Advertisement
Kopi TIMES

Kesadaran Lingkungan Tak Seimbang Aksi Nyata

Tanpa aksi nyata, kesadaran hanya akan menjadi wacana. Dan dalam konteks krisis lingkungan yang semakin mendesak, waktu untuk sekadar sadar sudah tidak lagi cukup. Saatnya bergerak.

TIMES Indonesia,
A
Aisyah Imanira Islam - Kopi Times
Kesadaran Lingkungan Tak Seimbang Aksi Nyata
Aisyah Imanira Islam, Mahasiswa.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

MALANG Kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang cukup menggembirakan. Kampanye tentang perubahan iklim, pengurangan sampah plastik, hingga pelestarian hutan semakin sering digaungkan, baik di media sosial maupun dalam forum-forum publik. Namun, di balik meningkatnya kesadaran tersebut, terdapat ironi yang sulit untuk diabaikan, yaitu aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari yang masih jauh dari harapan.

Fenomena ini tampak jelas dalam berbagai aspek kehidupan. Banyak individu yang secara verbal mendukung gerakan ramah lingkungan, tetapi belum konsisten dalam praktiknya. Misalnya, penggunaan kantong plastik sekali pakai masih marak, kebiasaan memilah sampah belum menjadi budaya umum, dan konsumsi berlebihan tetap menjadi pola hidup yang dominan. Kesadaran yang hanya berhenti pada level pengetahuan tanpa diikuti perubahan perilaku pada akhirnya hanya menjadi sekadar simbol, bukan solusi.

Advertisement

Salah satu faktor yang menyebabkan kesenjangan ini adalah kurangnya kemudahan akses terhadap fasilitas pendukung. Tidak semua daerah memiliki sistem pengelolaan sampah yang memadai atau fasilitas daur ulang yang mudah dijangkau. Akibatnya, masyarakat yang sebenarnya memiliki niat baik sering kali kesulitan untuk menerapkannya secara konsisten.

Selain itu, faktor kebiasaan dan kenyamanan juga berperan besar. Perubahan gaya hidup membutuhkan komitmen dan konsistensi, sesuatu yang tidak selalu mudah dilakukan. Dalam banyak kasus, pilihan yang lebih praktis dan murah sering kali mengalahkan pertimbangan lingkungan. Di sinilah pentingnya peran edukasi yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga persuasif dan aplikatif.

Peran pemerintah dan sektor swasta juga tidak bisa diabaikan. Regulasi yang tegas, serta penyediaan infrastruktur yang memadai dapat menjadi pendorong signifikan bagi perubahan perilaku masyarakat. Tanpa dukungan sistemik, upaya individu akan sulit berkembang menjadi gerakan kolektif yang berdampak luas.

Di sisi lain, media memiliki tanggung jawab yang seharusnya tidak hanya mengangkat isu, tetapi juga memberikan contoh konkret dan solusi praktis. Narasi yang terlalu sering menekankan pada ancaman tanpa menawarkan jalan keluar justru dapat menimbulkan kelelahan dan apatisme publik.

Kesadaran lingkungan sejatinya adalah langkah awal yang penting, tetapi tidak cukup. Tantangan ke depan adalah bagaimana mengubah kesadaran tersebut menjadi kebiasaan yang berkelanjutan. Dibutuhkan kolaborasi antara individu, komunitas, pemerintah, dan dunia usaha untuk menciptakan ekosistem yang mendukung perubahan tersebut.

Advertisement

***

*) Oleh : Aisyah Imanira Islam, Mahasiswa.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia