Kegagalan Perguruan Tinggi Membaca Zaman
Kompetisi kerja memang semakin keras. Namun kompetisi tidak akan menakutkan jika seseorang memiliki kompetensi yang kuat.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
WONOGIRI – Setiap tahun, jutaan lulusan perguruan tinggi keluar membawa ijazah, transkrip nilai, dan harapan besar untuk memasuki dunia kerja. Namun kenyataan di lapangan sering kali jauh berbeda. Banyak lulusan akhirnya bekerja tidak sesuai jurusan, menganggur, atau kalah bersaing karena kompetensi yang dimiliki tidak benar-benar dibutuhkan industri.
Di tengah kondisi itu, dunia pendidikan tinggi Indonesia sedang menghadapi pertanyaan besar: apakah kampus hari ini masih membangun kompetensi, atau hanya melahirkan peserta kompetisi?
Fenomena ini semakin terlihat ketika pemerintah mulai mewacanakan evaluasi dan bahkan penutupan sejumlah program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri dan pasar kerja. Pemerintah menilai terjadi ketimpangan antara jumlah lulusan dengan kebutuhan tenaga kerja yang tersedia. Beberapa jurusan dinilai menghasilkan lulusan terlalu banyak, sementara lapangan kerja yang mampu menyerap justru terbatas.
Kebijakan ini tentu menimbulkan perdebatan. Di satu sisi, langkah tersebut dianggap realistis karena dunia kerja berubah sangat cepat. Di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa perguruan tinggi akan terlalu tunduk pada logika pasar dan kehilangan fungsi intelektualnya. Namun, terlepas dari pro dan kontra itu, ada satu kenyataan yang sulit dibantah yaitu banyak lulusan memang belum siap menghadapi kompetisi kerja yang sesungguhnya.
Hari ini perusahaan tidak lagi hanya mencari orang pintar secara akademik. Dunia kerja membutuhkan individu yang mampu berpikir kritis, bekerja dalam tim, beradaptasi dengan teknologi, menyelesaikan masalah, dan terus belajar. Sayangnya, sebagian perguruan tinggi masih terjebak pada pola lama: mengejar teori, hafalan, dan nilai IPK tinggi, tetapi kurang memberi pengalaman nyata yang relevan dengan kebutuhan lapangan.
Akibatnya, lahirlah lulusan yang kompetitif di atas kertas, tetapi lemah dalam kompetensi praktis. Mereka mampu lulus ujian, tetapi kesulitan menghadapi tekanan kerja. Mereka memahami konsep, tetapi tidak siap menyelesaikan persoalan nyata. Inilah ironi pendidikan tinggi saat ini.
Persoalan sebenarnya bukan sekadar banyak atau sedikitnya jurusan yang dibuka. Masalah utamanya adalah apakah sebuah program studi mampu menghasilkan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan masa depan.
Dunia kerja hari ini bergerak ke arah fleksibilitas. Banyak perusahaan lebih menghargai keterampilan dibanding sekadar gelar. Bahkan tidak sedikit perusahaan teknologi global mulai mengurangi syarat ijazah formal dan lebih fokus pada kemampuan nyata pelamar.
Karena itu, kampus tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu. Perguruan tinggi harus menjadi ruang pembentukan karakter adaptif dan kemampuan multidisipliner. Mahasiswa perlu dibiasakan menghadapi persoalan riil, bukan hanya mengerjakan tugas untuk memenuhi absensi. Kampus juga harus lebih dekat dengan dunia industri, dunia usaha, dan perkembangan teknologi yang terus berubah.
Yang menarik, ancaman terbesar lulusan hari ini sebenarnya bukan hanya sesama sarjana, melainkan perubahan zaman itu sendiri. Kecerdasan buatan, otomatisasi, dan digitalisasi mulai menggantikan banyak pekerjaan administratif dan teknis. Jika perguruan tinggi tidak segera bertransformasi, maka banyak lulusan akan kalah bukan karena tidak pintar, tetapi karena kompetensinya sudah tidak relevan.
Penutupan sejumlah jurusan oleh pemerintah seharusnya tidak dipahami sebagai hukuman semata. Ini dapat menjadi alarm bahwa pendidikan tinggi tidak boleh berjalan dengan pola lama. Kampus perlu berani mengevaluasi diri: apakah jurusan yang dibuka benar-benar memiliki prospek, apakah kurikulumnya masih relevan, dan apakah lulusannya mampu bersaing secara nyata.
Kompetisi kerja memang semakin keras. Namun kompetisi tidak akan menakutkan jika seseorang memiliki kompetensi yang kuat. Dunia kerja tidak membutuhkan lulusan yang sekadar banyak, tetapi lulusan yang mampu memberi solusi. Di titik inilah perguruan tinggi diuji: menjadi pabrik ijazah, atau menjadi tempat lahirnya manusia yang siap menghadapi masa depan.
***
*) Oleh : Dony Purnomo, Guru Geografi SMAN 1 Purwantoro.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


