Advertisement
Kopi TIMES

Kreativitas Tumbuh dalam Coretan

Setiap tahap kreativitas anak memiliki keindahannya sendiri. Coretan anak usia tiga tahun sama berharganya dengan gambar rinci anak usia dua belas tahun, karena keduanya menunjukkan proses tumbuh. 

TIMES Indonesia,
I Ketut Mahendra
I Ketut Mahendra - Kopi Times
Kreativitas Tumbuh dalam Coretan
Ilustrasi. (Foto: shutterstock )
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

SURABAYA Sering kali kita melihat gambar anak-anak dengan mata orang dewasa. Kita bertanya, “Mengapa rumahnya miring?” “Kenapa orangnya tidak punya leher?” “Mengapa lautnya warna ungu?” Pertanyaan seperti itu wajar, tetapi kadang membuat kita lupa bahwa anak tidak sedang mengikuti ujian menggambar. Anak sedang bercerita. Ia sedang menunjukkan cara pikir, perasaan, dan pengalamannya melalui garis, warna, dan bentuk

Viktor Lowenfeld dan W. Lambert Brittain dalam buku Creative and Mental Growth menjelaskan bahwa perkembangan seni anak berlangsung bertahap sesuai usia. Jadi, kreativitas anak tidak muncul sekaligus. Ia tumbuh pelan-pelan, seperti anak belajar berjalan, berbicara, lalu memahami dunia di sekitarnya. Setiap tahap memiliki ciri khas dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, orang tua dan guru sebaiknya tidak memaksa anak membuat karya seperti orang dewasa.

Advertisement

Tahap pertama adalah Scribbling Stage atau tahap mencoret, biasanya terjadi pada usia 2 sampai 4 tahun. Pada tahap ini, anak senang membuat garis sembarangan. Kadang melingkar, kadang panjang, kadang hanya berupa goresan kuat di kertas.

Bagi orang dewasa, coretan itu mungkin tidak berarti. Tetapi bagi anak, itu adalah pengalaman penting. Ia sedang mengenal gerak tangan, tekanan alat gambar, permukaan kertas, dan hubungan antara gerakan dengan bekas garis yang muncul. Di sinilah awal ekspresi diri dimulai.

Pada tahap mencoret, kita tidak perlu bertanya terlalu banyak, “Ini gambar apa?” Sebab anak mungkin belum bermaksud menggambar benda tertentu. Yang lebih penting adalah memberi ruang aman. Sediakan kertas, krayon, pensil warna, atau media lain yang mudah digunakan. Jangan terlalu cepat melarang. Jangan pula menuntut hasil. Biarkan anak menikmati proses mencoret, karena dari coretan itulah keberanian berkarya mulai tumbuh.

Tahap kedua adalah Preschematic Stage atau tahap pra-bagan, sekitar usia 4 sampai 7 tahun. Pada masa ini, anak mulai menggambar sesuatu yang bisa dikenali. Misalnya orang, rumah, pohon, hewan, mobil, atau anggota keluarga. Namun bentuknya belum lengkap. Orang bisa digambar hanya kepala besar dengan kaki. Tangan bisa muncul dari kepala. Rumah bisa lebih kecil dari bunga. Warna juga belum selalu sesuai kenyataan. Matahari bisa biru, rumput bisa merah, dan wajah bisa sangat besar.

Di tahap ini, anak menggambar berdasarkan hal yang penting baginya, bukan berdasarkan ukuran nyata. Kalau ibu digambar sangat besar, bukan berarti anak tidak paham ukuran tubuh. Bisa jadi ibu adalah sosok yang paling penting dalam hidupnya. Kalau kucing digambar lebih besar dari rumah, mungkin kucing itu sedang menjadi pusat perhatian anak. Jadi, karya anak perlu dibaca sebagai cerita, bukan sekadar bentuk visual.

Advertisement

Tahap ketiga adalah Schematic Stage atau tahap bagan, biasanya terjadi pada usia 7 sampai 9 tahun. Pada tahap ini, anak mulai memiliki pola tetap dalam menggambar. Misalnya, rumah selalu punya atap segitiga, pintu, dan dua jendela. Matahari sering berada di pojok atas. Tanah digambar sebagai garis panjang di bagian bawah kertas. Orang mulai memiliki tubuh, tangan, kaki, rambut, baju, dan ekspresi sederhana.

Tahap bagan menunjukkan bahwa anak mulai membangun konsep tentang dunia. Ia mulai memahami keteraturan. Ia punya simbol-simbol sendiri untuk menjelaskan lingkungan. Guru dan orang tua perlu menghargai pola ini. Jangan langsung berkata, “Rumah tidak selalu begitu,” atau “Matahari tidak harus di pojok.” Biarkan anak menikmati sistem visual yang ia bangun sendiri. Dari sana, perlahan-lahan ia akan mengembangkan variasi.

Tahap keempat adalah Dawning Realism atau tahap realisme awal, sering juga disebut Gang Age, sekitar usia 9 sampai 12 tahun. Pada masa ini, anak mulai lebih sadar terhadap kenyataan. Ia mulai memperhatikan detail, perbandingan ukuran, pakaian, gerak tubuh, dan hubungan antarbenda. Anak juga mulai membandingkan gambarnya dengan gambar teman. Di sinilah sering muncul kalimat, “Saya tidak bisa menggambar.”

Kalimat itu perlu diperhatikan. Banyak anak mulai kehilangan percaya diri pada tahap ini karena merasa gambarnya tidak mirip kenyataan. Padahal, kreativitas tidak boleh berhenti hanya karena gambar belum realistis. Orang dewasa perlu memberi dukungan. Katakan bahwa menggambar bukan hanya soal mirip, tetapi soal menyampaikan gagasan. Jika anak tertarik pada detail, arahkan dengan lembut. Jika anak lebih suka cerita, beri ruang untuk bercerita.

Tahap kelima adalah Pseudo-naturalistic Stage atau tahap pseudo-naturalistik, sekitar usia 12 sampai 14 tahun. Pada tahap ini, anak mulai memasuki masa remaja awal. Mereka lebih kritis terhadap karya sendiri. Mereka mulai memperhatikan proporsi tubuh, ruang, bayangan, warna, dan suasana. Karya seni mulai menjadi sarana untuk menunjukkan perasaan, identitas, bahkan kegelisahan.

Remaja pada tahap ini tidak cukup hanya diberi tugas “menggambar pemandangan”. Mereka perlu diberi tema yang dekat dengan hidupnya. Misalnya persahabatan, sekolah, keluarga, lingkungan, media sosial, kecemasan, cita-cita, atau budaya lokal. Seni dapat menjadi ruang aman untuk berbicara tanpa harus selalu memakai kata-kata. Guru perlu menjadi pendamping, bukan hakim.

Tahap keenam adalah Period of Decision atau masa keputusan, sekitar usia 14 sampai 17 tahun. Pada tahap ini, remaja mulai menentukan sikap terhadap seni. Ada yang menjadikan seni sebagai hobi. Ada yang melihatnya sebagai jalan karier. Ada pula yang merasa seni bukan bidangnya. Keputusan ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya. Jika sejak kecil ia sering dihargai, ia lebih mungkin percaya diri. Jika sejak kecil sering disalahkan, ia bisa menjauh dari seni.

Maka, tugas pendidikan seni bukan mencetak semua anak menjadi seniman. Tugas utamanya adalah membantu anak menjadi manusia yang peka, kreatif, berani berpikir, dan mampu mengekspresikan diri. Seni mengajarkan anak untuk melihat, merasakan, memilih, mencoba, gagal, memperbaiki, dan menemukan cara sendiri.

Setiap tahap kreativitas anak memiliki keindahannya sendiri. Coretan anak usia tiga tahun sama berharganya dengan gambar rinci anak usia dua belas tahun, karena keduanya menunjukkan proses tumbuh. Jangan buru-buru menilai. Dengarkan dulu ceritanya. Sebab di balik garis yang sederhana, ada dunia batin anak yang sedang berkembang.

***

*) Oleh : I Ketut Mahendra, Dosen.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia