Advertisement
Kopi TIMES

Paradoksal Transisi Energi

Transisi energi adalah salah satu bentuk keputusan tersebut, sebuah langkah yang akan menentukan arah pembangunan sekaligus keberlanjutan kehidupan di masa mendatang.

TIMES Indonesia,
Isna Asaroh
Isna Asaroh - Kopi Times
Paradoksal Transisi Energi
Isna Asaroh, Ketua Bidang Advokasi, Hukum, Gerakan dan Pemberdayaan Masyarakat KOPRI PKC PMII Jawa Timur.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

SURABAYA Perubahan iklim global telah bergeser dari sekadar diskursus ilmiah menjadi realitas yang semakin konkret dan tidak terelakkan. Kenaikan suhu rata-rata bumi, pergeseran pola musim, hingga meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi menunjukkan bahwa krisis lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kondisi yang sedang berlangsung.

Di berbagai wilayah, dampaknya telah dirasakan secara langsung, mulai dari kekeringan berkepanjangan, banjir yang semakin intens, hingga terganggunya produksi pangan akibat ketidakpastian iklim.

Advertisement

Situasi ini memperlihatkan satu benang merah yang tidak bisa diabaikan, yakni model pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam, khususnya energi fosil, telah mencapai batasnya.

Batu bara, minyak, dan gas memang telah mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan, tetapi pada saat yang sama juga menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar. Emisi inilah yang kemudian menjadi faktor utama dalam mempercepat perubahan iklim.

Dalam konteks tersebut, krisis lingkungan hari ini tidak dapat dilepaskan dari cara energi diproduksi dan dikonsumsi. Ketergantungan terhadap energi fosil bukan hanya menciptakan tekanan ekologis, tetapi juga menimbulkan kerentanan baru dalam sistem ekonomi dan sosial. Ketika sumber energi yang digunakan bersifat tidak berkelanjutan, maka dampaknya akan menjalar ke berbagai sektor kehidupan, mulai dari kesehatan, pangan, hingga stabilitas ekonomi.

Kondisi lingkungan saat ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap ekosistem semakin meningkat. Deforestasi, polusi udara, serta degradasi sumber daya air menjadi indikator nyata bahwa keseimbangan lingkungan telah terganggu.

Di wilayah perkotaan, kualitas udara yang menurun berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Sementara itu, di sektor pertanian, perubahan pola curah hujan membuat produktivitas menjadi tidak stabil. Ketidakpastian ini pada akhirnya memengaruhi harga pangan dan daya beli masyarakat.

Advertisement

Lebih jauh lagi, krisis lingkungan juga memperlihatkan dimensi ketidakadilan yang cukup tajam. Kelompok masyarakat yang memiliki kontribusi emisi relatif kecil justru sering menjadi pihak yang paling terdampak. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bukan hanya isu ekologis, tetapi juga isu sosial dan ekonomi yang kompleks.

Dalam situasi seperti ini, transisi energi muncul sebagai salah satu solusi yang paling banyak dibicarakan. Secara konseptual, transisi energi merujuk pada peralihan dari penggunaan energi fosil menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan, seperti tenaga surya, angin, air, dan panas bumi. Tujuannya tidak hanya untuk menurunkan emisi, tetapi juga untuk menciptakan sistem energi yang lebih resilien dan ramah lingkungan.

Dalam praktiknya, transisi energi tidak berjalan dalam ruang yang netral. Ia berhadapan dengan berbagai kepentingan ekonomi dan politik yang telah mengakar selama puluhan tahun. Di banyak negara, termasuk Indonesia, energi fosil masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional. Selain sebagai sumber listrik utama, sektor ini juga memiliki kontribusi signifikan terhadap pendapatan negara dan lapangan kerja.

Di sinilah muncul paradoks dalam transisi energi. Di satu sisi, terdapat kesadaran yang semakin kuat tentang pentingnya beralih ke energi bersih. Di sisi lain, ketergantungan terhadap energi fosil masih sangat tinggi. Kondisi ini menciptakan situasi di mana komitmen terhadap transisi energi sering kali tidak diikuti oleh perubahan yang signifikan dalam praktik.

Paradoks ini terlihat dalam berbagai kebijakan yang diambil. Target pengembangan energi terbarukan terus dicanangkan, namun pada saat yang sama investasi di sektor energi fosil masih berlangsung. Energi terbarukan berkembang, tetapi belum mampu menggantikan dominasi energi konvensional. Dalam banyak kasus, energi bersih hanya menjadi pelengkap, bukan pengganti.

Fenomena ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya menghadapi tantangan teknis, tetapi juga tantangan struktural. Perubahan sistem energi berarti mengubah struktur ekonomi yang sudah mapan, termasuk jaringan industri dan kepentingan yang terkait di dalamnya. Tanpa adanya keberanian politik untuk mengambil langkah yang lebih tegas, transisi energi berisiko terjebak dalam kondisi stagnan.

Selain itu, terdapat kecenderungan untuk melihat transisi energi sebagai persoalan teknologi semata. Padahal, perubahan ini juga menyangkut aspek sosial dan perilaku. Konsumsi energi yang terus meningkat menjadi salah satu faktor yang memperlambat proses transisi. Selama permintaan energi terus tumbuh tanpa kendali, maka upaya untuk menggantikan sumber energi tidak akan cukup untuk menekan emisi secara signifikan.

Dalam konteks ini, transisi energi harus dipahami sebagai proses yang menyeluruh. Ia tidak hanya berkaitan dengan penggantian sumber energi, tetapi juga perubahan cara pandang terhadap energi itu sendiri. Energi tidak lagi sekadar komoditas yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga bagian dari sistem yang menentukan keberlanjutan lingkungan.

Menghadapi krisis lingkungan yang semakin kompleks, kesiapan dalam menjalankan transisi energi menjadi hal yang sangat penting. Salah satu aspek utama adalah penguatan kebijakan yang konsisten dan berorientasi jangka panjang. Regulasi yang jelas dan tegas diperlukan untuk mendorong percepatan pengembangan energi terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur energi juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan transisi. Investasi dalam teknologi energi bersih harus ditingkatkan, termasuk dalam hal penyimpanan energi dan jaringan distribusi. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, pengembangan energi terbarukan akan sulit mencapai skala yang dibutuhkan.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah kesiapan sumber daya manusia. Transisi energi akan mengubah struktur pasar tenaga kerja, terutama di sektor energi. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan tenaga kerja agar dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa transisi energi tidak menciptakan kesenjangan sosial yang baru.

Selain itu, pendekatan yang inklusif juga menjadi kunci dalam memastikan keberhasilan transisi energi. Kebijakan yang diambil harus mempertimbangkan dampaknya terhadap berbagai kelompok masyarakat, terutama yang rentan. Tanpa adanya perhatian terhadap aspek keadilan, transisi energi berisiko memperdalam ketimpangan yang sudah ada.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, peran masyarakat tetap menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Perubahan dalam pola konsumsi energi, peningkatan efisiensi, serta kesadaran terhadap dampak lingkungan menjadi bagian penting dari proses transisi. Tanpa dukungan dari masyarakat, kebijakan yang ada akan sulit berjalan secara efektif.

Transisi energi bukan sekadar pilihan kebijakan, tetapi sebuah keharusan yang tidak dapat ditunda. Krisis lingkungan yang terjadi hari ini menunjukkan bahwa sistem yang ada tidak lagi mampu menjawab tantangan yang dihadapi. Perubahan arah pembangunan menjadi hal yang tidak terelakkan.

Namun demikian, keberhasilan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat perubahan dilakukan, tetapi juga oleh bagaimana perubahan tersebut dijalankan. Apakah ia mampu menciptakan sistem yang lebih berkelanjutan, adil, dan resilien, atau justru melahirkan permasalahan baru.

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan di tengah tekanan krisis lingkungan yang terus meningkat. Tanpa langkah yang lebih tegas dan terarah, transisi energi berisiko menjadi sekadar narasi tanpa perubahan nyata. Sebaliknya, dengan pendekatan yang komprehensif dan berorientasi jangka panjang, transisi energi dapat menjadi jalan untuk keluar dari krisis yang dihadapi saat ini.

Dengan demikian, masa depan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh kondisi alam, tetapi juga oleh keputusan yang diambil hari ini. Transisi energi adalah salah satu bentuk keputusan tersebut, sebuah langkah yang akan menentukan arah pembangunan sekaligus keberlanjutan kehidupan di masa mendatang.

***

*) Oleh : Isna Asaroh, Ketua Bidang Advokasi, Hukum, Gerakan dan Pemberdayaan Masyarakat KOPRI PKC PMII Jawa Timur.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia