Ketika Guru Salah Mendidik Murid
Saya masih percaya pada murid-murid saya. Bukan karena saya naif, tapi karena setiap hari saya melihat sendiri bagaimana mereka bersinar ketika diberi kesempatan yang layak.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Tujuh tahun saya mengajar, dan satu hal yang selalu saya yakini “tidak ada murid yang bodoh”. Yang ada murid yang lapar, ada yang kelelahan setelah membantu orang tua di ladang, ada yang duduk di bangku paling belakang karena matanya rabun dan tak punya uang untuk membeli kacamata. Tapi bodoh? Tidak.
Keyakinan itulah yang langsung terlintas ketika saya membaca berita tentang Indonesia menempati peringkat ke-126 dari 137 negara dalam laporan rata-rata IQ dunia tahun 2026. Skor kita 89,96 turun hampir tiga poin dari tahun lalu. Angka ini kemudian ramai dibicarakan, dibagikan, dan yang paling menyedihkan dijadikan bahan tertawaan tentang diri kita sendiri.
Tentu, saya tidak marah dengan angka itu. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk sebentar berhenti, menarik napas, dan bertanya, angka ini sebenarnya mengukur apa?
Tesnya Sendiri Punya Masalah
Laporan ini dibuat oleh lembaga bernama International IQ Test (IIT). Cara kerjanya sederhana, siapa saja yang punya akses internet bisa membuka situs mereka dan mengerjakan tes. Dari seluruh dunia, sekitar 1,2 juta orang ikut serta sepanjang 2025. Data itulah yang kemudian diolah menjadi peringkat IQ per negara.
Nah, di sinilah masalahnya mulai terlihat. Siapa yang kemungkinan besar akan membuka situs tes IQ daring secara sukarela? Tentu orang yang punya koneksi internet, cukup melek teknologi untuk menavigasi situs berbahasa Inggris, dan punya waktu luang untuk iseng mengerjakan tes semacam itu.
Di Indonesia yang 275 juta jiwa, tersebar di 17.000 pulau lebih, profil itu jelas belum menggambarkan kita semua. Sebagian besar yang mengikuti tes ini kemungkinan besar adalah warga kota yang terdidik bukan petani di Flores, bukan nelayan di Maluku, bukan penenun di pedalaman Kalimantan.
IIT sendiri sebenarnya jujur mengakui keterbatasan ini. Mereka menyebutnya internet access bias. Tapi pengakuan itu tenggelam jauh di bawah halaman, sementara angka peringkatnya terlanjur viral. Sebagai guru, saya tahu betul: kalau soal ujiannya tidak adil sejak awal, hasilnya pun tidak bisa dijadikan patokan.
IQ Bukan Takdir, Itu Buah dari Lingkungan
Tapi mari kita jujur juga. Bahkan jika kita mengesampingkan kelemahan metodologi tadi, kita tetap tidak bisa pura-pura semuanya baik-baik saja. Ada realitas pendidikan kita yang memang perlu diperbaiki. Dan data IQ dengan segala keterbatasannya bisa menjadi salah satu sinyal untuk itu.
Yang perlu kita luruskan adalah cara membacanya. IQ bukan sesuatu yang ditetapkan sejak lahir dan tidak bisa berubah. Peneliti bernama James Flynn menemukan fenomena menarik: rata-rata skor IQ di hampir semua negara yang diteliti naik sekitar tiga poin setiap sepuluh tahun. Bukan karena manusia berevolusi menjadi lebih pintar secara genetik, tapi karena lingkungan hidupnya membaik gizi lebih baik, sekolah lebih terjangkau, stimulasi berpikir makin banyak.
Vietnam adalah contoh yang paling dekat dan paling menohok. Dua dekade lalu, kondisi pendidikan Vietnam tidak jauh berbeda dari kita. Kini mereka ada di peringkat ke-10 dunia dengan skor 102,26 dalam laporan yang sama. Rahasianya bukan pada gen atau keberuntungan, melainkan pada investasi pendidikan yang konsisten, serius, dan terukur. Kalau tetangga bisa, mengapa kita tidak?
Yang Saya Lihat di Ruang Kelas Setiap Hari
Dari dalam ruang kelas, saya melihat masalah kita dengan sangat jelas. Anak-anak datang ke sekolah dengan semangat, tapi banyak yang duduk dengan perut kosong. Lebih dari 21 persen anak Indonesia di bawah usia lima tahun mengalami stunting kondisi kurang gizi kronis yang secara langsung menghambat perkembangan otak. Otak yang tidak mendapat asupan yang cukup di tahun-tahun awal kehidupan akan menanggung beban itu seumur hidup, sepintar apa pun gurunya.
Masalah berikutnya adalah soal guru itu sendiri. Negara mengalokasikan 20 persen APBN untuk pendidikan angka yang besar di atas kertas. Tapi saya bertanya-tanya: berapa banyak dari uang itu yang benar-benar sampai ke kelas sains di sekolah terpencil Papua? Berapa banyak guru yang terlatih dengan baik untuk mengajarkan berpikir kritis, bukan sekadar menghafal rumus demi lulus ujian?
Dan ada satu lagi yang kerap luput dari perhatian: kurikulum kita masih terlalu akrab dengan menghafal dan terlalu asing dengan bertanya. Padahal justru kemampuan bertanya, mempertanyakan, dan menalar itulah yang sesungguhnya diukur oleh tes-tes semacam ini dan yang jauh lebih penting, itulah yang dibutuhkan anak-anak kita untuk menghadapi dunia yang terus berubah.
Bukan Meratap, tapi Bergerak
Jadi apa yang seharusnya kita lakukan dengan berita ini? Bukan meratap, bukan juga terburu-buru membela diri. Yang kita butuhkan adalah tiga langkah nyata.
Pertama, pastikan anak-anak Indonesia tidak lagi datang ke sekolah dalam keadaan lapar. Program Makan Bergizi Gratis yang sedang dijalankan pemerintah adalah niat yang baik tapi niat saja belum cukup. Program itu harus dikawal ketat agar benar-benar sampai ke anak-anak yang paling membutuhkan, bukan berhenti di laporan kertas administrasi.
Kedua, investasikan lebih serius pada guru bukan hanya soal gaji, tapi soal kualitas. Guru yang terlatih baik, yang senang belajar, dan yang percaya pada potensi muridnya adalah kunci yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun. Vietnam membuktikan bahwa transformasi kualitas pendidikan bisa terjadi dalam satu generasi jika kebijakan guru diperlakukan sebagai prioritas, bukan sekadar anggaran rutin.
Ketiga, ajari anak-anak dan kita sendiri untuk tidak mudah menelan angka tanpa bertanya. Berita tentang peringkat IQ ini adalah kesempatan emas untuk melatih literasi data: dari mana angka ini berasal? Siapa yang mengukur? Dengan cara apa? Apakah sampelnya mewakili kita? Bangsa yang bisa berpikir seperti itu jauh lebih cerdas dari bangsa yang hanya tahu skor IQ-nya tinggi.
Saya masih percaya pada murid-murid saya. Bukan karena saya naif, tapi karena setiap hari saya melihat sendiri bagaimana mereka bersinar ketika diberi kesempatan yang layak. Yang perlu berubah bukan mereka, yang perlu berubah adalah ekosistem di sekitar mereka: gizi yang cukup, guru yang baik, dan sekolah yang mengajarkan mereka untuk berpikir, bukan sekadar untuk lulus. Peringkat ke-126 bukan hukuman mati. Itu panggilan untuk berbenah. Dan saya yakin kita bisa.
***
*) Oleh : Ahmad Ulul Albab, S.Pd., M.Pd., Guru SD Negeri 5 Ampelgading kec. Tirtoyudo, Kabupaten Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


