Advertisement
Kopi TIMES

Kepercayaan Aset Ekonomi Utama

Bagi Indonesia, menjaga kepercayaan itu bukan hanya urusan pasar keuangan. Ia adalah syarat bagi pembangunan, lapangan kerja, stabilitas harga, perlindungan sosial, dan masa depan ekonomi bangsa.

TIMES Indonesia,
Dr Herwin Mopangga
Dr Herwin Mopangga - Kopi Times
Kepercayaan Aset Ekonomi Utama
Dr. Herwin Mopangga, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Gorontalo dan Ekonom di Universitas Negeri Gorontalo.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

GORONTALO Di tengah gaduh ekonomi global, orang mudah terpesona oleh yang tampak: dolar yang menguat, emas yang naik, harga minyak yang bergerak liar, atau indeks saham yang berayun tajam. Tetapi dalam ekonomi modern, yang paling mahal justru bukan yang berkilau, bukan pula yang dicetak di atas kertas bergambar presiden Amerika. Yang paling mahal adalah sesuatu yang tidak kasat mata: kepercayaan.

Kepercayaan adalah oksigen pasar. Ia tidak terlihat, tetapi ketika hilang, semua orang mendadak sesak. Negara boleh memiliki sumber daya alam melimpah, pasar domestik besar, dan cadangan fiskal yang cukup. Namun tanpa kepercayaan investor, semua potensi itu mudah berubah menjadi angka-angka yang tidak bergerak.

Advertisement

Indonesia hari ini berada dalam ruang ujian itu. Ekonomi nasional masih menunjukkan daya tahan. BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 sebesar 5,61 persen secara tahunan. PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun. Inflasi Mei 2026 berada pada 3,08 persen secara tahunan, masih dalam rentang yang relatif terkendali. Tetapi dunia tidak sedang baik-baik saja. Geopolitik memanas, harga energi mudah bergejolak, dan arus modal global bergerak semakin cepat mencari tempat yang dianggap paling aman.

Dalam situasi seperti ini, investor tidak hanya bertanya: berapa besar ekonomi Indonesia? Mereka bertanya lebih dalam: apakah fiskalnya kredibel? Apakah kebijakannya konsisten? Apakah defisitnya terkendali? Apakah pemerintah mampu menjaga disiplin tanpa mematikan pertumbuhan?

Di sinilah fiskal menjadi bahasa kepercayaan. APBN bukan sekadar dokumen pendapatan dan belanja negara. APBN adalah pernyataan moral dan teknokratik tentang bagaimana negara menjaga amanah publik. Ketika Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN April 2026 turun menjadi Rp164,4 triliun atau 0,64 persen terhadap PDB, pesan yang dikirim bukan hanya soal angka. Pesannya adalah: negara masih memegang kendali.

Pesan seperti ini penting karena pasar tidak hanya membaca neraca, tetapi juga membaca niat. Investor tahu bahwa defisit bukan dosa, sepanjang ia digunakan untuk membiayai produktivitas, melindungi masyarakat rentan, dan menjaga pertumbuhan. Yang berbahaya bukan defisit itu sendiri, melainkan defisit yang kehilangan disiplin, kehilangan arah, dan kehilangan kredibilitas.

Karena itu, komitmen menjaga batas defisit di bawah 3 persen PDB bukan sekadar kepatuhan terhadap aturan. Ia adalah jangkar psikologis bagi pasar. Dalam ekonomi, jangkar sering kali lebih penting daripada layar. Layar mendorong kapal bergerak, tetapi jangkar mencegahnya hanyut ketika badai datang.

Advertisement

Bank Indonesia pun membaca situasi yang sama. Kenaikan BI Rate menjadi 5,25 persen pada Mei 2026 menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar dan inflasi tidak boleh dikorbankan. Kebijakan moneter memang tidak selalu populer, tetapi dalam masa penuh ketidakpastian, stabilitas adalah bentuk lain dari perlindungan sosial. Rupiah yang terlalu bergejolak akan cepat masuk ke harga pangan, energi, transportasi, dan biaya hidup rakyat.

Kepercayaan investor juga tampak dari kedalaman pasar keuangan domestik. BEI mencatat jumlah investor pasar modal telah mencapai lebih dari 26 juta SID pada April 2026. Katadata, mengutip KSEI, mencatat pada Februari 2026 terdapat 22,97 juta investor pasar modal domestik, dan 99,76 persen di antaranya adalah investor ritel. Ini perkembangan penting. Pasar keuangan Indonesia tidak lagi hanya milik korporasi besar dan investor asing. Ia mulai menjadi ruang partisipasi kelas menengah, pekerja, guru, karyawan, mahasiswa, dan rumah tangga.

Namun justru karena basis investor domestik makin luas, menjaga kepercayaan menjadi semakin penting. Ketika pasar terguncang, yang terdampak bukan hanya investor asing di Singapura, Hong Kong, atau New York. Yang ikut merasakan adalah masyarakat biasa yang menabung di reksa dana, membeli SBN ritel, atau berinvestasi di saham untuk masa depan keluarganya.

Dalam konteks global, kepercayaan tidak dibangun oleh pidato yang indah, melainkan oleh konsistensi yang panjang. Investor global tidak menuntut Indonesia sempurna. Mereka tahu setiap negara berkembang memiliki risiko. Tetapi mereka membutuhkan kepastian bahwa risiko itu dikelola secara rasional, bukan emosional; secara institusional, bukan personal; secara transparan, bukan tertutup.

Di sinilah kualitas kelembagaan menjadi penentu. Fiskal yang kuat membutuhkan pajak yang kredibel, belanja yang produktif, subsidi yang tepat sasaran, utang yang terukur, serta komunikasi publik yang jernih. Kebijakan yang berubah-ubah, regulasi yang tumpang tindih, dan tata kelola yang lemah adalah pajak tersembunyi bagi investasi.

Indonesia masih memiliki modal besar. Pertumbuhan ekonomi relatif solid. Inflasi terkendali. APBN tetap ekspansif tetapi terukur. Pasar modal domestik makin dalam. Cadangan kepercayaan ini harus dirawat dengan disiplin, bukan dikonsumsi secara sembrono.

Sebab kepercayaan berbeda dengan dolar dan emas. Dolar dapat diperdagangkan. Emas dapat ditambang. Surat utang dapat diterbitkan. Tetapi kepercayaan hanya bisa dibangun melalui waktu, reputasi, dan integritas kebijakan. Sekali retak, biayanya mahal. Sekali hilang, pemulihannya panjang.

Maka benar: yang mahal itu bukan dolar. Bukan emas. Yang mahal adalah kepercayaan investor terhadap kapasitas fiskal negara. Dan bagi Indonesia, menjaga kepercayaan itu bukan hanya urusan pasar keuangan. Ia adalah syarat bagi pembangunan, lapangan kerja, stabilitas harga, perlindungan sosial, dan masa depan ekonomi bangsa.

***

*) Oleh : Dr. Herwin Mopangga, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia Cabang Gorontalo dan Ekonom di Universitas Negeri Gorontalo.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia