Advertisement
Kopi TIMES

Menjaga Karakter di Tengah Lompatan Teknologi

Mendidik di era AI pada akhirnya bukan soal seberapa cepat anak kita beradaptasi dengan teknologi, tetapi seberapa dalam mereka memahami nilai kehidupan.

TIMES Indonesia,
Menjaga Karakter di Tengah Lompatan Teknologi
Nur Rohmatul Izzah, S.T., S.Pd., Guru SD Taquma Surabaya.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

SURABAYA Dunia pendidikan hari ini sedang berdiri di persimpangan yang tidak biasa. Di satu sisi, kita merayakan Ki Hadjar Dewantara sebagai simbol warisan luhur pendidikan nasional. Di sisi lain, kita dipaksa berlari mengikuti laju Kecerdasan Buatan (AI) yang bergerak begitu cepat, bahkan melampaui imajinasi banyak orang.

Dalam pusaran perubahan ini, pesan klasik Ali bin Abi Thalib terasa semakin relevan: “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”

Advertisement

Pesan ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan mandat tentang adaptasi. Mendidik anak di era digital bukan berarti membiarkan mereka hanyut dalam arus teknologi tanpa kendali. Sebaliknya, pendidikan harus membekali mereka dengan daya tahan dan daya guna dalam menghadapi teknologi itu sendiri.

AI memang mampu membuat anak-anak kita terlihat lebih cepat memahami sesuatu, lebih instan dalam menyelesaikan tugas, bahkan lebih “pintar” secara kognitif. Namun, kepintaran tanpa karakter hanyalah percepatan menuju kekosongan makna.

Di titik inilah tantangan terbesar orang tua muncul. Kita dituntut keluar dari zona nyaman pola asuh lama, sekaligus tetap menjaga nilai-nilai dasar yang tidak lekang oleh zaman. Kita harus belajar memahami dunia anak hari ini—dunia yang penuh algoritma, data, dan kecepatan—tanpa kehilangan pijakan pada nilai kejujuran, tanggung jawab, dan empati.

Filosofi pendidikan yang diwariskan oleh Ki Hadjar Dewantara sebenarnya sudah memberikan arah yang sangat jelas. Konsep trilogi pendidikan—Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani—justru semakin relevan di era AI.

Pertama, Ing Ngarsa Sung Tulada. Orang tua di depan harus menjadi teladan, termasuk dalam etika digital. Kita tidak bisa menuntut anak untuk jujur dalam menggunakan AI jika kita sendiri masih terbiasa mencari jalan pintas dalam kehidupan sehari-hari.

Advertisement

Keteladanan hari ini tidak lagi diukur dari seberapa banyak kita tahu tentang teknologi, tetapi dari seberapa bijak kita menggunakannya. Anak belajar bukan dari nasihat, melainkan dari contoh yang mereka lihat setiap hari.

Kedua, Ing Madya Mangun Karsa. Di tengah derasnya teknologi yang menawarkan hasil instan, orang tua harus menjaga semangat proses dalam diri anak. AI bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik, tetapi tidak bisa menggantikan pengalaman berpikir, gagal, mencoba lagi, dan menemukan sendiri. Pendidikan sejatinya bukan soal hasil sempurna, melainkan proses yang membentuk daya juang. Di sini, peran orang tua adalah memastikan bahwa teknologi menjadi alat bantu, bukan pengganti usaha.

Ketiga, Tut Wuri Handayani. Memberi dorongan dari belakang berarti memberi kepercayaan. Anak-anak kita hidup di zaman yang berbeda, dengan tantangan yang juga berbeda. AI bisa menjadi “sayap” yang membuat mereka terbang lebih tinggi. Namun, tanpa arah dan kontrol, sayap itu bisa membawa mereka ke tempat yang salah. Orang tua harus menjadi penyeimbang—memberi ruang eksplorasi, tetapi tetap menjaga agar anak tidak kehilangan arah.

Era AI pada akhirnya memaksa kita mendefinisikan ulang apa itu manusia. Jika mesin bisa menulis, menghitung, menganalisis, bahkan mencipta, maka apa yang tersisa sebagai keunikan manusia? Jawabannya adalah karakter. Kebijaksanaan, empati, integritas—hal-hal yang tidak bisa diprogram, tidak bisa diunduh, dan tidak bisa digantikan oleh mesin.

Di sinilah pertemuan antara hikmah Ali bin Abi Thalib dan visi Ki Hadjar Dewantara menjadi sangat penting. Keduanya mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan manusia. Tugas kita bukan menciptakan generasi yang sekadar cerdas secara teknis, tetapi generasi yang mampu memimpin teknologi dengan nilai.

Kita tidak bisa menolak zaman digital, karena itulah realitas anak-anak kita. Menolak AI sama saja menutup pintu masa depan. Namun, menerima teknologi tanpa filter nilai juga berbahaya. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan: teknologi sebagai alat, karakter sebagai arah.

Mendidik di era AI pada akhirnya bukan soal seberapa cepat anak kita beradaptasi dengan teknologi, tetapi seberapa dalam mereka memahami nilai kehidupan. Biarlah teknologi bergerak secepat cahaya, tetapi pastikan karakter anak-anak kita tetap sekuat baja. Karena di tengah dunia yang semakin canggih, manusia tetap membutuhkan satu hal yang tidak pernah usang: hati yang bijak.

***

*) Oleh : Nur Rohmatul Izzah, S.T., S.Pd., Guru SD Taquma Surabaya.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia