Kopi TIMES

Sekuritisasi Energi dan Kompetisi Geopolitik

Eskalasi perang antara aliansi Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran telah berlangsung lebih dari dua minggu. Tanda adanya gencatan senjata antara kedua pihak belum tampak sedikit pun. Ketidakpastian ekonomi dan politik global semakin menyentuh titik na

TIMES Indonesia,
Gennta Rahmad Putra
Gennta Rahmad Putra - Kopi Times
Sekuritisasi Energi dan Kompetisi Geopolitik
Gennta Rahmad Putra, Lulusan Magister Ilmu Politik Universitas Andalas.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

KOTA SAWAHLUNTO Eskalasi perang antara aliansi Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran telah berlangsung lebih dari dua minggu. Tanda adanya gencatan senjata antara kedua pihak belum tampak sedikit pun. Ketidakpastian ekonomi dan politik global semakin menyentuh titik nadir.

Harapan semua pihak akan gencatan senjata dan adanya titik temu antara kedua belah pihak menjadi subuah harapan yang paling dinantikan. Akan tetapi, Iran tidak akan semudah itu melakukan gencatan senjata. Apalagi semenjak gugurnya pimpinan tertinggi mereka Ali Khamenai, menjadi sebuah tekad atas harga diri sebuah bangsa untuk mempertahankan kedaulatannya. 

Advertisement

Pokok utama yang selalu menjadi pertanyaan semua pihak: apa sebetulnya yang memantik konflik antara AS-Israel dengan Iran tersebut? Banyak dari kita percaya satu hal bahwa konflik ini erat kaitannya dengan ideologi, khususnya perkara agama (religion).

Ketika sebuah rezim mendasari politik mereka dengan keyakinan fundamentalis dan adanya visi apokaliptik, permasalahan mengenai keyakinan menjadi lebih dari sekadar retorika. Persoalan ini sudah memperdalam bentuknya menjadi sebuah strategi narasi. 

Selain itu, bagi kalangan yang mendasari dirinya dengan perkara demokrasi dan demokratisasi, permasalahan pertukaran rezim (regime change) merupakan narasi utamanya. Kompetisi antara aliansi pro-demokrasi (AS-Israel) memiliki kewajiban untuk melakukan intervensi atas rezim Iran yang dinilainya sangat otoritarian. Berbagai propaganda selalu dilakukan AS-Israel untuk mengintervensi internal negara Iran. Sehingga klaim atas kebebasan dan penerapan demokrasi yang substantif merupakan jalan terbaik bagi rakyat Iran. 

Jika merujuk kepada survei opini publik yang dilakukan lembaga-lembaga internasional, seperti Gallup, Pew Research Center, dan Group for Analyzing and Measuring Attitudes in Iran (GAMAAN), memang menyebutkan bahwasanya rakyat Iran yang didominasi oleh Generasi Z ini menginginkan perubahan rezim ke arah yang demokratis.

Hasrat akan pergantian rezim di Iran selalu menjadi ketegangan utama di internal negara tersebut. Akan tetapi, sejauh ini dengan berbagai survei yang dilakukan masih terdapat hambatan sosio kultural yang menjadi dilema bagi masyarakat Iran.

Advertisement

Belum adanya sebuah konsensus yang matang selalu menjadi inti dari persoalan pertukaran rezim tersebut. Sehingga keberadaan pemimpin yang kharismatik masih menjadi opsi utama bagi Iran, alih-alih merubah total sistem yang meraka jalankan. 

Selain itu, hal utama yang menjadi konflik antara AS-Israel dengan Iran adalah energi. Keterkaitan antara kompetisi geopolitik dan keamanan energi telah menjadi isu utama politik global. Baik itu dari kalangan elite global maupun para akademisi global yang menjadikan isu ini sebagai perhatian utama bagi masa depan kompetisi kekuasaan global (Qiang Wang et al, 2024).

Pertanyaan kritis seperti; siapa yang memiliki sumber daya? Siapa yang menguasai minyak dan gas? Dari siapa semua itu didapatkan? Lalu, siapa yang mengendalikan rute dimana komoditas energi diantarkan? Apa sebetulnya kepentingan AS-Israel dengan kawasan Timur Tengah?

Terakhir, Mengapa China mendukung Iran? Inilah sebetulnya yang menjadi pokok persoalan utama persaingan negara tersebut. Sekuritisasi energi dan kompetisi geopolitik merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. 

Wilayah Teluk mengendalikan beberapa rute minyak dan gas yang paling penting di bumi. Selat Hormuz menjadi salah satu koridor energi terpenting di dunia. Sekitar 20-30% dari total konsumsi minyak dunia melewati selat sempit ini setiap harinya. Sebagian besar ekspor minyak Iran merupakan untuk kebutuhan energi China.

Kekuatan global seperti China, Rusia, AS, India, Iran dan sebagainya sangat memiliki kepentingan strategis dalam aliran energi tersebut. Oleh karena itu, isu mengenai sekuritisasi energi menjadi topik terkemuka dari pertarungan kompetisi geopolitik global di Kawasan Timur Tengah, khususnya selat Hormuz.

Karena berlokasi di Iran, Selat Hormuz telah menjadi strategi sekuritisasi atau pertahanan Iran yang dapat mengontrol jalannya pendistribusian energi global. Itulah sebabnya, keberadaan Israel di kawasan menjadi krusial bagi AS dalam memetakan alur distribusi energi di kawasan tersebut. 

Ketika Selat Hormuz di tutup dan dikendalikan oleh Iran terdapat tiga persoalan yang menyebabkan turbolensi kebutuhan energi dan guncangan ekonomi dunia. Gangguan dalam produksi minyak dan gas, ancaman atas rute pengiriman energi serta lonjakan harga energi dunia. Tiga hal ini yang menjadi konsekuensi dari konflik antara AS-Israel dengan Iran. 

Untuk itu, yang menjadi pesan penting pada konflik ini adalah keamanan energi merupakan keamanan nasional sebuah negara. Kemandirian dalam hal energi merupakan keharusan yang wajib diupayakan oleh negara-negara di dunia.

Khusus untuk Indonesia, kita harus mencoba mencari alternatif bukan hanya menavigasi persaingan geopolitik, melainkan turut andil di dalam mengembangkan alternatif energi terbarukan. Investasi besar dalam energi terbarukan yang disertai riset dan inovasi nasional juga menjadi kunci bagi ketahanan dan kemananan energi kita. 

***

*) Oleh : Gennta Rahmad Putra, Lulusan Magister Ilmu Politik Universitas Andalas.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia