Ormek di Kampus Biru
Bangsa ini tidak butuh lebih banyak makelar suara. Kita butuh pemikir kritis yang punya integritas dan solusi.

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Mari kita jujur-jujuran saja. Melihat manuver Organisasi Mahasiswa Eksternal (Ormek) di seputaran Universitas Brawijaya belakangan ini, rasanya kayak nonton sinetron politik dengan budget pas-pasan.
Dulu, sejarah nyatet Ormek sebagai kawah candradimuka. Tapi sekarang? Coba deh mampir ke warkop-warkop daerah Kerto, Watugong, atau coffee shop hits di sepanjang Suhat setiap kali kalender akademik mulai mendekati musim Pemilu Mahasiswa (Pemilwa).
Boro-boro obrolannya nyerempet bedah buku, teori sosial, atau isu kerakyatan. Asap rokok di warkop sekarang lebih banyak bercampur dengan hitung-hitungan proyeksi suara, lobi-lobi elit fakultas, sampai deal-deal-an jatah kursi untuk Eksekutif Mahasiswa (EM) atau BEM Fakultas. Idealismenya mendadak diskon besar-besaran, tergantikan oleh pragmatisme kelas teri.
Bagian paling menyedihkannya ada di fase kaderisasi. Misi "pencerdasan intelektual" yang sering diteriakkan heroik pakai Toa pas euforia Raja Brawijaya sekarang kerasa kayak gimmick marketing doang. Maba yang masih polos, yang baru saja bangga pakai almamater biru dan semangat-semangatnya mau belajar, malah sering kali dikonversi jadi sekadar "sapi perah" elektoral.
Mereka didata rapi, dikerahkan jadi pasukan sorak buat kampanye di lapangan Rektorat atau gazebo fakultas, dan dijejali doktrin untuk milih "Kanda" atau "Yunda" si paling visioner. Di titik ini, Ormek nggak lebih dari sekadar Event Organizer (EO) pemenangan politik.
Lalu, bagaimana nasib para kader baru ini begitu pesta demokrasi kampus usai? Ditinggal nge-blur. Bimbingan intelektual dan literasinya lenyap bersamaan dengan dibongkarnya baliho kampanye di gerbang Veteran.
Gimana kita nggak pesimis? Kampus sebesar UB yang harusnya jadi dapur produksi pemikir kritis, mahasiswanya malah sibuk cosplay jadi politisi Senayan. Sibuk ribut-ribut soal kekuasaan kampus yang impact konkretnya ke masyarakat Malang apalagi Indonesia sering kali nyaris nol. Kalau budaya melacurkan intelektualitas demi jabatan ini terus diwajarkan, jangan marah kalau label "Maha" pada kata mahasiswa lama-lama cuma tinggal pajangan kosong.
Menolak Mati Suri
Meski udaranya sudah lumayan toxic dan bikin capek, saya pribadi masih menyimpan sedikit asa. Di tengah hiruk-pikuk elitisme dan obrolan bagi-bagi "kue" di tongkrongan Suhat ini, saya yakin masih ada segelintir kader waras yang muak.
Orang-orang anomali yang masih diam-diam ngopi di gazebo perpus sambil ngebaca buku sungguhan, yang berani mempertanyakan arah gerak organisasinya, dan menolak tunduk jadi sekadar bidak catur ambisi seniornya.
Ini harusnya jadi tamparan keras buat seluruh elemen Ormek di Brawijaya. Sudah waktunya bangun dari mabuk kepemimpinan kampus dan melakukan autokritik gila-gilaan. Kembali ke khittah: jadi ruang belajar, bukan markas partai.
Ikut andil dalam dinamika kampus itu sah-sah saja, anggaplah sebagai laboratorium manajemen konflik. Tapi tolong ingat, politik itu cuma alat, bukan tujuan akhir. Jangan sampai alatnya terlalu diagungkan sampai fungsi utama sebagai wadah pencerdasan malah dianaktirikan.
Bangsa ini tidak butuh lebih banyak makelar suara. Kita butuh pemikir kritis yang punya integritas dan solusi. Kalau Ormek nggak bisa mengembalikan ruh pencerdasannya, ya jangan salahkan kalau ke depan mahasiswa UB lebih milih work from cafe ngerjain freelance, ngejar magang MSIB, atau sekadar rebahan di kosan daripada buang waktu gabung organisasi. Mari waras Kembali.
***
*) Oleh : Muhammad Rizky azzumar, Mahasiswa.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


