Advertisement
Kopi TIMES

Meluruskan Netizen: UIN Berpijak Lokal, Berdampak Global

UIN Madura, adalah institusi yang berbenah, berinovasi, dan berkontribusi secara nyata bagi kemajuan pendidikan nasional dan reputasi akademik Indonesia di mata dunia.

TIMES Indonesia,
Meluruskan Netizen: UIN Berpijak Lokal, Berdampak Global
H. Muhammad Taufiq, Ph.D., Dekan Fakultas Syariah, UIN Madura.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

PAMEKASAN Akhir-akhir ini, di tengah konflik Timur Tengah, media sosial diramaikan oleh sebuah cuitan yang menyerukan agar Universitas Islam Negeri (UIN) yang berada di bawah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Kementerian Agama, menghentikan pencetakan lulusan, dengan alasan bahwa skill lulusannya dianggap berada di bawah standar rata-rata.

Pernyataan tersebut menyebar dengan cepat dan memantik beragam reaksi publik. Namun, alih-alih merespons dengan emosi, sudah sepatutnya kita menempatkan persoalan ini dalam bingkai yang lebih jernih, objektif, dan berbasis data.

Advertisement

Sebuah ironi ketika seruan untuk menghentikan operasional UIN justru muncul di tengah tren peningkatan yang signifikan dalam kualitas dan reputasi institusi-institusi tersebut di tingkat internasional. Data terbaru dan otoritatif dari lembaga pemeringkatan dunia berbicara dengan sangat jelas.

Berdasarkan QS World University Rankings by Subject 2026 yang dirilis pada 26 Maret 2026, tiga PTKIN berhasil menembus peringkat dunia dalam bidang Theology, Divinity & Religious Studies, yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di peringkat ke-29, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di peringkat ke-37, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang di peringkat ke-130.

Capaian UIN Jakarta ini mencerminkan lompatan yang luar biasa dalam waktu singkat. Pada QS World University Rankings by Subject 2025, UIN Jakarta masih berada pada peringkat 101–150 dunia, dan pada edisi 2024 berada pada rentang 101–140 dalam bidang yang sama. Kenaikan ke peringkat 29 dunia pada 2026 menunjukkan akselerasi kualitas akademik dan riset yang semakin kuat dan berdaya saing internasional. 

Dengan posisi tersebut, UIN Jakarta berhasil mengungguli sejumlah perguruan tinggi ternama dunia, antara lain Fordham University (30), University of Birmingham (31), Université catholique de Louvain (32), University of Aberdeen (33), hingga Al-Azhar University (36).

Tidak hanya dalam bidang studi keagamaan, PTKIN juga menunjukkan daya saing dalam ranah riset dan hukum. Berdasarkan SCImago Institutions Rankings 2026, UIN Sunan Kalijaga menempati peringkat ke-7 dunia, UIN Ar-Raniry Banda Aceh di peringkat ke-14, UIN Syarif Hidayatullah di peringkat ke-21, dan UIN Sunan Gunung Djati di peringkat ke-25 dalam kategori Penguatan Riset dan Inovasi Berbasis Keagamaan. 

Advertisement

Sementara itu, dalam kategori Fakultas Hukum Terbaik Tingkat Internasional, UIN Ar-Raniry Banda Aceh mencapai peringkat ke-131 dunia atau terbaik kedua di Indonesia mengungguli Universitas Indonesia yang berada di peringkat ke-257 dunia atau peringkat ke-4 di Indonesia, diikuti UIN Sunan Kalijaga di peringkat ke-262 atau peringkat ke-5 di Indonesia, dan UIN Syarif Hidayatullah di peringkat ke-272 atau peringkat ke-6 di Indonesia. 

Capaian ini mendapatkan apresiasi dari Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, M.A. Menurutnya, di tengah ketatnya persaingan global, hanya sedikit perguruan tinggi di Indonesia bahkan di Asia yang mampu menembus 50 besar dunia pada bidang studi tertentu.

Kepercayaan Publik sebagai Indikator Nyata

Selain capaian akademik formal, terdapat indikator lain yang tidak kalah sahih dalam mengukur kualitas sebuah institusi pendidikan tinggi, yakni kepercayaan masyarakat yang diwujudkan melalui minat pendaftaran.

Penyelenggaraan Seleksi Prestasi Akademik Nasional (SPAN-PTKIN) tahun 2026 mencatat animo yang luar biasa, dengan total 143.948 pendaftar dari 12.174 satuan pendidikan, mulai dari MA/MAK, SMA/SMK, hingga lembaga pendidikan keagamaan seperti pesantren dan pendidikan diniyah formal. 

Persaingan untuk masuk PTKIN pun semakin ketat. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebagai contoh, mencatat 26.886 pendaftar pada jalur SPAN-PTKIN 2026, sementara kuota yang tersedia hanya 1.758 kursi yang tersebar di 25 program studi keagamaan.

Tren peningkatan ini juga bukan fenomena sesaat. Di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, jumlah pendaftar pada 2025 mencapai 37.202 orang, meningkat signifikan dibandingkan 28.565 pendaftar pada 2024. 

Hasil survei pun memperkuat gambaran ini. Sebanyak 97,3 persen responden meyakini bahwa kualitas PTKIN mampu bersaing dengan perguruan tinggi lainnya, sementara 96,7 persen menilai lulusan PTKIN memiliki prospek kerja yang sangat kompetitif.

Menyamaratakan kualitas seluruh lulusan dari ribuan program studi di berbagai UIN sebagai "di bawah rata-rata" adalah sebuah generalisasi yang tidak hanya tidak adil, tetapi juga tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 

Standar penilaian yang adil mensyaratkan komparasi yang setara, indikator yang terukur, dan data yang dapat diverifikasi. Tanpa ketiganya, sebuah klaim tidak lebih dari opini tanpa fondasi.

Komitmen UIN terhadap kualitas tidak hanya tercermin dalam peringkat akademik, tetapi juga dalam inovasi kelembagaan. Pada tahun 2026, PMB-PTKIN memperkenalkan inovasi strategis berupa pemetaan kesehatan mental bagi calon mahasiswa, sebagai bukti bahwa PTKIN tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan psikologis mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan. 

Selain itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah PTKIN, jumlah pendaftar dari madrasah melampaui jumlah pendaftar dari sekolah umum, penanda bahwa ekosistem pendidikan Islam Indonesia semakin solid dan saling menopang secara vertikal.

UIN Madura: Bukti Bahwa Keunggulan Tidak Mengenal Batas Geografi

Jika narasi negatif tentang UIN ingin menyasar kampus-kampus di luar Jawa atau yang dianggap “kurang terkemuka”, maka UIN Madura dari Pamekasan hadir sebagai sanggahan yang paling telak. 

Dalam beberapa tahun terakhir, institusi yang baru bertransformasi dari IAIN menjadi UIN ini mencatat serangkaian capaian internasional yang patut menjadi perhatian nasional.

Dalam hal kolaborasi akademik global, UIN Madura bersama Universitas Istanbul, Turki, sukses menyelenggarakan Simposium Internasional Sains Islam 2025 sebuah forum yang menempatkan kampus dari ujung Pulau Madura ini sebagai mitra setara lembaga pendidikan Islam dari negara dengan tradisi keilmuan Islam yang kaya. 

Tidak cukup di sana, dosen Fakultas Syariah UIN Madura juga aktif berpartisipasi dalam program kolaborasi internasional penguatan jurnal ilmiah yang diselenggarakan di Academy of Islamic Studies, Universiti Malaya (UM) Kuala Lumpur, berfokus pada penguatan tata kelola jurnal bereputasi internasional dalam bidang hukum Islam, syariah, dan ilmu sosial keislaman.

Lebih jauh ke barat, Fakultas Syariah UIN Madura resmi menjalin kolaborasi internasional dengan Fakultas Syariah Université Sidi Mohamed Ben Abdellah, Maroko, melalui penandatanganan Letter of Intent pada 13 Februari 2026. 

Secara factual, kolaborasi dimulai dengan kolaborasi riset tentang Fikih Mitigasi Pandemi pada tahun 2024, dan berhasil publish di jurnal Scopus Q1 De Jure pada 2025. Kolaborasi lintas kawasan Asia Tenggara dan Afrika Utara ini dipandang strategis dalam menghadirkan perspektif komparatif dan relasi syariah dan negara. 

Capaian yang mungkin paling berbicara tentang mutu akademik UIN Madura adalah keberhasilan dua jurnalnya menembus indeksasi Scopus standar tertinggi pengakuan publikasi ilmiah internasional Scopus. 

Dua jurnal tersebut adalah Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial dan Karsa: Jurnal Sosial dan Budaya Keislaman, yang memperkuat posisi UIN Madura dalam peta keilmuan global, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. 

Pengakuan ini diberikan oleh The Scopus Content Selection and Advisory Board (CSAB), lembaga pengindeks internasional bergengsi di bawah Elsevier, yang beranggotakan para ilmuwan, peneliti, dan pustakawan dari berbagai disiplin ilmu di seluruh dunia.

Rektor UIN Madura, Dr. Saiful Hadi, menyambut capaian ini dengan menggarisbawahi maknanya bagi ekosistem keilmuan yang lebih luas: bahwa keunggulan akademik bukan monopoli kampus-kampus besar di kota metropolitan, melainkan dapat tumbuh dari mana saja, termasuk dari tanah Madura yang selama ini lebih dikenal dengan tradisi pesantrennya yang kuat.

Alhasil, UIN tidak memerlukan pembelaan yang bersifat apologetik. Yang ia butuhkan adalah keadilan dalam penilaian dan kejujuran dalam membaca data. Dan data sebagaimana telah diuraikan secara rinci di atas menunjukkan bahwa UIN, dari yang terbesar hingga yang tengah bertumbuh seperti UIN Madura, adalah institusi yang berbenah, berinovasi, dan berkontribusi secara nyata bagi kemajuan pendidikan nasional dan reputasi akademik Indonesia di mata dunia.

Yang perlu dihentikan bukanlah pencetakan lulusan UIN. Yang perlu dihentikan adalah penyebaran narasi yang menyesatkan, tidak berdasar, dan berpotensi melemahkan fondasi pendidikan tinggi Islam yang telah dibangun dengan susah payah oleh bangsa ini. 

UIN bukan institusi yang perlu dibubarkan. Ia adalah institusi yang sedang dan terus bertumbuh dan itu bukan sekadar opini, melainkan fakta yang tervalidasi oleh lembaga-lembaga pemeringkatan paling otoritatif di dunia.

***

*) Oleh : H. Muhammad Taufiq, Ph.D., Dekan Fakultas Syariah, UIN Madura.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia