Perasaan yang Terlalu Dihargai
Tidak semua yang kita sukai harus dimiliki. Tidak semua yang membuat nyaman harus diperjuangkan. Dan tidak semua kehilangan harus dianggap kerugian. Kadang, menjaga jarak adalah bentuk diversifikasi terbaik.

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
SUBANG – Perasaan, dalam banyak hal, bekerja seperti inflasi dalam ekonomi diam-diam, perlahan, tetapi dampaknya mampu menggerus fondasi kehidupan yang paling kokoh.
Awalnya, semuanya terasa kecil. Sebuah perhatian, sedikit harapan, satu pesan singkat di malam hari, atau tatapan yang terlalu lama di sebuah pertemuan sederhana. Nilainya tampak ringan, bahkan menyenangkan. Namun seperti inflasi, yang berbahaya bukan kenaikannya sesaat, melainkan akumulasinya yang tak terasa.
Ketika perasaan mulai tumbuh tanpa kendali, rasionalitas kehilangan daya belinya.Kita mulai membayar sesuatu yang terlalu mahal untuk hal yang belum tentu nyata. Waktu habis untuk memikirkan seseorang yang bahkan tidak sedang memikirkan kita. Energi terkuras untuk menafsirkan sikap yang mungkin sebenarnya biasa saja. Fokus kerja menurun, keputusan menjadi bias, bahkan harga diri perlahan ikut terdepresiasi.
Di titik itu, hati tidak lagi menjadi aset, ia berubah menjadi liabilitas.Perasaan yang tidak dikelola adalah inflasi emosional. Ia membuat ekspektasi naik lebih cepat daripada kenyataan. Kita menuntut kepastian dari sesuatu yang belum memiliki kontrak. Kita berharap dividen dari investasi yang bahkan belum disetujui pasar. Dan saat realitas tidak bergerak sesuai prediksi, yang terjadi adalah crash, bukan di bursa saham, tetapi di dalam perasaan terdalam.
Ekonomi mengajarkan bahwa inflasi yang sehat masih diperlukan; ia menandakan pertumbuhan. Begitu pula perasaan. Manusia tidak mungkin hidup tanpa rasa. Cinta, rindu, kagum, dan harapan adalah bagian dari nilai intrinsik kehidupan. Tetapi ketika perasaan tidak lagi dikendalikan oleh akal, ia berubah menjadi hiperinflasi: semua hal kehilangan makna, kecuali objek yang kita kejar.
Itulah sebabnya banyak orang tidak hancur karena kehilangan uang, tetapi karena kehilangan kendali atas rasa yang berupa perasaan tak terkendalikan. Perasaan yang berlebihan membuat seseorang rela mengorbankan prinsip, waktu, bahkan masa depan hanya demi kemungkinan yang belum tentu ada. Ia seperti investor panik yang terus membeli aset yang jelas-jelas overvalued, hanya karena takut kehilangan kesempatan.
Padahal, kedewasaan bukan tentang tidak punya perasaan, melainkan tahu kapan harus menahan likuiditas hati. Tidak semua yang kita sukai harus dimiliki. Tidak semua yang membuat nyaman harus diperjuangkan. Dan tidak semua kehilangan harus dianggap kerugian. Kadang, menjaga jarak adalah bentuk diversifikasi terbaik.
Karena hidup bukan hanya tentang mengejar apa yang kita inginkan, tetapi juga menjaga agar diri kita tidak bangkrut secara emosional. Sebab pada akhirnya, perasaan yang tidak terkelola memang seperti inflasi ekonomi, ia tidak langsung menghancurkan, tetapi perlahan menggerus sendi-sendi kehidupan, sampai kita sadar bahwa yang hilang bukan hanya cinta, melainkan segalanya dan tanpa tersisa.
***
*) Oleh : Cevi Herdian, Dosen.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


