Mentalitas Asal Viral dan Turunnya Nalar di Era Digital
Viral memang bisa datang dengan cepat. Namun tanpa nalar dan pertimbangan, kecepatan itu justru membawa kita ke arah yang salah.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Media sosial telah mengubah banyak hal dalam hidup kita, termasuk cara menilai sebuah keberhasilan. Jika dulu sesuatu dianggap bernilai karena manfaat atau kualitasnya, hari ini ukuran itu bergeser. Banyak orang mulai menganggap sesuatu berhasil ketika ia ramai dibicarakan, cepat menyebar, dan mendapat perhatian luas. Dalam situasi seperti ini, viralitas bukan lagi sekadar dampak, tetapi menjadi tujuan.
Perubahan ini terlihat jelas di Indonesia. Dengan lebih dari 170 juta pengguna aktif media sosial dan durasi penggunaan yang mencapai lebih dari 3 jam per hari, ruang digital telah menjadi bagian utama dari kehidupan sehari-hari. Apa yang muncul di linimasa tidak hanya menghibur, tetapi juga membentuk cara berpikir, selera, bahkan standar perilaku.
Masalahnya, tidak semua yang mudah menyebar itu membawa nilai. Berbagai riset menunjukkan bahwa konten yang memicu emosi cenderung lebih cepat viral dibandingkan konten yang informatif. Konten yang membuat orang marah, terkejut, atau tertawa tanpa berpikir panjang lebih mudah dibagikan. Dalam jangka panjang, pola ini menciptakan lingkungan digital yang cenderung mengutamakan sensasi dibandingkan substansi.
Dampaknya mulai terasa dalam bentuk yang sangat konkret. Kita semakin sering menemukan konten yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian tanpa mempertimbangkan nilai atau dampaknya. Dalam satu kasus, seorang influencer membuat konten makan di ruang publik namun meninggalkan sisa makanan begitu saja. Tindakan yang sebenarnya sederhana dan berkaitan dengan tanggung jawab pribadi justru diperlakukan sebagai bagian dari hiburan.
Dalam kesempatan lain, figur yang sama kembali membuat konten dengan menaiki rak display di sebuah toko. Aksi tersebut jelas melanggar aturan dan berpotensi membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Namun tindakan itu tetap dilakukan, direkam, dan disebarkan, karena dianggap mampu menarik perhatian publik.
Dua contoh ini bukan sekadar soal perilaku individu. Ini menunjukkan pola yang lebih besar, yaitu bagaimana ruang publik mulai diperlakukan sebagai panggung konten, sementara batas etika perlahan diabaikan. Perhatian menjadi lebih penting daripada tanggung jawab, dan reaksi publik menjadi tujuan utama.
Jika dibiarkan, pola ini bisa mengubah cara masyarakat memandang sesuatu. Apa yang sering dilihat akan terasa wajar, meskipun sebenarnya tidak tepat. Generasi muda, yang menjadi pengguna aktif media sosial, berisiko menjadikan konten viral sebagai acuan perilaku. Dalam kondisi ini, kemampuan untuk membedakan mana yang layak ditiru dan mana yang tidak menjadi semakin lemah.
Kondisi ini juga berdampak pada cara kita menyikapi informasi. Banyak orang lebih cepat bereaksi daripada memahami, lebih mudah mengikuti arus daripada memverifikasi. Ketika sesuatu sudah viral, ia sering langsung dianggap penting, bahkan benar, tanpa melalui proses berpikir yang cukup. Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam. Yang kita hadapi bukan hanya soal konten yang dangkal, tetapi juga penurunan kualitas cara berpikir di ruang publik.
Di sisi lain, perlu diakui bahwa viralitas tidak selalu berdampak negatif. Banyak gerakan sosial, kampanye kemanusiaan, hingga edukasi publik yang justru berkembang karena dukungan media sosial. Dalam konteks ini, viral bisa menjadi alat yang sangat efektif untuk menyebarkan pesan positif.
Namun perbedaan utamanya terletak pada niat dan isi. Ketika viral digunakan untuk memperluas manfaat, ia menjadi kekuatan. Sebaliknya, ketika viral hanya digunakan untuk mengejar perhatian tanpa mempertimbangkan dampak, ia justru menjadi masalah.
Karena itu, persoalan ini tidak bisa dilihat hanya dari sisi platform atau algoritma. Pengguna memiliki peran yang sama pentingnya. Setiap interaksi, baik itu menyukai, membagikan, atau sekadar menonton, ikut menentukan konten seperti apa yang akan terus muncul. Tanpa disadari, kita ikut membentuk ekosistem yang kita konsumsi sendiri.
Perubahan tidak akan terjadi jika semua pihak hanya menjadi penonton. Kreator perlu menyadari bahwa konten yang mereka buat membawa konsekuensi sosial. Sementara itu, audiens perlu lebih bijak dalam menentukan apa yang layak untuk diberi perhatian. Literasi digital dalam konteks ini bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga tentang kesadaran dan tanggung jawab.
Persoalan mentalitas asal viral bukan hanya soal tren media sosial. Ini adalah cerminan dari cara kita sebagai masyarakat memaknai perhatian, nilai, dan tanggung jawab. Jika dibiarkan, kita berisiko kehilangan arah, di mana hal yang ramai dianggap penting, sementara yang benar justru terabaikan.
***
*) Oleh : Lusia Dian Finnadi, Mahasiswa S1 Bahasa dan Sastra Inggris UM.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


