Advertisement
Kopi TIMES

Keraguan pada Kompetensi Mahasiswa

Tugas kita bukan menjauhkan mahasiswa dari AI, melainkan memastikan mereka tetap menjadi subjek yang berpikir dan berproses dalam pendidikan.

TIMES Indonesia,
Rahmadi
Rahmadi - Kopi Times
Keraguan pada Kompetensi Mahasiswa
Rahmadi, Dosen Prodi D3 Sistem Informasi Akuntansi, Fakultas Ilmu Terapan, Universitas Telkom.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

BANDUNG Mari jujur sejenak. Ketika dosen memberi tugas esai atau memberi penugasan mahasiswa merangkum materi, apa yang sebenarnya terjadi di mahasiswa?

Bukan lagi buku yang dibuka pertama kali. Bukan pula catatan kuliah yang ditelusuri perlahan. Yang paling sering muncul justru layar ‘ngobrol’ dengan AI (kecerdasan buatan). Tinggal ketik perintah, tekan enter, dan jadilah jawaban yang rapi, sistematis, bahkan terlihat “pintar”.

Advertisement

Sekilas, tidak ada yang salah. Teknologi memang memudahkan. Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika kemudahan dan kenyamanan itu mulai menggantikan proses berpikir. Mahasiswa tidak lagi “berkeringat” secara intelektual. Analisis dipangkas, nalar dipersingkat, dan pemahaman sering kali hanya berhenti di permukaan.

Narasi ini bukan berarti menyalahkan dan memusuhi kemajuan teknologi. Tapi dari beberapa literatur yang saya baca, menunjukkan ada pola yang cukup mengkhawatirkan. Studi dalam jurnal terbaru mulai memperlihatkan fenomena yang cukup konsisten: penggunaan AI dalam pembelajaran berpotensi menggeser bahkan mengurangi aktivitas berpikir kritis mahasiswa.

Studi di jurnal MDPI dengan judul “Will the Use of AI Undermine Students Independent Thinking?” menyoroti adanya risiko erosion of critical thinking, sementara penelitian lain mengidentifikasi fenomena cognitive offloading, yaitu kecenderungan mahasiswa memindahkan proses berpikir kepada mesin sehingga keterlibatan intelektual menurun (Yavich, 2025), menurut penelitin ini penggunaan AI akan memicu intellectual passivity (Hassen, 2025).

Selanjutnya studi MIT Media Lab menemukan bahwa saat mahasiswa menulis dengan bantuan AI, aktivitas otaknya justru lebih rendah, dan hasil tulisannya cenderung seragam dan kurang orisinal (Chow, Andrew R - Time, 2025).

Jika ditarik benang merahnya, memang bukan AI sebagai penyebab tunggal, melainkan artinya itu menegaskan adanya perubahan pola belajar: dari proses memahami menjadi sekadar proses menyelesaikan. Kalau mahasiswa hanya menerima hasil dari AI tanpa benar-benar memahami alurnya, maka yang terjadi bukan pembelajaran melainkan ilusi kompetensi.

Advertisement

Sekarang, cara belajar sedang berubah. Masalahnya sering kali bukan pada mahasiswanya. Mereka hanya beradaptasi dengan alat yang tersedia. karena teknologi memang dirancang untuk membantu. Jadi perlu hal yang ditelaah agar mahasiswa benar-benar mendapatkan ilmu dan keterampilan dari proses belajar.

Memang banyak faktor yang terlibat dalam proses pembelajaran. Ada ruang kampus, suasana akademik, dosen, tenaga penunjang akademik, fasilitas, orang tua wali mahasiswa, dan sebagainya. Tapi kali ini saya ingin mencoba ada faktor yang mungkin bisa dimulai dari ruang paling berpengaruh di mahasiswa yaitu ruang kelas dan ini juga berada di tangan dosen.

Salah satu tugas dosen adalah mendesain assessment. Jika selama ini cara dosen mengukur kemampuan mahasiswa menggunakan cara konvensional. Misal dengan memberikan tugas esai, atau tugas merangkum materi. Maka ini ibarat, dosen ingin mengukur kemampuan mahasiswa berlari, tapi mahasiswanya malah menggunakan kendaraan.  Cepat iya, tetapi tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya.

Assessment sebaiknya menjadi ruang untuk mereka bertumbuh, bukan semata untuk ruang ukur. Lalu, jika kenyataannya seperti ini, pertanyaannya bukan lagi apakah kita perlu berubah melainkan bagaimana kita mencoba merancang kembali agar assessment tatap mampu melihat proses berpikir (intelektualitas) berperan. Pengalaman saya sebagai dosen di Program Studi vokasi ada beberapa alternatif assessment yang bisa diberikan.

Pertama, tugas perlu bergeser ke arah proyek dan studi kasus yang lebih real. Tugas dialihkan dari menjawab menjadi mengerjakan. Proyek berbasis studi kasus bisa menjadi solusi. Mahasiswa tidak hanya diminta memberikan jawaban, tetapi merumuskan solusi.

Mereka boleh menggunakan AI, silakan. Justru itu bagian dari realitas hari ini. Tapi AI hanya menjadi alat bantu mengeksplorasi berbagai kemungkinan, bukan pengganti keputusan. Mereka tetap harus memilih, menimbang, dan menjelaskan alasan di balik pilihan tersebut.

Kedua, tugas observasi. libatkan data asli dan pengalaman di lapangan. Pengalaman semacam ini tidak bisa dicopy-paste. Mau tidak mau harus dialami, dirasakan, lalu diolah menjadi pemahaman. Contoh dalam penugasan mata kuliah akuntansi.

Mahasiswa diminta melakukan observasi sederhana. Mereka mencari tahu bagaimana pencatatan keuangan di usaha kecil, bagaimana praktik pengelolaan kas, atau bagaimana kesalahan dilakukan.

Ketiga, ini yang kadang terlewat. Penggunaan AI itu sendiri perlu dijadikan bagian dari assessment. mahasiswa diminta untuk menjelaskan bagaimana mereka menggunakan AI. Apa prompt yang digunakan, bagaimana alur instruksinya, bagian mana jawaban AI yang mereka terima, modifikasi, atau bahkan di tolak. Dalam istilah audit ini adalah audit trail jejak proses yang bisa ditelusuri.

Jadi, disini bukanlah hasil akhir semata yang dilihat. Mahasiswa tidak lagi menutupi dibalik jawaban yang terlihat sempurna, karena mereka harus menunjukkan prosesnya.

Pendekatan ini mungkin terasa merepotkan di awal. Dosen perlu lebih kreatif, menyesuaikan, dan mungkin sedikit keluar dari kebiasaan lama. Tugas kita bukan menjauhkan mahasiswa dari AI, melainkan memastikan mereka tetap menjadi subjek yang berpikir dan berproses dalam pendidikan.

***

*) Oleh : Rahmadi, Dosen Prodi D3 Sistem Informasi Akuntansi, Fakultas Ilmu Terapan, Universitas Telkom.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia