SURABAYA – Di tengah geliat pariwisata di Kabupaten Banyuwangi, pelaksanaan Seblang Olehsari kembali menjadi sorotan publik. Tradisi sakral yang digelar masyarakat Desa Olehsari ini tidak hanya menghadirkan daya tarik budaya, tetapi juga memantik tentang arah pelestarian tradisi di tengah arus modernisasi.
Seblang bukan sekadar tarian. Ia adalah ritual yang sarat makna spiritual, dijalankan dengan rangkaian prosesi yang diyakini mampu menjaga keseimbangan antara manusia dan alam sekaligus untuk bersih desa atau selamatan desa.
Penari yang terpilih biasanya perempuan muda dan merupakan turunan dari penari sebelumnya (turun-temurun). Penari seblang menari dalam kondisi tidak sadarkan diri, diiringi musik tradisional ciri khas seblang olehsari. Dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri dan dilakukan selama 7 hari berturut-turut.
Seiring meningkatnya perhatian publik atau masyarakat dan masuknya Seblang dalam agenda pariwisata daerah Kabupaten Banyuwangi seperti Banyuwangi Festival, muncul pergeseran cara pandang. Ribuan wisatawan yang datang setiap tahun membawa dampak ekonomi yang nyata bagi warga. Warung ramai, penginapan terisi, dan pelaku UMKM merasakan manfaat langsung. Di titik ini, Seblang berperan sebagai penggerak ekonomi lokal.
Akan tetapi, di balik euforia tersebut, ada kekhawatiran yang tidak bisa diabaikan. Ketika ritual sakral di dokumentasikan secara berlebihan untuk kebutuhan media sosial, secara perlahan dapat menggeser makna asli dari tradisi itu sendiri. Fenomena ini menunjukkan dilema dalam pelestarian budaya antara menjaga keaslian atau membuka ruang adaptasi.
Jika terlalu tertutup, tradisi berisiko ditinggalkan generasi muda. Namun jika terlalu terbuka pada komersialisasi, nilai-nilai sakral justru bisa terkikis. Di sinilah pentingnya peran masyarakat sebagai penjaga utama tradisi, bukan sekadar pelaksana.
Seblang Olehsari seharusnya tidak hanya dilihat sebagai agenda tahunan atau atraksi wisata, tetapi sebagai cerminan identitas budaya yang hidup. Upaya pelestarian perlu diarahkan pada keseimbangan memanfaatkan potensi ekonomi tanpa mengorbankan nilai-nilai yang diwariskan leluhur.
Keberlangsungan Seblang bukan ditentukan oleh seberapa banyak wisatawan yang datang, melainkan oleh seberapa kuat masyarakatnya mempertahankan makna di balik setiap gerak dan ritual. Jika keseimbangan itu terjaga, Seblang tidak hanya akan bertahan, tetapi juga tetap relevan di tengah perubahan zaman.
***
*) Oleh : Aditya Ferdana Putra, Mahasiswa.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.