Advertisement
Kopi TIMES

Krisis Relevansi Pendidikan di Tengah Dunia Kerja

Di era yang terus berubah, masa depan tidak lagi ditentukan oleh selembar ijazah, tetapi oleh kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menciptakan nilai.

TIMES Indonesia,
Krisis Relevansi Pendidikan di Tengah Dunia Kerja
Lalu Hadrian Irfani, Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

Jakarta Lebih dari satu juta sarjana menganggur. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cermin retaknya hubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik per Februari 2025 mencatat 7,28 juta pengangguran, dan sekitar 1,01 juta di antaranya adalah lulusan perguruan tinggi. 

Ini bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga krisis relevansi pendidikan. Pertanyaan mendasarnya sederhana namun menohok: apakah pendidikan kita masih menjawab kebutuhan zaman?

Advertisement

Selama ini, konsep link and match kerap digaungkan sebagai solusi. Bahkan Sri Mulyani Indrawati pernah menegaskan pentingnya keterkaitan antara pendidikan dan industri sebagai strategi menekan pengangguran. Namun dalam praktiknya, gagasan ini sering berhenti sebagai jargon kebijakan, belum sepenuhnya menjelma menjadi sistem yang hidup dan berdampak nyata. 

Masalah kita bersifat struktural. Pada jenjang vokasi seperti SMK dan politeknik, keterputusan antara kurikulum dan kebutuhan industri masih sangat terasa. Banyak lulusan kuat secara teori, tetapi gagap dalam praktik. 

Dunia kerja membutuhkan keterampilan teknis, kemampuan adaptasi, serta soft skill seperti komunikasi dan problem solving, sementara sistem pendidikan masih terlalu fokus pada hafalan dan capaian akademik formal.

Data Asosiasi Pengusaha Indonesia menunjukkan sekitar 70 persen perusahaan di sektor teknologi informasi kesulitan mendapatkan tenaga kerja yang sesuai. Ini ironi besar: pengangguran tinggi, tetapi kebutuhan tenaga kerja juga tidak terpenuhi. 

Persoalan tidak berhenti di kurikulum. Kualitas pendidik juga menjadi tantangan serius. Sebagian besar guru vokasi belum memiliki pengalaman industri yang memadai, sehingga proses pembelajaran kehilangan konteks praktik. Pengetahuan yang disampaikan sering kali tidak menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

Advertisement

Kemitraan antara institusi pendidikan dan dunia usaha juga masih bersifat simbolis. Banyak kerja sama hanya berhenti di atas kertas. Program magang sering kali tidak terstruktur dan gagal memberikan pengalaman kerja yang substantif. Dalam kondisi seperti ini, lulusan masuk ke dunia kerja tanpa bekal yang cukup, sementara industri terus mencari tenaga kerja yang siap pakai.

Berbagai solusi mulai ditawarkan, salah satunya melalui pendekatan Teaching Factory (TEFA), yang mengintegrasikan proses belajar dengan produksi nyata. Model ini terbukti mampu menanamkan disiplin, etos kerja, dan pemahaman alur industri. Namun pendekatan ini juga tidak lepas dari kritik. 

Jika pendidikan terlalu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri jangka pendek, kita berisiko menciptakan generasi yang terampil tetapi tidak kritis. Pendidikan tidak boleh hanya mencetak tenaga kerja, tetapi juga harus melahirkan manusia yang mampu berpikir, berinovasi, dan beradaptasi dalam jangka panjang.

Di sinilah kita membutuhkan keseimbangan. Pendidikan harus relevan tanpa kehilangan arah. Ia harus menjawab kebutuhan pasar sekaligus menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan kemampuan berpikir kritis. 

Solusinya tidak bisa parsial, melainkan harus integratif. Kurikulum perlu dibuat lebih fleksibel dengan kombinasi materi inti dan elektif yang terus diperbarui. Pendidik harus diperkuat melalui sertifikasi ganda dan pengalaman industri. 

Kemitraan dengan dunia usaha harus bersifat nyata dan saling menguntungkan. Sementara itu, Bursa Kerja Khusus (BKK) perlu diperkuat agar menjadi pusat pengembangan karier, bukan sekadar papan informasi.

Link and match bukan sekadar program, melainkan filosofi. Pendidikan adalah investasi kolektif. Kegagalan mencetak lulusan yang siap kerja adalah kegagalan bersama pemerintah, institusi pendidikan, dan industri. 

Kita harus berhenti saling menyalahkan dan mulai membangun jembatan yang kokoh antara ruang kelas dan dunia kerja. Karena di era yang terus berubah, masa depan tidak lagi ditentukan oleh selembar ijazah, tetapi oleh kemampuan untuk terus belajar, beradaptasi, dan menciptakan nilai.

***

*) Oleh : Lalu Hadrian Irfani, Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia