Krisis Nalar Mahasiswa di Era AI
AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu yang digunakan secara terbatas dan bijak, bukan sebagai pengganti proses berpikir.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, terutama dengan hadirnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Mahasiswa kini tidak lagi hanya mengandalkan buku, jurnal, atau dosen sebagai sumber belajar, tetapi juga memanfaatkan AI untuk mencari informasi, memahami materi, hingga menyelesaikan tugas akademik.
Kehadiran AI menawarkan kemudahan yang belum pernah ada sebelumnya: cepat, praktis, dan efisien. Namun, di balik kemudahan tersebut, penggunaan AI yang tidak terkontrol justru berpotensi menurunkan kualitas cara berpikir mahasiswa. Oleh karena itu, pembatasan penggunaan AI dalam proses pembelajaran menjadi hal yang penting untuk menjaga esensi pendidikan itu sendiri.
Fenomena penggunaan AI di kalangan mahasiswa semakin meluas. Berdasarkan Student Survey 2025 yang dirilis oleh Chegg, Indonesia menjadi negara dengan tingkat penggunaan AI oleh mahasiswa tertinggi, yaitu mencapai 95%. Selain itu, sebanyak 86% mahasiswa Indonesia menggunakan Generative AI (GenAI) untuk membantu menyelesaikan tugas akademik.
Data ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian yang sangat dominan dalam proses belajar mahasiswa. Dominasi tersebut menandakan adanya pergeseran pola belajar, dari yang sebelumnya aktif dan eksploratif menjadi lebih instan dan praktis. Meskipun terlihat menguntungkan, kondisi ini memunculkan kekhawatiran serius mengenai bagaimana mahasiswa membangun cara berpikir mereka.
Dalam praktiknya, banyak mahasiswa mulai terbiasa mengandalkan jawaban instan dari AI tanpa melalui proses berpikir yang mendalam. Alih-alih menganalisis dan mengevaluasi informasi, mereka cenderung menerima hasil dari AI secara langsung. Kebiasaan ini secara nyata melemahkan kemampuan berpikir kritis, karena mahasiswa tidak lagi terlatih untuk menyusun argumen, mengolah informasi, dan memecahkan masalah secara mandiri.
Padahal, kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu tujuan utama pendidikan tinggi yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Tanpa proses berpikir tersebut, mahasiswa hanya menjadi penerima informasi pasif, bukan pembelajar aktif.
Selain itu, penggunaan AI tanpa batas juga menyebabkan pemahaman yang dangkal. Tugas akademik mungkin terlihat rapi, terstruktur, dan bahkan lebih “sempurna” dibandingkan hasil pemikiran sendiri, tetapi tidak mencerminkan pemahaman yang sebenarnya. Banyak mahasiswa hanya menyalin atau sedikit memodifikasi hasil dari AI tanpa benar-benar memahami isi dari tugas tersebut.
Hal ini menciptakan ilusi pemahaman, di mana mahasiswa merasa telah menguasai materi padahal sebenarnya tidak. Dalam jangka panjang, kondisi ini sangat berbahaya karena dapat menghasilkan lulusan yang kurang kompeten dan tidak siap menghadapi tantangan dunia kerja yang sesungguhnya.
Lebih jauh lagi, ketergantungan terhadap AI juga dapat menghambat perkembangan kreativitas mahasiswa. Kreativitas muncul dari proses berpikir, eksplorasi ide, serta keberanian untuk mencoba dan melakukan kesalahan. Namun, ketika mahasiswa terlalu bergantung pada AI, proses tersebut menjadi terpangkas.
AI cenderung memberikan jawaban yang sudah terstruktur dan umum, sehingga ruang untuk berpikir out of the box menjadi semakin sempit. Akibatnya, mahasiswa berisiko kehilangan kemampuan untuk menghasilkan ide-ide orisinal yang menjadi nilai penting dalam berbagai bidang, terutama di era yang menuntut inovasi tinggi.
Tidak hanya itu, penggunaan AI tanpa kontrol juga menimbulkan persoalan etika akademik. Ketika mahasiswa menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas tanpa pemahaman, muncul pertanyaan mengenai keaslian karya tersebut. Apakah tugas tersebut benar-benar hasil pemikiran mahasiswa, atau hanya hasil reproduksi dari mesin?
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka integritas akademik dapat mengalami penurunan. Mahasiswa menjadi terbiasa mencari jalan pintas, yang pada akhirnya dapat membentuk karakter yang kurang bertanggung jawab dalam proses belajar.
Meskipun AI pada dasarnya merupakan alat yang netral, dalam praktiknya penggunaan yang tidak dibatasi justru lebih banyak membawa dampak negatif bagi mahasiswa. Tanpa adanya kontrol, AI cenderung digunakan sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas, bukan sebagai alat bantu untuk memperdalam pemahaman.
Hal ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan terletak pada teknologinya, tetapi pada cara penggunaannya. Oleh karena itu, diperlukan batasan yang jelas dalam penggunaan AI di lingkungan akademik, baik melalui kebijakan institusi maupun kesadaran individu mahasiswa.
Selain peran kampus dan mahasiswa, pemerintah juga perlu turut andil dalam mengatur penggunaan AI di bidang pendidikan. Pemerintah dapat menetapkan kebijakan yang jelas terkait batasan penggunaan AI dalam kegiatan akademik, termasuk pedoman etika dan standar evaluasi pembelajaran.
Tanpa regulasi yang tegas, penggunaan AI berpotensi semakin tidak terkendali dan sulit diawasi. Dengan adanya campur tangan pemerintah, diharapkan tercipta sistem pendidikan yang tetap adaptif terhadap teknologi, tetapi tidak kehilangan tujuan utamanya dalam membentuk kemampuan berpikir mahasiswa.
Pembatasan penggunaan AI bukan berarti melarang sepenuhnya, melainkan mengatur agar penggunaannya tetap berada pada jalur yang mendukung proses belajar. Misalnya, AI dapat digunakan sebagai alat untuk mencari referensi awal, membantu memahami konsep yang sulit, atau memberikan contoh struktur tulisan. Namun, proses analisis, penalaran, dan penyusunan argumen tetap harus dilakukan oleh mahasiswa sendiri. Dengan demikian, AI berfungsi sebagai pendukung, bukan pengganti.
Peran dosen dan institusi pendidikan juga sangat penting dalam mengatur penggunaan AI ini. Dosen perlu merancang metode pembelajaran dan evaluasi yang tidak mudah diselesaikan hanya dengan bantuan AI, seperti tugas berbasis analisis, diskusi, atau presentasi yang menuntut pemahaman mendalam. Selain itu, edukasi mengenai penggunaan AI yang etis dan bertanggung jawab juga perlu diberikan kepada mahasiswa agar mereka tidak menyalahgunakan teknologi tersebut.
Penggunaan AI dalam dunia pendidikan memang tidak dapat dihindari. Namun, kemudahan yang ditawarkannya tidak boleh mengorbankan esensi utama pendidikan, yaitu melatih cara berpikir. Pembatasan penggunaan AI menjadi langkah penting agar mahasiswa tetap terlibat aktif dalam proses belajar yang kritis dan reflektif. Tanpa adanya pembatasan tersebut, AI justru berpotensi mengikis kemampuan intelektual mahasiswa secara perlahan.
Dengan demikian, AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu yang digunakan secara terbatas dan bijak, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Pembatasan yang tepat tidak hanya menjaga kualitas pembelajaran, tetapi juga memastikan bahwa mahasiswa tetap berkembang sebagai individu yang mampu berpikir secara mandiri, kritis, dan kreatif. Jika tidak, kemajuan teknologi yang seharusnya membantu justru dapat menjadi bumerang yang melemahkan kualitas generasi masa depan.
***
*) Oleh : Dina Ayu Wahidiyanti, Mahasiswi Program Studi S1 Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Negeri Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


