Advertisement
Kopi TIMES

Membaca Etika Mahasiswa di Era Digital

Tantangan terbesar pendidikan tinggi hari ini bukan lagi bagaimana membuat mahasiswa semakin cerdas melainkan bagaimana memastikan kecerdasan itu tetap berjalan berdampingan dengan etika.

TIMES Indonesia,
Membaca Etika Mahasiswa di Era Digital
Rochama Sidiq, Jurnalis Suara Utama.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

Bandung Dunia pendidikan tinggi sejak lama diposisikan sebagai ruang lahirnya manusia yang tercerahkan. Kampus tidak hanya dibangun untuk mencetak lulusan dengan indeks prestasi tinggi, tetapi juga untuk melahirkan pribadi yang matang secara intelektual, emosional, dan moral. 

Karena itu, ketika publik menyaksikan perilaku mahasiswa yang kehilangan etika dalam berinteraksi, yang dipertanyakan bukan hanya individu yang bersangkutan, melainkan juga arah pendidikan itu sendiri.

Advertisement

Belakangan, ruang digital kembali dihebohkan oleh beredarnya percakapan yang memperlihatkan dugaan sikap arogan seorang mahasiswa terhadap orang yang lebih tua. Dari cerita yang beredar, persoalan bermula dari upaya komunikasi yang dilakukan secara baik-baik oleh seorang kepala keluarga yang ingin membuka ruang perkenalan dan musyawarah. Namun respons yang muncul justru bernada keras, menolak dialog, lalu diakhiri dengan pemutusan akses komunikasi secara sepihak.

Kasus semacam ini sesungguhnya tidak perlu dibaca semata sebagai konflik personal. Yang lebih penting untuk dipikirkan adalah gejala sosial yang ada di baliknya: apakah pendidikan tinggi kita sedang mengalami krisis etika?

Di tengah masyarakat Indonesia yang dibangun di atas nilai kekeluargaan dan penghormatan terhadap orang tua, persoalan sopan santun bukan sekadar formalitas budaya. Ia adalah fondasi relasi sosial. Orang boleh berbeda pendapat, menolak ajakan bertemu, atau menjaga batas privasi. 

Namun cara menyampaikan penolakan tetap menjadi ukuran kedewasaan. Yang sering terlupakan hari ini adalah bahwa pendidikan dan adab tidak pernah dipisahkan dalam tradisi keilmuan mana pun.

Dalam tradisi pesantren dikenal ungkapan bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Dalam tradisi pendidikan modern, karakter bahkan disebut sebagai kompetensi abad ke-21 yang sama pentingnya dengan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis. Sementara dalam filsafat pendidikan, kecerdasan tanpa etika hanya akan melahirkan manusia yang cakap, tetapi sulit hidup bersama orang lain.

Advertisement

Masalahnya, kita sedang hidup di zaman yang sering kali mengagungkan keberanian berbicara, tetapi lupa mengajarkan cara berbicara.

Media sosial membentuk generasi yang sangat cepat bereaksi. Semua bisa menjawab. Semua bisa berkomentar. Semua bisa menolak. Tetapi tidak semua terbiasa berdialog. Tidak semua terbiasa berbeda pendapat dengan tetap menjaga penghormatan.

Akibatnya, ruang digital perlahan mengubah cara kita membangun relasi. Percakapan yang seharusnya berlangsung hangat berubah menjadi singkat dan defensif. 

Ketika tidak nyaman, tombol blokir menjadi solusi tercepat. Ketika tidak setuju, nada tinggi dianggap bentuk ketegasan. Padahal ketegasan dan ketidaksopanan adalah dua hal yang berbeda. Di sinilah kampus menghadapi tantangan besar.

Perguruan tinggi selama ini sering sibuk mengejar reputasi akademik, akreditasi, publikasi ilmiah, dan capaian kompetitif. Semua itu penting. Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kampus juga serius mendidik karakter? Sebab kampus bukan sekadar tempat transfer pengetahuan. Kampus adalah ruang pembentukan kepribadian sosial.

Mahasiswa yang hari ini belajar di ruang kuliah, beberapa tahun lagi akan menjadi dokter, insinyur, dosen, hakim, pengusaha, birokrat, atau pemimpin masyarakat. Jika hari ini mereka gagal membangun etika dalam komunikasi sederhana, bagaimana kelak ketika mereka memegang keputusan yang menyangkut banyak orang? Namun pada saat yang sama, persoalan ini juga perlu dilihat secara proporsional.

Kita tidak boleh terburu-buru menghakimi hanya dari satu potongan percakapan atau satu kejadian tunggal. Setiap orang memiliki konteks, emosi, dan latar yang berbeda. 

Pendidikan juga mengajarkan prinsip audi alteram partem mendengar kedua belah pihak sebelum mengambil kesimpulan. Karena itu, yang dibutuhkan bukan budaya mempermalukan mahasiswa di ruang publik, melainkan budaya pembinaan.

Jika memang terjadi pelanggaran etika, kampus perlu hadir sebagai ruang pendidikan, bukan sekadar ruang penghukuman. Pendekatan dialog, konseling, pendampingan karakter, hingga pembiasaan etika komunikasi harus diperkuat. Sebab tujuan pendidikan bukan mencari siapa yang salah, tetapi memastikan setiap orang punya kesempatan untuk bertumbuh. Begitu pula bagi mahasiswa.

Menjadi dewasa bukan berarti bebas dari nasihat orang tua. Menjadi terdidik bukan berarti kebal dari tata krama. Menjadi kritis bukan berarti kehilangan hormat.

Ada banyak cara menolak tanpa merendahkan. Ada banyak cara menjaga privasi tanpa melukai. Ada banyak cara mempertahankan pendapat tanpa kehilangan adab.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya mengingat siapa yang paling pintar. Masyarakat lebih lama mengingat siapa yang tetap rendah hati ketika memiliki pengetahuan.

Gelar akademik memang bisa dicetak dalam hitungan tahun. Tetapi menjadi manusia yang beradab membutuhkan latihan sepanjang hidup.

Dan mungkin, tantangan terbesar pendidikan tinggi hari ini bukan lagi bagaimana membuat mahasiswa semakin cerdas melainkan bagaimana memastikan kecerdasan itu tetap berjalan berdampingan dengan etika. (*)

***

*) Oleh : Rochama Sidiq, Jurnalis Suara Utama.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia