Ibrahim, Ismail, dan Pelajaran tentang Menjadi Ayah
Setiap Iduladha seharusnya tidak hanya mengingatkan kita pada ketajaman pisau Ibrahim. Iduladha juga mengingatkan kita pada kelembutan dialognya dengan Ismail.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Setiap bulan Dzulhijjah, umat Islam kembali mengenang kisah Nabi Ibrahim AS. Mimbar-mimbar khutbah dipenuhi cerita tentang kepatuhan seorang nabi yang rela mengorbankan putranya demi menjalankan perintah Allah SWT. Pesan tentang pengorbanan menjadi tema utama yang terus diulang dari tahun ke tahun.
Ada satu bagian penting dari kisah tersebut yang sering kali luput dari perhatian kita. Sebelum ada pisau, ada percakapan. Sebelum ada perintah kurban, ada hubungan yang dibangun dengan penuh kepercayaan antara seorang ayah dan anaknya. Barangkali justru di situlah letak pelajaran terbesar Iduladha bagi kehidupan modern hari ini.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap fenomena fatherless di Indonesia, kisah Ibrahim tidak cukup dipahami hanya sebagai simbol kepatuhan kepada Tuhan. Kisah tersebut juga menyimpan pelajaran berharga tentang bagaimana seorang ayah hadir dalam kehidupan anaknya, membangun komunikasi, menanamkan nilai, dan menumbuhkan kepercayaan yang kelak menjadi fondasi karakter seorang anak.
Isu fatherless belakangan menjadi perhatian banyak kalangan. Data BKKBN tahun 2025 menunjukkan sekitar 25,8 persen keluarga yang memiliki anak berpotensi mengalami kondisi fatherless. Sementara analisis data Susenas BPS Maret 2024 memperkirakan sekitar 15,9 juta anak Indonesia atau 20,1 persen dari total anak di bawah usia 18 tahun mengalami kekurangan keterlibatan ayah dalam pengasuhan.
Angka tersebut tidak selalu berarti seorang anak kehilangan ayah secara biologis. Dalam banyak kasus, seorang ayah tetap tinggal serumah, tetap bekerja mencari nafkah, bahkan hadir setiap hari secara fisik. Namun kehadiran itu tidak selalu diikuti dengan keterlibatan emosional. Sang ayah ada, tetapi tidak benar-benar hadir dalam kehidupan anaknya.
Perspektif psikologi perkembangan memperkuat temuan tersebut. Teori attachment yang dikembangkan oleh John Bowlby menjelaskan bahwa kualitas hubungan emosional antara anak dan figur pengasuh memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian, rasa percaya diri, kemampuan membangun relasi sosial, hingga kesehatan mental seseorang ketika dewasa.
Karena itu, persoalan utama fatherless bukan sekadar absennya sosok ayah, melainkan absennya komunikasi, kedekatan emosional, dan keterlibatan aktif seorang ayah dalam proses tumbuh kembang anak.
Menariknya, kisah Nabi Ibrahim justru memberikan perspektif yang sangat relevan dengan kondisi tersebut. Al-Qur'an mengisahkan bahwa Ibrahim pernah mengalami fase berpisah secara geografis dengan keluarganya. Ketika meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus Makkah, beliau berdoa:
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati." (QS. Ibrahim [14]: 37). Pada ayat lain beliau juga berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat." (QS. Ibrahim [14]: 40).
Doa-doa tersebut menunjukkan bahwa meskipun terpisah oleh jarak, perhatian Ibrahim tidak pernah terputus dari keluarganya. Yang dipikirkan bukan hanya keselamatan fisik anaknya, tetapi juga masa depan spiritual dan moralnya. Bahkan dalam riwayat Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa Ibrahim beberapa kali kembali mengunjungi Ismail setelah meninggalkannya di Makkah. Artinya, perpisahan geografis tidak pernah berubah menjadi keterputusan hubungan.
Pelajaran ini terasa sangat relevan hari ini ketika banyak ayah harus bekerja di luar kota, bahkan di luar negeri. Kisah Ibrahim mengajarkan bahwa jarak fisik tidak harus berubah menjadi jarak emosional. Yang menentukan kualitas hubungan bukanlah seberapa sering bertemu, melainkan seberapa kuat perhatian, komunikasi, dan ikatan yang terus dirawat. Puncak pelajaran itu kemudian terlihat dalam peristiwa yang menjadi dasar peringatan Iduladha. Allah SWT berfirman:
"Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.' Dia menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'" (QS. Ash-Shaffat [37]: 102).
Menurut Ath-Thabari, frasa "ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya" menunjukkan fase ketika Ismail telah memasuki usia remaja dan mampu membantu pekerjaan ayahnya. Artinya, terdapat rentang waktu yang panjang sejak perpisahan di Makkah hingga peristiwa kurban tersebut terjadi. Namun justru di sinilah letak keistimewaannya.
Banyak orang memusatkan perhatian pada perintah penyembelihan. Padahal sebelum perintah itu dilaksanakan, Al-Qur'an terlebih dahulu mengabadikan sebuah dialog. "Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu."
Kalimat pendek ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat revolusioner. Seorang nabi yang menerima wahyu langsung dari Allah tetap membuka ruang dialog dengan anaknya. Seorang ayah yang memiliki otoritas penuh tetap memberikan kesempatan kepada anaknya untuk berpikir dan menyampaikan pendapat.
Ibrahim tidak memperlakukan Ismail sebagai objek yang hanya dituntut untuk patuh. Ia mengajaknya memahami persoalan, merenungkannya, dan terlibat dalam keputusan besar yang akan memengaruhi hidup mereka berdua.
Di sinilah Al-Qur'an menghadirkan pelajaran pendidikan yang luar biasa. Yang ditonjolkan bukan semata-mata keberanian untuk berkorban, tetapi proses pendidikan yang melahirkan kesiapan untuk berkorban. Sebab pengorbanan yang lahir dari paksaan hanya menghasilkan kepatuhan sesaat. Sebaliknya, pengorbanan yang lahir dari kepercayaan akan menghasilkan kesadaran dan ketulusan. Respons Ismail menjadi bukti nyata dari proses panjang tersebut. "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu."
Jawaban seperti itu tidak lahir dalam semalam. Kepercayaan sebesar itu tidak muncul hanya karena Ibrahim adalah seorang nabi. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tua memiliki otoritas, tetapi tidak memiliki kedekatan emosional dengan anak-anaknya. Otoritas memang dapat melahirkan kepatuhan. Namun hanya kepercayaan yang mampu melahirkan ketulusan.
Karena itu, yang paling menarik dari kisah Ibrahim bukan semata keberhasilannya memiliki anak yang saleh. Yang lebih menarik adalah bagaimana hubungan tersebut dibangun. Al-Qur'an tidak menggambarkan relasi yang bertumpu pada rasa takut. Sebaliknya, relasi itu dibangun melalui komunikasi yang sehat, keteladanan yang konsisten, dan kepercayaan yang tumbuh dari waktu ke waktu. Di sinilah kisah Ibrahim menjadi sangat relevan dengan krisis fatherless yang sedang dihadapi banyak keluarga modern.
Salah satu dampak paling serius dari minimnya keterlibatan ayah bukan sekadar berkurangnya waktu bersama, melainkan hilangnya ruang dialog dalam keluarga. Banyak anak mengenal ayahnya sebagai pencari nafkah, tetapi tidak menjadikannya tempat bertanya. Mereka menghormati ayahnya, tetapi tidak merasa dekat dengannya. Hubungan yang terbentuk akhirnya lebih bersifat struktural daripada emosional.
Padahal, kisah Ibrahim menunjukkan bahwa kualitas hubungan ayah dan anak tidak hanya ditentukan oleh kedekatan fisik. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan seorang ayah menghadirkan dirinya dalam dunia anaknya: mendengar, berdialog, membimbing, dan membangun kepercayaan.
Ironisnya, di era ketika teknologi memungkinkan seseorang berbicara dengan orang lain yang berada ribuan kilometer jauhnya hanya dalam hitungan detik, sebagian orang tua justru kehilangan percakapan dengan anak yang tinggal dalam satu rumah. Kita semakin mudah terhubung dengan yang jauh, tetapi perlahan menjauh dari yang dekat.
Karena itu, setiap Iduladha seharusnya tidak hanya mengingatkan kita pada ketajaman pisau Ibrahim. Iduladha juga mengingatkan kita pada kelembutan dialognya dengan Ismail.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap fenomena fatherless, mungkin pelajaran yang paling mendesak untuk dihidupkan kembali hari ini bukanlah tentang bagaimana menyembelih hewan kurban, melainkan bagaimana membangun hubungan yang sehat dengan anak-anak kita.
Sebab yang diabadikan Al-Qur'an bukan hanya pisau Ibrahim, tetapi juga percakapannya dengan Ismail. Dan boleh jadi, dari dialog itulah kita menemukan salah satu pelajaran pengasuhan paling berharga bagi keluarga-keluarga Indonesia hari ini.
***
*) Oleh : Jafar S Abrurakhman, Dosen Agama Islam Universitas Brawijaya.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


