Tasawuf yang Dibajak
Tasawuf adalah jalan untuk meneladani Rasulullah SAW dalam memadukan kesalehan spiritual, ketaatan syariat, dan tanggung jawab sosial. Ia hadir untuk menyucikan jiwa, memperhalus akhlak, dan mendekatkan manusia kepada Allah.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Belakangan ini, publik kembali dikejutkan oleh berbagai kasus penyimpangan dan kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan keagamaan. Tidak hanya kekerasan fisik, sebagian kasus bahkan menyentuh bentuk-bentuk kekerasan seksual yang sangat memprihatinkan. Ironisnya, pelaku dalam sejumlah kasus tersebut justru merupakan figur yang memiliki otoritas keagamaan.
Tempat yang seharusnya menjadi ruang pembinaan moral dan spiritual terkadang berubah menjadi arena penyalahgunaan kuasa. Situasi ini memunculkan pertanyaan yang wajar di tengah masyarakat: bagaimana memastikan pendidikan agama tetap menjadi ruang yang aman dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan?
Di Indonesia, pendidikan keagamaan sering kali diasosiasikan dengan pesantren. Sebagian besar pesantren telah memberikan kontribusi besar bagi pendidikan, pembentukan karakter, dan pengembangan masyarakat. Namun demikian, pada beberapa lembaga yang masih bercorak sangat paternalistik, figur kiai, ustaz, atau guru agama sering menempati posisi sentral dalam pengambilan keputusan dan menjadi rujukan utama dalam berbagai aspek kehidupan santri.
Posisi yang sangat dihormati ini pada dasarnya merupakan amanah yang mulia, tetapi pada saat yang sama dapat berpotensi disalahgunakan apabila tidak diimbangi dengan mekanisme pengawasan dan akuntabilitas yang memadai.
Dalam konteks inilah tasawuf sering kali ikut terseret dalam perbincangan. Padahal, tasawuf pada hakikatnya merupakan disiplin yang mengajarkan penyucian jiwa dan pendalaman makna ibadah. Tasawuf tidak berhenti pada pelaksanaan ritual secara lahiriah, tetapi juga berupaya menghadirkan kesadaran batin agar seseorang dapat merasakan hikmah di balik setiap ajaran agama.
Dalam tradisi tasawuf, seorang syekh atau murabbi dipahami bukan hanya sebagai pengajar ilmu, melainkan juga pembimbing spiritual. Hubungan antara murid (sālik) dan pembimbing spiritual memang memiliki dimensi kedekatan yang lebih mendalam dibandingkan relasi guru dan murid pada umumnya. Namun kedekatan tersebut tidak pernah dimaksudkan untuk meniadakan daya kritis, apalagi melahirkan kepatuhan mutlak yang mengabaikan batas-batas syariat.
Salah satu konsep yang sering disalahpahami adalah karamah. Dalam literatur tasawuf, karamah dipahami sebagai anugerah Allah kepada sebagian hamba-Nya yang saleh. Akan tetapi, para ulama tasawuf sejak dahulu telah menegaskan bahwa karamah bukan tujuan perjalanan spiritual dan bukan pula ukuran utama kedekatan seseorang kepada Allah. Ukuran utama tetaplah ketakwaan, akhlak, dan konsistensi dalam menjalankan syariat.
Sayangnya, dalam berbagai kasus penyimpangan yang mencuat belakangan ini, unsur-unsur mistik, supranatural, dan klaim keberkahan kerap digunakan untuk membangun legitimasi semu. Sebagian pelaku memanfaatkan kedudukannya sebagai tokoh agama untuk menciptakan narasi spiritual yang menempatkan dirinya seolah-olah memiliki kedudukan khusus yang tidak dapat dipertanyakan.
Tidak jarang korban dibuat percaya bahwa kepatuhan kepada sang guru merupakan bagian dari jalan menuju keberkahan atau kemajuan spiritual. Padahal, pola semacam ini justru bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar tasawuf yang autentik.
Kesalahpahaman serupa juga sering muncul dalam pemaknaan tingkatan perjalanan spiritual yang dikenal dengan istilah syariat, tarekat, dan hakikat. Secara sederhana, syariat dapat dipahami sebagai pelaksanaan ketentuan-ketentuan agama yang ditetapkan Allah.
Tarekat merupakan proses penyucian jiwa dan pendisiplinan diri dalam menjalankan syariat tersebut. Adapun hakikat adalah pemahaman yang semakin mendalam terhadap makna kehadiran Allah dalam kehidupan seorang hamba.
Masalah muncul ketika konsep hakikat disalahgunakan untuk membenarkan pengabaian syariat. Sebagian kelompok mengklaim bahwa seseorang yang telah mencapai tingkat hakikat tidak lagi memerlukan ibadah-ibadah lahiriah. Pandangan semacam ini jelas bertentangan dengan ajaran para ulama tasawuf sendiri. Semakin tinggi tingkat spiritual seseorang, semakin kuat pula komitmennya terhadap syariat.
Karena itu, para ulama sejak dahulu telah memberikan peringatan yang sangat tegas. Dalam Ṭabaqāt al-Syāfi‘iyyah, Imam Syafi'i meriwayatkan perkataan gurunya, Al-Laits bin Sa'ad:
إذا رأيتم الرجل يمشي على الماء ويطير في الهواء فلا تغتروا به حتى تعرضوا أمره على الكتاب والسنة
"Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara, janganlah kalian tertipu olehnya hingga kalian menguji perkaranya dengan Al-Qur'an dan Sunnah."
Pesan yang sama juga ditegaskan oleh Abu Yazid al-Busthami dan dikutip kembali oleh Abdul Halim Mahmud ketika membahas tasawuf Imam Al-Ghazali:
لو نظرتم إلى رجل أُعطي من الكرامات حتى يرتقي في الهواء فلا تغتروا به حتى تنظروا كيف تجدونه عند الأمر والنهي وحفظ الحدود وأداء الشريعة
"Seandainya kalian melihat seseorang dianugerahi berbagai karamah hingga dapat melayang di udara, janganlah kalian tertipu olehnya sampai kalian memperhatikan bagaimana ia menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah serta menjaga syariat-Nya."
Peringatan para ulama tersebut menunjukkan bahwa ukuran kebenaran spiritual bukanlah kemampuan luar biasa, melainkan ketaatan kepada syariat.
Gagasan yang serupa juga dapat ditemukan dalam pemikiran Muhammad Iqbal. Ketika menafsirkan peristiwa Isra Mikraj, Iqbal tidak melihatnya semata-mata sebagai perjalanan spiritual yang mengantarkan Nabi Muhammad menuju pengalaman religius tertinggi.
Yang lebih penting bagi Iqbal adalah kenyataan bahwa setelah pengalaman agung tersebut Nabi kembali ke tengah masyarakat untuk melaksanakan misi kenabian. Bagi Iqbal, puncak spiritualitas bukanlah pelarian dari realitas, melainkan kemampuan mentransformasikan realitas berdasarkan nilai-nilai ketuhanan.
Dengan demikian, tasawuf yang sejati tidak pernah mengajarkan pengasingan diri dari tanggung jawab sosial, apalagi pembebasan dari syariat. Tasawuf justru berupaya menjadikan syariat lebih hidup dalam kesadaran seorang Muslim.
Tidak mengherankan jika "buah tangan" terbesar dari peristiwa Isra Mikraj adalah kewajiban salat, sebuah ibadah yang terus dijaga oleh Rasulullah dan para sahabat dalam berbagai keadaan.
Oleh sebab itu, berbagai penyimpangan yang mengatasnamakan karamah, keberkahan, atau maqam spiritual tertentu sesungguhnya tidak dapat dijadikan representasi tasawuf. Yang terjadi bukanlah praktik tasawuf, melainkan penyalahgunaan simbol-simbol tasawuf untuk membangun legitimasi dan kekuasaan.
Meski demikian, upaya mencegah penyimpangan tidak cukup hanya dengan meluruskan pemahaman keagamaan. Lembaga pendidikan agama juga perlu membangun tata kelola yang sehat, sistem pengawasan yang efektif, serta mekanisme perlindungan yang berpihak kepada korban. Spiritualitas yang mendalam harus berjalan beriringan dengan akuntabilitas kelembagaan yang kuat.
Tasawuf adalah jalan untuk meneladani Rasulullah SAW dalam memadukan kesalehan spiritual, ketaatan syariat, dan tanggung jawab sosial. Ia hadir untuk menyucikan jiwa, memperhalus akhlak, dan mendekatkan manusia kepada Allah. Karena itu, tindakan-tindakan yang melanggar syariat dan merendahkan martabat manusia tidak hanya merupakan pelanggaran moral, tetapi juga pengkhianatan terhadap hakikat tasawuf itu sendiri.
***
*) Oleh : Jafar S Abrurakhman, Dosen.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


