Advertisement
Kopi TIMES

Ketika Debat Kehilangan Makna

Perdebatan yang melibatkan Permadi Arya, Feri Amsari, dan Ikrar Nusa Bhakti dalam acara Rakyat Bersuara (10/03/2026) di iNews TV telah memancing perhatian publik.

TIMES Indonesia,
Salman A Ridwan
Salman A Ridwan - Kopi Times
Ketika Debat Kehilangan Makna
Ilustrasi foto dari Gemini AI
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

JAKARTA Perdebatan yang melibatkan Permadi Arya, Feri Amsari, dan Ikrar Nusa Bhakti dalam acara Rakyat Bersuara (10/03/2026) di iNews TV telah memancing perhatian publik. Acara yang awalnya membicarakan tentang geopolitik khususnya tentang Palestina dan relasi Indonesia—Amerika Serikat malam itu, telah menampilkan ketegangan verbal di dalam studio. Potongan videonya pun segera menyebar luas di jagat media sosial.

Rekaman video yang viral itu menunjukkan Permadi Arya beradu argumen dengan nada tajam, bahkan beberapa kali memotong penjelasan Feri Amsari dan Ikrar Nusa Bhakti dan memancing reaksi serta peringatan dari Aiman Wicaksono sebagai moderator. Ketika ketegangan tak mereda, moderator akhirnya meminta dia keluar, demi menjaga siaran tetap terkendali.

Advertisement

Di ruang studio itu, terdengar suara para narasumber yang semakin meninggi, interupsi berulang, dan jeda terpaksa dipaksakan, namun masih terekam kamera, dan publik menyaksikannya.

Bagi sebagian pihak, perdebatan itu akan dianggap sebagai keberanian berbicara secara lantang. Namun ada juga yang menganggapnya tanda merosotnya kualitas diskusi publik. Meski demikian, apa yang kita saksikan dari peristiwa itu telah mengundang pertanyaan yang sangat mendasar: apakah diskusi yang kita saksikan itu masih pantas untuk disebut sebagai debat, atau sekadar pertengkaran emosional yang menyerupai debat?

Usaha Menggali Kebenaran

Dalam sejarah intelektual yang sangat tua, debat bukanlah sekadar pertunjukkan adu bicara. Ia adalah sebuah cara manusia untuk menguji suatu gagasan. Filsuf Yunani kuno seperti Socrates menggunakan debat sebagai metode untuk menggali kebenaran dengan berbagai pertanyaan untuk menelusuri sebuah asumsi dan menimbang logis tidaknya suatu pernyataan.

Debat, dalam hal ini bukan bermaksud untuk mempermalukan lawan bicara. Ia bertolak dari keyakinan yang sederhana namun sangat mendalam, yaitu mencari kebenaran yang lebih mungkin ditemukan melalui pertukaran gagasan yang sabar dan rasional. Jika ada perbedaan sudut pandang, bukan berarti hal itu menjadi ancaman, namun justru dapat menjadi bahan yang memperkaya gagasan.

Advertisement

Dalam arti ini, debat bukanlah suatu pencapaian kemenangan retoris. Ia adalah proses bersama untuk memperjelas setiap kerancuan dalam suatu pemahaman yang dianggap benar.

Masalahnya, ketika debat telah berpindah dari ruang intelektual ke panggung layar kaca, logika yang bekerja terkadang telah mengalami perubahan. Kita patut curiga, bahwa setiap tayangan televisi tidak semata-mata berfungsi sebagai media untuk menyampaikan informasi, tetapi ia juga berfungsi sebagai media untuk mereproduksi perhatian publik. Dalam logika ekonomi, konflik yang muncul secara dramatis dapat dijadikan sebagai daya tarik untuk meningkatkan rating.

Bagi beberapa pihak yang menonton, adanya ketegangan, interupsi yang tidak terkontrol, dan emosi dalam perdebatan kerap dianggap lebih menarik daripada tontonan yang menampilkan penjelasan-penjelasan jernih dan rasional. Adanya ketegangan adalah sesuatu yang lebih sensasional.

Namun munculnya ketegangan seperti itu, secara perlahan, sadar atau tidak sadar telah menggeser makna dari debat itu sendiri. Para narasumber sering terbawa arus yang menempatkan posisinya tidak lagi sebagai subjek penyampai gagasan, tetapi lebih terlihat tampil sebagai aktor yang harus terlihat tegas dan paling benar di hadapan kamera. Debat pada akhirnya dimaknai hanya sebatas ajang untuk menunjukkan suatu performa.

Dengan keadaan seperti itu, diskusi publik akan sangat berisiko sebagai pertunjukkan simulasi dialog. Suatu perbincangan yang akan kehilangan arah dari tujuan utamanya: untuk saling memahami. Karena diskusi akan terfokus pada upaya untuk membangun citra dan perhatian publik, daripada upaya menggali sebuah kebenaran.

Dampaknya, argumentasi yang harusnya ditopang oleh fakta, data, dan pemikiran logis telah berubah menjadi senjata retorika yang membabi buta. Dan lawan bicara, ditempatkan sebagai pihak antagonis yang harus ditelanjangi.

Hilangnya Tradisi Mendengar

Di balik ketegangan itu semua, ada juga persoalan yang telah hilang, yakni langkanya tentang kemampuan para narasumber untuk mendengar di dalam ruang publik kita.

Dalam debat, mendengar bukanlah semata-mata diam menunggu giliran untuk berbicara. Mendengar berarti membuka kemungkinan bahwa argumen lawan bicara telah mengandung sesuatu yang layak untuk digugat dan dipertimbangkan.

Mendengar adalah sikap yang menuntut kerendahan hati intelektual. Sikap untuk bersedia menangguhkan keyakinan diri sendiri dan lawan bicara. Mendengar adalah jeda, untuk memahami kembali tentang apa yang diungkapkan dan titik temu antara sudut pandang yang berbeda.

Sikap semacam itu kini semakin jarang muncul dalam budaya debat yang sangat kompetitif. Ketika kemampuan mendengar menghilang, maka percakapan dalam panggung debat akan berubah menjadi rangkaian monolog yang saling bertabrakan. Ia tidak lagi menghasilkan pemahaman baru. Ia hanya menjadi tameng untuk memperkuat keyakinan yang sudah ada.

Fenomena itu telah mencerminkan suatu perubahan yang lebih luas dalam budaya komunikasi kita. Yakni, ruang sosial yang penuh kebisingan. Di mana pernyataan-pernyataan setiap orang yang lebih dominan telah dibangun oleh emosi ketimbang argumentasi.

Mungkin cara itu dilakukan agar lebih mudah menarik perhatian. Karena dalam ruang publik yang dipenuhi oleh suara, kecepatan untuk memotong percakapan dianggap harus lebih cepat daripada lesatan peluru—ia dianggap lebih penting daripada kedalaman sebuah refleksi.

Paradoks seperti itu pun menunjukkan suatu hal: semakin banyak orang berbicara, semakin sedikit ruang untuk berpikir. Padahal, cara sebuah masyarakat berdebat sering tercermin dari kualitas ruang publiknya.

Sebagai Ruang Refleksi

Jika setiap perbedaan pandangan selalu disambut oleh kemarahan atau ejekan, makna ruang dialog perlahan menyempit. Sebaliknya, ketika perbedaan diperlakukan sebagai kesempatan untuk memperkaya perspektif, maka debat pun dapat menjadi sarana pembelajaran bersama.

Debat yang sehat sebenarnya membutuhkan sesuatu yang sederhana tetapi semakin langka, yaitu ruang refleksi. Dalam percakapan yang baik, terkadang seseorang membutuhkan waktu untuk merenungkan sebuah pernyataan atau sikap sejenak untuk mempertimbangkan argumen, menimbang fakta, dan memahami sudut pandang yang berbeda.

Refleksi seperti itu mungkin tidak memiliki makna yang dramatis bagi televisi. Namun justru di sanalah pemahaman sebenarnya itu berkembang. Tanpa ruang refleksi, percakapan dalam perdebatan akan mudah berubah sekadar menjadi kebisingan yang tidak produktif.

Apa yang kita lihat dari peristiwa di sebuah studio televisi mungkin hanya berlangsung beberapa menit saja. Tetapi, di balik tayangan itu, ada pantulan persoalan yang lebih luas, tentang bagaimana masyarakat dapat mengambil makna dari hasil percakapan itu.

Dalam kultur demokrasi, kualitas demokrasi tidak hanya sebatas ditentukan oleh adanya kebebasan berbicara. Ia juga ditentukan oleh kemampuan untuk menunda respons, berpikir dengan nalar, dan mendengarkan dengan cara yang sungguh-sungguh suatu percakapan.

Sebab tanpa kemampuan itu, debat mungkin akan terus berlangsung, namun pemahaman untuk merefleksikan masalah yang dibicarakan tidak pernah benar-benar bertambah. Sebuah paradoks yang mencerminkan hilangnya makna debat itu sendiri. (*)

***

*) Oleh : Salman A Ridwan, Guru.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia