Di Balik Kontroversi Film Pesta Babi
Kontroversi film seperti Pesta Babi menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin aktif menilai isi media yang mereka konsumsi.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
CIREBON – Belakangan ini, film Pesta Babi menjadi bahan perbincangan di media sosial maupun lingkungan kampus. Sebagian orang menganggap film tersebut sebagai bentuk kebebasan berekspresi dan kritik sosial, sementara sebagian lainnya menilai isi dan pesan yang dibawanya terlalu sensitif untuk dipertontonkan secara bebas, terlebih di lingkungan pendidikan. Perdebatan ini menunjukkan bahwa film bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga media yang mampu memengaruhi cara berpikir masyarakat.
Dalam dunia perfilman, setiap karya tentu memiliki sudut pandang, pesan, dan target penonton tertentu. Tidak sedikit film yang sengaja dibuat kontroversial agar memancing diskusi publik. Hal itu sebenarnya wajar dalam industri kreatif. Namun, persoalan muncul ketika sebuah film dianggap membawa nilai yang bertentangan dengan norma sosial, budaya, atau agama yang hidup di masyarakat Indonesia. Di sinilah pentingnya sikap kritis penonton dalam menyikapi sebuah karya.
Film kontroversial sering kali menarik perhatian karena berani mengangkat tema yang jarang dibahas secara terbuka. Akan tetapi, keberanian dalam berkarya juga perlu disertai tanggung jawab moral. Kebebasan berekspresi memang penting dalam negara demokrasi, tetapi bukan berarti semua hal dapat ditampilkan tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi publik. Indonesia memiliki masyarakat yang beragam, dengan nilai budaya dan keagamaan yang cukup kuat. Maka, sensitivitas sosial tetap perlu dijaga.
Saya jadi ingat suasana tongkrongan selepas nobar di sebuah warung kopi dekat kampus. Ada yang baru selesai menonton film itu, lalu mulai saling berkomentar sambil menyeruput kopi sachet yang entah kenapa rasanya selalu lebih nikmat kalau ditemani obrolan serius bercampur guyonan receh.
“Sebetulnya film ini mau nyindir siapa, sih?” tanya seorang teman sambil membuka jaket almamaternya. Yang lain langsung menyahut, “Ya kita semua. Cuma kita nggak mau merasa disindir aja.” Lalu meja mendadak hening beberapa detik. Hening yang khas anak tongkrongan ketika bercandaan tiba-tiba berubah jadi diskusi filsafat dadakan.
Memang ada hal menarik dari film-film kontroversial semacam ini. Orang-orang sering datang dengan niat mencari hiburan, tetapi pulangnya malah membawa keresahan. Ada yang marah, ada yang tersinggung, ada yang merasa relate. Dan biasanya, semakin banyak yang merasa tersinggung, semakin ramai film itu dibicarakan.
Salah satu teman bahkan nyeletuk, “Kadang yang bikin kita nggak nyaman itu bukan filmnya, tapi karena kita sadar ada bagian dari hidup kita yang mirip sama yang ditampilkan di layar.” Kalimat itu terdengar seperti kutipan motivasi yang biasanya muncul di Instagram dengan latar senja. Tetapi setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga.
Film seperti Pesta Babi sebenarnya bukan cuma soal adegan atau simbol-simbol kontroversial. Di balik itu, ada gambaran tentang manusia modern yang sibuk mengejar pengakuan, kesenangan sesaat, dan validasi sosial. Orang-orang berlomba terlihat bahagia di media sosial, meski sebenarnya sedang lelah dengan hidupnya sendiri. Semua ingin tampil keren, tampil bebas, tampil paling “berbeda”, padahal diam-diam kehilangan arah.
Mungkin itu sebabnya film ini terasa dekat bagi sebagian anak muda. Bukan karena semua setuju dengan isinya, tetapi karena realitas yang ditampilkan terasa familiar. Tentang pergaulan yang makin bebas, obrolan yang makin sinis, dan generasi yang perlahan menganggap semua hal bisa dijadikan candaan.
Di sisi lain, larangan atau penolakan terhadap suatu film juga tidak selalu menjadi solusi terbaik. Membatasi diskusi justru bisa membuat masyarakat semakin penasaran tanpa memahami konteks sebenarnya. Yang lebih penting adalah membangun budaya literasi dan kedewasaan dalam menonton. Penonton perlu mampu membedakan mana hiburan, kritik sosial, satire, dan mana perilaku yang tidak layak ditiru. Film seharusnya dijadikan bahan refleksi, bukan sekadar konsumsi tanpa pemikiran.
Kadang kita terlalu sibuk memperdebatkan apakah sebuah film pantas tayang atau tidak, tetapi lupa bertanya: kenapa tema seperti itu bisa muncul dan terasa relevan di masyarakat? Bukankah karya seni sering lahir dari kegelisahan sosial? Bukankah film hanyalah cermin, sementara realitasnya sudah lebih dulu ada di sekitar kita?
Khusus di lingkungan kampus, perdebatan tentang boleh atau tidaknya nobar film tertentu juga menarik untuk dibahas. Kampus adalah ruang akademik yang menjunjung kebebasan berpikir, tetapi tetap memiliki etika dan tanggung jawab intelektual. Jika sebuah film ingin diputar di kampus, maka konteksnya harus jelas: apakah untuk diskusi akademik, kajian perfilman, atau sekadar hiburan. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi juga mampu menganalisis isi film secara kritis dan objektif.
Lucunya, mahasiswa memang makhluk unik. Saat dosen memberi tugas membaca jurnal 20 halaman, setengah kelas langsung mengeluh pusing. Tapi ketika ada film kontroversial berdurasi dua jam, tiba-tiba semua berubah jadi kritikus budaya.
Ada yang mendadak jadi pakar sensor film. Ada yang mendadak jadi pembela kebebasan berekspresi. Bahkan ada yang sebenarnya belum nonton, tetapi paling semangat membuat thread panjang di media sosial. Begitulah dunia hari ini bekerja. Kadang opini lebih cepat lahir daripada pemahaman.
Kontroversi film seperti Pesta Babi menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin aktif menilai isi media yang mereka konsumsi. Perbedaan pendapat adalah hal yang normal. Yang terpenting bukan sekadar setuju atau tidak setuju terhadap film tersebut, melainkan bagaimana masyarakat belajar bersikap bijak, kritis, dan tetap menghormati nilai-nilai yang ada.
Karena sebuah film mungkin hanya tayang beberapa jam, tetapi obrolan setelahnya bisa bertahan berhari-hari. Dan sering kali, justru obrolan di warung kopi, lorong kampus, atau kolom komentar itulah yang membuat kita sadar bahwa film bukan cuma tontonan, melainkan cermin kecil tentang keadaan zaman yang sedang kita jalani bersama.
***
*) Oleh : Idrus Malawie, Author, Mahasiswa Master of Education, Program Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


