Paradoks Pembelajaran Bahasa Inggris
Keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris tidak cukup diukur dari capaian akademik semata. Ia tercermin dari sejauh mana pembelajar mampu menggunakan bahasa tersebut secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari.

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Bahasa Inggris telah lama menempati posisi penting dalam sistem pendidikan kita. Ia diajarkan secara berjenjang, dilengkapi dengan perangkat kurikulum yang terus diperbarui, serta dievaluasi melalui berbagai bentuk penilaian. Namun, di balik intensitas tersebut, tersisa satu ironi yang sulit diabaikan: banyak pembelajar yang akrab dengan teori, tetapi gagap dalam praktik.
Persoalan ini tidak semata-mata terletak pada kemampuan siswa, melainkan pada cara bahasa itu sendiri diposisikan dalam ruang belajar. Bahasa Inggris kerap direduksi menjadi seperangkat aturan yang harus dikuasai, alih-alih dipahami sebagai alat komunikasi yang hidup. Akibatnya, pembelajaran terjebak pada orientasi struktural—rapi, sistematis, tetapi miskin pengalaman berbahasa yang autentik.
Di saat yang sama, kultur pendidikan yang menempatkan nilai sebagai tolok ukur utama turut memperkuat paradoks ini. Siswa dilatih untuk menjawab dengan tepat, tetapi tidak dibiasakan untuk menyampaikan gagasan. Mereka terbiasa mengenali bentuk yang benar, tetapi tidak cukup percaya diri untuk menggunakannya dalam konteks nyata. Di sinilah jarak antara “tahu” dan “mampu” menjadi semakin nyata.
Minimnya ruang praktik juga memperparah keadaan. Bahasa, pada dasarnya, tumbuh melalui penggunaan yang berulang dan bermakna. Tanpa keterlibatan aktif, tanpa interaksi yang memberi konteks, bahasa hanya akan berhenti sebagai pengetahuan pasif. Sayangnya, tidak semua lingkungan belajar mampu menyediakan ruang tersebut secara konsisten.
Di sisi lain, pendekatan pembelajaran yang masih berpusat pada guru sering kali membatasi partisipasi siswa. Proses belajar berlangsung satu arah, sementara bahasa justru menuntut dialog. Ketika siswa tidak diberi kesempatan untuk bereksplorasi, melakukan kesalahan, dan membangun keberanian, maka keterampilan berbahasa akan sulit berkembang secara utuh.
Karena itu, diperlukan pergeseran paradigma yang lebih mendasar. Bahasa Inggris perlu ditempatkan kembali pada hakikatnya: sebagai sarana untuk berkomunikasi, bukan sekadar objek untuk diuji. Aktivitas pembelajaran seyogianya memberi ruang bagi penggunaan bahasa secara nyata—melalui diskusi, presentasi, maupun praktik kontekstual lainnya.
Lebih dari itu, penting untuk membangun ekosistem belajar yang suportif, di mana kesalahan tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses. Kepercayaan diri tidak lahir dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian untuk mencoba.
Keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris tidak cukup diukur dari capaian akademik semata. Ia tercermin dari sejauh mana pembelajar mampu menggunakan bahasa tersebut secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa itu, bahasa Inggris akan terus diajarkan—namun tak benar-benar dikuasai.
***
*) Oleh : Umi Zakiyah, S.S., English Teacher of Thursina International Islamic Boarding School.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


