Advertisement
Kopi TIMES

Mengurai Ekspresi Radikalisme Agama di Bima

Bima kembali menjadi perhatian dalam diskursus akademik mengenai radikalisme agama. Melalui disertasi berjudul Ekspresi Keagamaan Radikal Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharus Syariah (JAS) di Kota Bima

TIMES Indonesia,
Mengurai Ekspresi Radikalisme Agama di Bima
Arief Hidayatullah, Mahasiswa Doktor SOSIOLOGI, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

MALANG Bima kembali menjadi perhatian dalam diskursus akademik mengenai radikalisme agama. Melalui disertasi berjudul Ekspresi Keagamaan Radikal Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharus Syariah (JAS) di Kota Bima, Arief Hidayatullah, memaparkan hasil kajian mendalam mengenai bagaimana kelompok Jamaah Anshorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharus Syariah (JAS) membentuk pola pemahaman diri, interaksi sosial, tindakan sosial, serta penggunaan simbol keagamaan secara radikal di Kota Bima. Kajian ini tidak hanya menjelaskan fenomena radikalisme sebagai persoalan keamanan, tetapi juga sebagai gejala sosial-keagamaan yang kompleks dan berakar pada dinamika lokal.

Sebagai putra daerah Bima, Arief mengawali penelitiannya dari keprihatinan atas stigma yang kerap melekat pada wilayah kelahirannya. Bima sering dikaitkan dengan aktivitas terorisme atas nama agama, sehingga memunculkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana fenomena tersebut berkembang dan mengapa daerah ini menjadi salah satu lokasi yang menonjol dalam peta radikalisme di Indonesia Timur. Dari pertanyaan itulah disertasi ini lahir sebagai upaya akademik untuk mengurai persoalan secara lebih utuh dan berbasis analisis ilmiah.

Advertisement

Dalam penelitiannya, Arief menjelaskan bahwa radikalisme agama di Bima merupakan bagian dari jaringan radikalisme nasional yang telah berkembang sejak dekade 1990-an. Namun demikian, Bima memiliki karakter lokal tersendiri yang membuatnya menonjol sebagai salah satu kantong ideologis jaringan radikal. Sejumlah kajian terdahulu serta laporan keamanan menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki sejarah keterhubungan dengan jaringan Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Jamaah Ansharusy Syariah (JAS), hingga Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. Dengan demikian, persoalan radikalisme di Bima tidak dapat dipahami sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari perkembangan gerakan ekstremisme lintas wilayah.

Arief juga menelusuri akar historis kemunculan radikalisme di Bima melalui keterhubungan sejumlah tokoh lokal dengan jaringan NII, JI, dan gerakan jihad lintas daerah. Dalam laporan International Crisis Group, Bima disebut sebagai salah satu daerah tujuan pelarian dan rekrutmen pengikut JI setelah operasi besar-besaran terhadap jaringan teror pasca Bom Bali I. Pada periode berikutnya, hubungan Bima dengan kelompok radikal semakin kuat melalui mobilitas sosial, relasi keluarga, serta jejaring pernikahan antardaerah. Pola ini menunjukkan bahwa radikalisme tidak hanya tumbuh dari faktor ideologis, tetapi juga diperkuat oleh hubungan sosial yang bersifat personal dan kultural.

Salah satu aspek penting yang dibahas dalam disertasi ini adalah hubungan antara jaringan JAD Bima dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso di Poso. Hubungan tersebut memperlihatkan adanya koneksi ideologis dan logistik yang dibangun melalui ikatan kekerabatan dan kedekatan asal daerah. Dalam beberapa kasus, hubungan keluarga menjadi penghubung yang memperkuat mobilisasi anggota dan penyebaran pengaruh ideologis. Hal ini menegaskan bahwa radikalisme di Bima berkembang dalam struktur jaringan yang kompleks, tidak semata-mata berbasis organisasi formal, tetapi juga melalui relasi sosial yang cair dan lintas wilayah.

Di sisi lain, Arief menegaskan bahwa konteks sosial masyarakat Bima turut memberi ruang bagi tumbuhnya berbagai organisasi keagamaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, mayoritas penduduk Kota Bima beragama Islam, yang pada satu sisi mencerminkan homogenitas religius, namun di sisi lain juga membuka ruang kompetisi wacana dan otoritas keagamaan. Dalam konteks ini, kelompok-kelompok keagamaan memiliki peluang untuk berkembang, termasuk kelompok yang kemudian diberi label radikal. Oleh karena itu, radikalisme di Bima perlu dilihat sebagai hasil interaksi antara faktor historis, demografis, jaringan sosial, dan dinamika keagamaan lokal.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa intensitas aktivitas teror di Bima dapat dilacak melalui sejumlah peristiwa penangkapan dan operasi keamanan yang dilakukan aparat dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai kasus yang diungkap Densus 88 memperlihatkan bahwa Bima bukan hanya ruang ideologis, tetapi juga ruang operasional bagi jaringan radikal. Daerah ini pernah menjadi tempat persembunyian, basis logistik, maupun lokasi pembinaan bagi para anggota jaringan tertentu. Fakta tersebut memperkuat argumentasi bahwa Bima memiliki posisi penting dalam peta radikalisme nasional.

Advertisement

Untuk menganalisis persoalan tersebut, Arief menggunakan Teori Interaksionisme Simbolik dari George Herbert Mead. Menurut Mead, tindakan sosial manusia tidak muncul secara spontan, tetapi merupakan hasil dari proses penafsiran simbol, makna, dan interaksi sosial. Dalam teori ini, konsep mind, self, dan society menjadi landasan penting dalam memahami bagaimana individu dan kelompok membentuk identitas serta perilaku sosial. Teori ini digunakan Arief untuk membaca bagaimana kelompok JAD dan JAS membangun sistem makna yang memengaruhi cara berpikir, cara berinteraksi, dan cara bertindak para anggotanya.

Hasil analisis disertasi menunjukkan perbedaan yang cukup tegas antara JAD dan JAS. JAD cenderung membangun kesadaran yang kaku dan dikotomis, dengan struktur interaksi yang sentralistik dan sistem simbol yang lebih tertutup. Sementara itu, JAS memperlihatkan karakter yang lebih fleksibel dan pragmatis, dengan pola interaksi yang partisipatif serta simbol-simbol keagamaan yang lebih terbuka terhadap penafsiran. Perbedaan ini menunjukkan bahwa radikalisme tidak hadir dalam bentuk tunggal, melainkan memiliki variasi ekspresi, struktur, dan strategi internal yang berbeda.

Melalui disertasi ini, Arief Hidayatullah berhasil memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu sosial, khususnya dalam memahami radikalisme agama dari perspektif interaksi sosial dan simbolik. Lebih dari itu, kajian ini menjadi pengingat bahwa upaya memahami radikalisme harus dilakukan secara mendalam, kontekstual, dan berbasis kajian ilmiah agar tidak berhenti pada label atau stigma semata.

***

*) Oleh: Arief Hidayatullah, Mahasiswa Doktor SOSIOLOGI, Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang.

*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia