Ekosistem Gelap Internet
Jika kita terus menyalahkan platform tanpa mengubah perilaku, maka kita hanya akan berputar dalam lingkaran yang sama. Masalah akan terus muncul, hanya dengan wajah yang berbeda.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Dalam beberapa waktu terakhir, ruang digital kita dipenuhi berbagai kontroversi yang memprihatinkan. Mulai dari fenomena “rape academy”, kemunculan situs seperti Motherless dan Zzz, hingga komunitas menyimpang seperti Fantasi Sedarah di Facebook, semuanya memperlihatkan satu hal: batas etika di internet semakin kabur. Bahkan, teknologi seperti AI termasuk platform seperti Grok ikut disorot karena dimanfaatkan untuk menghasilkan konten berbau pornografi tanpa persetujuan.
Reaksi publik pun bisa ditebak. Marah, resah, bahkan jijik. Banyak yang menuntut agar situs-situs tersebut diblokir dan pelakunya ditindak tegas. Namun, di tengah gelombang kemarahan itu, muncul pertanyaan penting: apakah kita benar-benar sedang menyelesaikan masalah, atau hanya merespons gejalanya?
Menyalahkan platform memang mudah. Ia terlihat jelas, nyata, dan bisa dijadikan target kemarahan. Tapi, jika kita berhenti di sana, kita justru sedang menyederhanakan persoalan yang jauh lebih kompleks. Platform hanyalah wadah. Ia tidak akan hidup tanpa isi. Dan isi itu datang dari manusia—dari perilaku, pilihan, dan permintaan yang terus ada.
Jika dilihat lebih dalam, fenomena ini merupakan bagian dari sebuah ekosistem. Ada yang memproduksi, ada yang mendistribusikan, dan yang paling penting: ada yang mengonsumsi. Tanpa konsumsi, produksi tidak akan berjalan. Tanpa permintaan, tidak akan ada suplai.
Data menunjukkan betapa besarnya ekosistem ini. Situs seperti Motherless, berdasarkan laporan investigasi CNN’s As Equals, memiliki lebih dari 20 ribu konten pornografi dan dikunjungi puluhan juta pengguna setiap harinya. Komunitas Fantasi Sedarah bahkan mampu menghimpun puluhan ribu anggota aktif. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi cerminan bahwa konten menyimpang tersebut memiliki pasar yang nyata.
Lebih mencengangkan lagi, laporan dari Internet Safety 101 menyebutkan bahwa situs-situs serupa bisa menghasilkan ribuan dolar per detik. Ini bukan sekadar fenomena sosial, tetapi juga industri. Selama ada keuntungan besar, selama itu pula produksi akan terus berjalan.
Di titik ini, kita harus jujur: persoalan ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan regulasi. Pemerintah memang sudah bekerja. Data menunjukkan bahwa ratusan ribu hingga jutaan konten telah ditangani oleh Kementerian Komunikasi dan Digital. Namun, faktanya, konten serupa terus bermunculan, bahkan dalam jumlah yang semakin besar.
Ini menunjukkan satu hal penting: regulasi mampu membatasi, tetapi tidak mampu menghentikan sepenuhnya. Platform bisa diblokir, tetapi akan muncul platform baru. Komunitas bisa ditutup, tetapi akan lahir komunitas lain dengan nama berbeda. Dunia digital selalu menemukan cara untuk beradaptasi.
Bahkan, ironi terjadi ketika sebuah situs atau komunitas mendapat sorotan publik. Alih-alih menurun, trafik justru meningkat. Rasa penasaran publik menjadi pintu masuk baru bagi penyebaran konten tersebut. Ini membuktikan bahwa perhatian publik, tanpa disertai kesadaran kritis, justru bisa menjadi bahan bakar.
Lebih jauh lagi, kita juga perlu melihat bagaimana perilaku pengguna berperan dalam siklus ini. Sejumlah studi menunjukkan bahwa mayoritas pengguna tidak sekadar terpapar, tetapi secara aktif mencari konten tersebut. Artinya, konsumsi bukanlah kecelakaan, melainkan pilihan.
Di sinilah akar persoalan sebenarnya. Kita sering melihat diri sebagai korban dari arus digital, padahal dalam banyak kasus, kita juga adalah bagian dari arus itu sendiri. Kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga penentu arah.
Jika publik terus mengonsumsi, maka sistem akan terus menyediakan. Algoritma akan terus menyesuaikan. Platform akan terus berkembang mengikuti permintaan. Pada akhirnya, apa yang kita lihat di layar adalah refleksi dari apa yang kita cari.
Karena itu, solusi tidak bisa berhenti pada pemblokiran atau penindakan. Itu penting, tetapi belum cukup. Yang lebih penting adalah perubahan perilaku. Literasi digital harus menjadi fondasi, bukan sekadar wacana.
Masyarakat perlu dibekali kesadaran bahwa setiap klik, setiap pencarian, dan setiap interaksi di ruang digital memiliki konsekuensi. Apa yang kita konsumsi akan membentuk apa yang disajikan. Ini adalah hukum sederhana dalam ekosistem digital.
Selain itu, peran keluarga dan pendidikan juga menjadi krusial. Anak-anak dan remaja tidak hanya perlu diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana bersikap bijak di dalamnya. Tanpa pendampingan, mereka akan tumbuh dalam ruang digital yang liar dan tanpa arah.
Persoalan ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang manusia. Tentang nilai, etika, dan tanggung jawab. Platform hanyalah alat. Ia bisa menjadi baik atau buruk tergantung bagaimana kita menggunakannya.
Jika kita terus menyalahkan platform tanpa mengubah perilaku, maka kita hanya akan berputar dalam lingkaran yang sama. Masalah akan terus muncul, hanya dengan wajah yang berbeda.
Maka, mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya “siapa yang salah” di luar sana, dan mulai bertanya: apa peran kita di dalamnya? Karena pada akhirnya, ruang digital bukan sekadar tempat yang kita tempati. Ia adalah cermin. Dan yang terlihat di dalamnya adalah wajah kita sendiri.
***
*) Oleh : Annisa Maghzar Vidyantoro, Content Writer
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


