Advertisement
Kopi TIMES

Kebiasaan Kecil Menghancurkan Produktivitas

Scroll tanpa henti atau doomscrolling bukan sekadar kebiasaan sederhana, tetapi berkaitan erat dengan cara kerja otak manusia, khususnya dopamin. Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi memiliki pengaruh besar terhadap perilaku kita. 

TIMES Indonesia,
Arzeta Maheswari Basuki
Arzeta Maheswari Basuki - Kopi Times
Kebiasaan Kecil Menghancurkan Produktivitas
Arzeta Maheswari Basuki, Mahasiswi Semester 6 Universitas Negeri Malang.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

MALANG Di era serba digital ini, membuka media sosial seperti TikTok atau Instagram sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, terutama bagi anak muda. Konten video pendek yang mudah diakses dan terus diperbarui membuat banyak orang tidak sadar telah menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar gawai mereka. Aktivitas sederhana seperti menggulir layar (scrolling) di media sosial bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga berkaitan dengan cara kerja otak manusia.

Kebiasaan menggulir media sosial dalam waktu lama, atau yang sering disebut sebagai doomscrolling, bukan hanya masalah kurangnya kontrol diri. Perilaku ini juga dipengaruhi oleh sistem kerja otak yang secara alami merespons rasa senang. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut tidak sepenuhnya dilakukan secara sadar, melainkan dipicu oleh mekanisme biologis yang mendorong seseorang untuk terus mengulanginya.

Advertisement

Hal tersebut berkaitan dengan dopamin, yang sering disebut sebagai “hormon kebahagiaan”, yaitu senyawa kimia di otak (neurotransmitter) yang berperan penting dalam menciptakan rasa senang dan kepuasan. Setiap kali seseorang melihat sesuatu yang menarik atau menghibur, otak akan melepaskan dopamin sebagai bentuk “hadiah”.

Dopamin memberi sinyal pada aktivitas yang memicu kepuasan dan mendorong seseorang untuk mengulanginya demi mendapatkan perasaan yang sama. Inilah yang menjelaskan mengapa seseorang dapat terus menggulir (scrolling) media sosial tanpa merasa bosan.

Penggunaan media sosial seperti TikTok atau Instagram yang menyajikan konten video pendek memberikan pengalaman yang beragam dalam waktu singkat. Hal ini membuat otak terus penasaran dan mencari “kejutan” berikutnya. Selain itu, fitur scrolling tanpa batas membuat pengguna tidak memiliki titik akhir yang jelas, sehingga tanpa disadari seseorang dapat terus menggulir video tanpa henti.

Dampak dari kebiasaan ini tidak dapat dianggap sepele. Orang yang mengalami doomscrolling cenderung mengalami penurunan fokus, terutama saat melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dalam waktu lama, seperti belajar atau bekerja. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini juga dapat menurunkan produktivitas, kreativitas, serta memengaruhi kualitas hidup seseorang.

Masalah utama doomscrolling tidak hanya terletak pada teknologi itu sendiri, tetapi juga pada bagaimana teknologi tersebut dirancang dan digunakan oleh manusia. Tanpa disadari, seseorang dapat terjebak dalam pola berulang yang sulit dihentikan. Selain itu, kebiasaan ini juga berpotensi memengaruhi kemampuan berpikir serta mengelola waktu secara efektif.

Advertisement

Penting bagi kita untuk mulai mengontrol penggunaan media sosial. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membatasi waktu penggunaan atau menetapkan tujuan sebelum membuka aplikasi. Selain itu, melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dalam jangka waktu lebih lama juga dapat membantu mengembalikan fokus.

Scroll tanpa henti atau doomscrolling bukan sekadar kebiasaan sederhana, tetapi berkaitan erat dengan cara kerja otak manusia, khususnya dopamin. Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi memiliki pengaruh besar terhadap perilaku kita. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan pengendalian diri agar kita tetap dapat memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kendali atas waktu dan perhatian.

***

*) Oleh : Arzeta Maheswari Basuki, Mahasiswi Semester 6 Universitas Negeri Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia