Advertisement
Kopi TIMES

Krisis Keteladanan di Era Digital

Kemajuan teknologi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat yang kita miliki, tetapi juga oleh kualitas nilai yang kita bawa dalam menggunakannya.

TIMES Indonesia,
Krisis Keteladanan di Era Digital
Jakfar Shodiq, Mahasiswa Internasional Master Program in National Pingtung University Taiwan.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

Jakarta Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh wajah kehidupan manusia, termasuk cara masyarakat belajar, menilai, dan meneladani seseorang. Jika pada masa lalu figur teladan lahir dari proses panjang pengabdian, karya, dan integritas, maka di era digital figur tersebut dapat muncul dalam waktu yang sangat singkat melalui popularitas di ruang media sosial. 

Perubahan ini menghadirkan dinamika baru dalam kehidupan sosial, khususnya bagi generasi muda yang menjadikan ruang digital sebagai salah satu sumber utama referensi nilai dan perilaku.

Advertisement

Fenomena ini menunjukkan bahwa otoritas keteladanan dalam masyarakat sedang mengalami pergeseran. Jika sebelumnya masyarakat banyak menjadikan tokoh agama, guru, atau pemimpin masyarakat sebagai rujukan moral, kini figur tersebut bersaing dengan para influencer digital yang memiliki pengaruh luas melalui platform media sosial. 

Kehadiran platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube telah menciptakan ruang baru bagi lahirnya figur-figur publik yang dikenal luas oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

Di satu sisi, fenomena ini sebenarnya membuka peluang besar bagi lahirnya teladan baru di ruang digital. Siapa pun yang memiliki gagasan, kreativitas, serta kemampuan komunikasi yang baik dapat menjangkau jutaan orang tanpa harus melalui institusi formal. 

Namun di sisi lain, popularitas digital sering kali tidak selalu berjalan seiring dengan kualitas keteladanan. Banyak figur yang dikenal luas karena sensasi, hiburan, atau kontroversi, tetapi tidak selalu menghadirkan nilai yang konstruktif bagi kehidupan sosial.

Kondisi ini memperlihatkan adanya paradoks dalam kehidupan masyarakat modern. Akses terhadap pengetahuan semakin terbuka, tetapi pada saat yang sama masyarakat juga menghadapi banjir informasi yang tidak selalu menghadirkan nilai yang mendidik. 

Advertisement

Generasi muda dapat dengan mudah menemukan berbagai bentuk ekspresi kehidupan di media sosial, tetapi tidak semua yang mereka temui dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi yang sehat.

Dalam perspektif sosiologi modern, perubahan ini berkaitan erat dengan transformasi struktur otoritas dalam masyarakat. Pemikir sosial seperti Max Weber menjelaskan bahwa otoritas dalam kehidupan sosial dapat terbentuk melalui berbagai sumber, termasuk tradisi, rasionalitas, maupun kharisma personal. 

Di era digital, bentuk otoritas kharismatik tampaknya semakin dominan, di mana seseorang dapat memperoleh pengaruh besar melalui daya tarik personal dan kemampuan membangun citra di ruang publik.

Masalahnya, kharisma digital sering kali dibangun melalui mekanisme algoritma yang lebih mengutamakan popularitas daripada kedalaman nilai. Konten yang cepat menarik perhatian cenderung lebih mudah menyebar dibandingkan konten yang bersifat reflektif dan edukatif. Akibatnya, ruang digital sering dipenuhi oleh konten hiburan, sensasi, bahkan konflik yang secara psikologis lebih mudah menarik perhatian publik.

Di tengah situasi ini, generasi muda menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka hidup dalam ekosistem informasi yang sangat terbuka, tetapi pada saat yang sama harus berhadapan dengan beragam figur publik yang tidak semuanya memiliki kualitas keteladanan yang kuat. Tanpa kemampuan literasi digital yang memadai, generasi muda berpotensi menjadikan popularitas sebagai ukuran utama dalam menilai seseorang.

Padahal dalam tradisi pendidikan, keteladanan memiliki posisi yang sangat penting dalam pembentukan karakter manusia. Sejak lama para pemikir pendidikan menekankan bahwa manusia belajar tidak hanya melalui pengetahuan, tetapi juga melalui contoh nyata yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan menjadi jembatan antara nilai yang diajarkan dengan perilaku yang dipraktikkan.

Dalam konteks ini, krisis keteladanan sebenarnya bukan semata-mata masalah individu, tetapi juga berkaitan dengan perubahan ekosistem sosial yang lebih luas. Ketika ruang publik lebih banyak diisi oleh konten yang berorientasi pada popularitas, maka figur teladan yang lahir melalui proses panjang pengabdian sering kali tenggelam di tengah arus informasi yang sangat cepat.

Di sinilah pentingnya menghadirkan kembali narasi keteladanan dalam ruang publik digital. Keteladanan tidak selalu harus hadir dalam bentuk figur besar atau tokoh nasional. Ia dapat muncul melalui berbagai praktik kehidupan sehari-hari yang menunjukkan integritas, kejujuran, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama. Tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai tersebut dapat dihadirkan secara kreatif dalam ruang digital yang dinamis.

Pendidikan memiliki peran penting dalam menghadapi situasi ini. Sekolah dan perguruan tinggi tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun kemampuan kritis generasi muda dalam memahami realitas digital. 

Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan menilai informasi, memahami konteks, serta membedakan antara popularitas dan kualitas nilai.

Selain itu, keluarga tetap menjadi ruang pertama dalam pembentukan keteladanan. Orang tua tidak hanya berperan memberikan nasihat, tetapi juga menghadirkan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari. 

Ketika anak melihat konsistensi antara nilai yang diajarkan dengan perilaku yang dipraktikkan, maka keteladanan tersebut akan tertanam lebih kuat dibandingkan sekadar nasihat verbal.

Di era digital yang penuh dinamika ini, masyarakat memang tidak mungkin kembali pada struktur sosial masa lalu. Namun yang dapat dilakukan adalah membangun kesadaran baru bahwa ruang digital juga membutuhkan figur teladan yang mampu menghadirkan nilai-nilai konstruktif bagi kehidupan bersama. 

Popularitas tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran dalam menilai seseorang. Yang lebih penting adalah kontribusi nyata terhadap pembentukan masyarakat yang lebih beradab.

Kemajuan teknologi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan perangkat yang kita miliki, tetapi juga oleh kualitas nilai yang kita bawa dalam menggunakannya. Tanpa keteladanan yang kuat, ruang digital berisiko menjadi ruang yang bising oleh popularitas tetapi miskin oleh kebijaksanaan. 

Sebaliknya, ketika keteladanan mampu dihadirkan kembali dalam ruang digital, maka teknologi dapat menjadi sarana yang memperkuat peradaban manusia, bukan sekadar panggung popularitas semata.

***

*) Oleh : Jakfar Shodiq, Mahasiswa Internasional Master Program in National Pingtung University Taiwan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia