Advertisement
Kopi TIMES

Pendidikan dan Wajah Kemanusiaan yang Terlupakan

Menjaga ruh pendidikan di tengah disrupsi digital bukan berarti menolak teknologi, melainkan mengarahkannya agar tetap selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.

TIMES Indonesia,
Mohamad Sinal
Mohamad Sinal - Kopi Times
Pendidikan dan Wajah Kemanusiaan yang Terlupakan
Mohamad Sinal, Corporate Legal Consultant, mediator, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

MALANG Orientasi pendidikan sering kali lebih dekat dengan pasar daripada kemanusiaan. Pendidikan diposisikan sebagai alat untuk bekerja, bukan sebagai proses untuk memanusiakan manusia. Pendidikan seolah-olah hanya dipersiapkan untuk dunia industri, bukan untuk menumbuhkan hati nurani.

Peserta didik bergerak dari satu jenjang ke jenjang lain, dari satu ujian ke ujian berikutnya. Namun mereka tanpa benar-benar diberi ruang untuk mengenali dirinya. Nilai ujian sekolah menjadi ukuran utama, sementara karakter kerap menjadi pelengkap yang terabaikan.

Advertisement

Akibatnya, kita menyaksikan sebuah paradoks: lulusan semakin banyak, tetapi kegelisahan tak bisa ditolak. Pengetahuan bertambah, namun kebijaksanaan tidak selalu ikut berubah. Dengan demikian, pendidikan melahirkan individu yang kompetitif, tetapi belum tentu kolaboratif.

Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 2 Mei seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Peringatan tersebut adalah momen reflektif untuk meninjau kembali arah pendidikan kita. Apakah pendidikan masih setia pada “ruhnya” sebagai proses memanusiakan manusia, atau justru telah bergeser menjadi mekanisme produksi kompetensi teknis?

Di tengah disrupsi digital, pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Teknologi menghadirkan kemudahan akses informasi, bahkan mampu menggantikan sebagian fungsi pengajar. Namun di balik itu, muncul paradoks: pendidikan yang semestinya membentuk karakter justru berisiko menjadi aktivitas instan, serba cepat, dan dangkal. Pengetahuan tidak lagi diperjuangkan sebagai proses reflektif, melainkan dikonsumsi secara pragmatis.

Selain itu, ketimpangan akses digital juga memperlihatkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya menjadi alat keadilan sosial. Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses teknologi. Dalam kondisi ini, negara dituntut hadir bukan hanya sebagai fasilitator, melainkan sebagai penjaga keadilan dalam distribusi pendidikan.

Sebagaimana diingatkan Paulo Freire, pendidikan yang hanya “mengisi” tanpa membebaskan akan melahirkan manusia yang patuh, tetapi tidak kritis. Senada dengan itu, John Dewey menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar persiapan untuk hidup, melainkan demi kehidupan itu sendiri, yakni membentuk pengalaman, bukan sekadar hafalan.

Advertisement

Aristoteles mengingatkan bahwa mendidik pikiran tanpa mendidik hati adalah kegagalan pendidikan itu sendiri. Dalam khazanah Indonesia, Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Ajaran Ki Hajar Dewantara: “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, menegaskan bahwa pendidikan merupakan praksis kepemimpinan yang berakar pada keteladanan, penggerakan, dan pemberdayaan. Di depan, pendidik memberi teladan; di tengah, membangun semangat; dan di belakang, memberi dorongan. Jadi, pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses pendampingan yang utuh dan manusiawi.

Sementara itu, Al-Ghazali mengingatkan bahwa tujuan utama pendidikan adalah pembentukan akhlak. Ilmu tanpa akhlak (adab) hanya akan melahirkan kerusakan yang terstruktur. Senada dengan itu, Ibnu Khaldun juga mengatakan bahwa pendidikan harus memperhatikan perkembangan jiwa manusia secara bertahap, bukan membebani tanpa pemahaman.

Dalam konteks ini, pertanyaan sederhana namun mendasar: untuk siapa pendidikan itu ada? Jika jawabannya adalah untuk manusia, maka seluruh sistem yang ada semestinya kembali pada satu hal: memanusiakan manusia. Tanpa orientasi tersebut, pendidikan berisiko kehilangan arah dan makna hakikinya sebagai jalan pembebasan dan pencerahan.

Pendidikan tidak bisa secara terus-menerus hanya diperbaiki di permukaan, sementara akar persoalannya dibiarkan. Perubahan yang hanya bersifat “kosmetik” justru berisiko menunda penyelesaian yang sesungguhnya. Jadi, tanpa keberanian menyentuh akar, pendidikan akan terus berputar dalam lingkaran masalah yang sama.

Oleh sebab itu, dibutuhkan keberanian. Keberanian untuk mengevaluasi sistem, mengakui kekurangan, dan keluar dari zona nyaman kebijakan yang hanya bersifat tambal sulam. Adapun yang paling dibutuhkan saat ini bukan sekadar kurikulum baru atau kebijakan baru, melainkan kesadaran baru. Kesadaran bahwa pendidikan bukan hanya tentang masa depan bangsa, tetapi juga tentang wajah kemanusiaan itu sendiri.

Pendidikan seharusnya menjadi ruang di mana anak belajar berpikir, merasakan, dan memahami. Peendidikan bukan hanya tentang menguasai materi, melainkan juga membangun karakter, tanggung jawab, dan empati. Pendidikan bukan sekadar proses akademik, melainkan perjalanan kemanusiaan yang menuntun setiap individu menemukan makna dirinya dan perannya dalam kehidupan nyata.

Jika kesadaran tersebut lahir, maka pendidikan bukan hanya sekadar ruang belajar. Pendidikan akan menjadi ruang bertumbuh: tempat manusia tidak hanya diajarkan untuk tahu, tetapi juga untuk menjadi manusia yang utuh. Manusia yang bisa berpikir jernih, berperasaan, dan bertindak sesuai dengan hati nurani.

Dengan demikian, menjaga ruh pendidikan di tengah disrupsi digital bukan berarti menolak teknologi, melainkan mengarahkannya agar tetap selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, tanpa ruh tersebut, pendidikan hanya akan melahirkan generasi yang cerdas, tetapi kehilangan makna. Sebaliknya, jika ruh itu terjaga, pendidikan akan menjadi jalan peradaban, yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.

***

*) Oleh : Mohamad Sinal, Corporate Legal Consultant, mediator, ahli bahasa hukum, founder Pena Hukum Nusantara (PHN), dan dosen Polinema.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia