Menghargai Proses di Dunia yang Serba Instan
Kemampuan untuk berhenti sejenak dan menghargai diri sendiri adalah kunci agar kita tidak terjebak dalam harapan yang tidak nyata.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Media sosial kini telah bertransformasi menjadi tolak ukur standar kehidupan yang seolah-olah harus terlihat ideal. Fenomena ini diawali dari kebebasan berekspresi dalam membagikan pengalaman keseharian di berbagai platform digital.
Konten yang sering kita lihat biasanya hanya menunjukkan frame yang tampak sukses dan memuaskan. Hal ini secara perlahan menggiring penilaian warganet untuk memberikan apresiasi masif sekaligus membandingkannya dengan pencapaian pribadi.
Dukungan masif dari warganet terhadap konten-konten tersebut akhirnya melahirkan standar baru di berbagai aspek. Mulai dari urusan penampilan yang dipengaruhi tren global seperti Korean Wave, hingga cara orang menjalin hubungan yang harus terlihat sempurna sesuai ekspektasi internet.
Bahkan, derasnya arus informasi ini mulai menyentuh sisi mental kita melalui isu seperti marriage is scary atau janji kaya cepat lewat investasi dan trading. Hal ini membuat pekerjaan domestik atau profesi konvensional yang mengandalkan ketekunan bertahap, seperti bekerja di kantor, berjualan, atau bidang mekanikal, terlihat tidak lagi efektif dan ketinggalan zaman.
Ritme hidup yang normal itulah yang justru membuktikan keuletan seseorang dalam berproses. Sayangnya, banyaknya validasi netizen terhadap konten-konten instan ini sering kali bukan didasari oleh penghargaan terhadap diri sendiri. Ini justru bentuk pelarian ke dalam fantasi bahwa hasil serupa bisa dicapai tanpa jerih payah.
Kegagalan dalam menyadari bahwa apa yang tersaji di beranda hanyalah pameran singkat. Sehingga menyebabkan standar tidak realistis di media sosial menghambat kemampuan netizen untuk mengapresiasi proses hidup yang nyata.
Jika ditelaah lebih lanjut, ini terjadi karena ekstremnya arus budaya luar yang masuk melalui media sosial dan langsung dinormalisasi oleh warganet. Kita cenderung memberikan apresiasi tinggi pada konten yang terlihat bagus tanpa mempertimbangkan apakah standar tersebut realistis dengan kondisi lingkungan, usia, akses kesehatan dan fasilitas publik di sekitar kita. Mengacu pada Social Comparison Theory, manusia memang memiliki dorongan alami untuk membandingkan diri, namun kini perbandingan itu melebar.
Kita tidak lagi sekadar membandingkan diri dengan teman sebaya, tetapi juga dengan individu dari latar belakang dan peluang yang jauh berbeda. Akibatnya, standar yang kita gunakan untuk menilai diri menjadi tidak seimbang. Hal-hal sederhana seperti ketekunan dalam bekerja atau membangun komunikasi yang sehat dengan pasangan sering kali terasa tidak berarti karena tidak tampak semewah apa yang viral di internet.
Selain faktor eksternal tersebut, hambatan ini juga muncul dari sisi internal, yakni kurangnya kesadaran untuk mengevaluasi dan mengenal kemampuan diri sendiri. Di usia produktif yang masih penuh dengan proses belajar, banyak orang terjebak dalam ambisi untuk mengejar standar ideal yang justru membuat mereka merasa rendah diri atau minder.
Memaksakan diri untuk mengikuti penilaian sempurna dari orang lain hanya akan berujung pada kelelahan mental untuk menyesuaikan diri. Padahal, setiap orang memiliki garis waktu dan kapasitas yang berbeda. Tanpa adanya upaya untuk kembali menyadari batasan dan kemampuan pribadi, kita akan terus merasa gagal hanya karena tidak mampu mencapai standar hidup milik orang lain yang sebenarnya tidak relevan dengan situasi kita.
Meski demikian, tidak dapat dimungkiri bahwa di zaman yang serba canggih ini, mengikuti standar yang ada sering kali dianggap sebagai cara untuk memosisikan diri dalam masyarakat modern. Ada pandangan bahwa mengikuti tren dan standar global adalah bentuk adaptasi agar kita tidak tertinggal oleh perkembangan zaman yang menuntut segala hal bergerak secara cepat dan instan.
Dalam konteks ini, standar ideal bukan hanya soal gaya hidup, melainkan instrumen untuk menunjukkan kemampuan bersaing di tengah dinamika sosial. Namun, sering kali standar tersebut dipaksakan meski sebenarnya sudah melampaui kemampuan kita yang sesungguhnya.
Persoalannya, kendali atas persepsi ini tidak sepenuhnya berada di tangan individu karena adanya peran algoritma media sosial. Platform digital cenderung menyuguhkan apa yang sedang menjadi tren dunia daripada apa yang secara objektif kita butuhkan. Meskipun fitur penyaring atau filter tersedia, diskusi publik yang masif melalui kolom komentar dan opini mayoritas tetap mampu menggiring pemikiran.
Kita perlahan percaya bahwa begitulah seharusnya kita dinilai oleh orang lain. Tekanan untuk selalu produktif ini menciptakan dorongan halus yang seolah tidak memberi ruang bagi individu untuk berhenti sejenak.
Sulitnya mengapresiasi proses bukan semata-mata karena kurangnya rasa syukur. Hal ini lebih disebabkan oleh lingkungan digital yang terus-menerus memvalidasi hasil yang cepat. Akibatnya, proses yang normal dan bertahap pun terasa kehilangan nilainya.
Langkah nyata untuk menghadapi situasi ini adalah dengan menyadari bahwa kondisi hidup setiap orang memiliki titik awal yang berbeda. Kita perlu melatih daya pikir kritis untuk menyaring konten serta opini publik sesuai dengan kebutuhan hidup kita yang sebenarnya. Kita boleh saja memberikan apresiasi pada kesuksesan orang lain, namun bukan berarti hal yang bagus pada mereka menunjukkan sesuatu yang kurang pada diri kita.
Media sosial hanyalah ruang untuk bertukar inspirasi, bukan alat ukur nilai diri. Dengan membatasi konsumsi konten yang tidak realistis, kita bisa mulai menilai kemampuan diri secara lebih objektif dan sehat.
Selain itu, perubahan besar dimulai dengan menggeser fokus dari hasil maksimal ke manfaat dan proses kecil yang sedang kita jalani. Dalam hal fisik misalnya, alih-alih merasa minder karena tidak memiliki tubuh ideal layaknya influencer, kita bisa bersyukur karena tubuh ini tetap berfungsi kuat untuk beraktivitas setiap hari.
Begitu pula dalam hal finansial, daripada terjebak ambisi investasi instan yang berisiko, lebih baik kita menghargai pekerjaan saat ini yang terbukti mampu mencukupi kebutuhan pokok secara aman. Mengapresiasi diri sendiri seperti ini bukan berarti kita berhenti berkembang. Sebaliknya, apresiasi adalah fondasi agar kita dapat melangkah dengan lebih fleksible dan berkelanjutan.
Penting bagi kita untuk mulai menyadari bahwa tidak semua standar ideal yang beredar di media sosial harus diikuti. Kita perlu memahami bahwa dorongan untuk terus membandingkan diri bukan muncul karena ketidakmampuan kita, melainkan karena ekosistem digital memang dirancang untuk menonjolkan hasil instan demi menarik perhatian publik.
Meskipun tuntutan modernitas dan algoritma terus menggiring kita pada standar yang tidak realistis, kendali penuh untuk tetap berpijak pada kenyataannya ada di tangan kita sendiri. Menghargai setiap pencapaian kecil, seperti ketekunan dalam bekerja atau memiliki tubuh yang sehat, adalah bentuk perlawanan kita terhadap budaya serba instan.
Mari lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Jangan biarkan harga diri kita ditentukan oleh opini atau tren yang belum tentu benar. Kita harus berani mengakui bahwa proses hidup yang normal dan bertahap tetap memiliki nilai yang sangat berarti. Proses ini mungkin tidak tampak mewah di layar digital, namun sangat penting bagi kesehatan mental kita.
Kemampuan untuk berhenti sejenak dan menghargai diri sendiri adalah kunci agar kita tidak terjebak dalam harapan yang tidak nyata. Dengan begitu, kita bisa lebih tenang dalam menikmati setiap proses hidup yang sedang kita jalani.
***
*) Oleh : Ais Tri Wanda WS, Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


