bakso ikan, rolade ikan, bandeng tanpa duri, hingga berbagai makanan tradisional seperti pempek, otak-otak, atau kaki naga bisa menjadi alternatif menu yang sehat sekaligus lezat. Selain meningkatkan variasi makanan, pendekatan ini juga dapat menyesuaikan menu dengan kearifan lokal di masing-masing daerah.
Lebih dari sekadar persoalan gizi, integrasi bahan pangan ikan dalam program MBG juga memiliki dampak ekonomi yang luas. Jika dikelola dengan baik, program ini dapat membuka peluang kerja sama dengan kelompok nelayan, koperasi perikanan, hingga pelaku usaha pengolahan ikan di daerah. Artinya, program MBG tidak hanya berperan dalam meningkatkan kualitas gizi anak-anak, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat pesisir.
Program Makan Bergizi Gratis seharusnya tidak berhenti pada ambisi memperbaiki status gizi generasi muda semata. Program ini juga perlu diarahkan untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya lokal Indonesia secara maksimal.
Menempatkan ikan sebagai salah satu menu utama dalam MBG bukan sekadar pilihan nutrisi, melainkan juga langkah strategis untuk menyatukan agenda kesehatan, ekonomi rakyat, dan kedaulatan pangan nasional.
***
*) Oleh : Dr. Muhammad Arhan Rajab, S.Pi., M.Si., Dosen Sains Lingkungan Kelautan Institut Teknologi Sumatera.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


