Seni Kepemimpinan Nasaruddin Umar
Letak kemuliaan seorang pemimpin; bukan pada tindakan balasan atau pada kekerasan kata-kata, tetapi kelembuatan hati yang berani mengucapkan kata “maaf”.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
JAKARTA – Semua orang memiliki hak yang sama untuk menjadi pemimpin, tetapi tidak semua orang mampu menjalankan kepemimpinannya. Di ujung pelosok desa sana, seorang Kepala Desa terpilih sebagai peraih suara terbanyak dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), namun di tengah perjalanan memimpin desanya ia tersandung kasus mark-up anggaran dana Bantuan Sosial (Bansos), ini tidak menjalankan kepemimpinannya.
Seorang Bupati dan Gubernur di Provinsi yang sama, juga tersandung kasus korupsi, ini pun tidak menjalankan kepemimpinannya. Seorang Menteri dan Wakil Menteri keluar dari gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan memakai rompi orange, ini juga tidak menjalankan kepemimpinannya.
Meskipun masih banyak fenomena lainnya, tetapi pernyataan di atas menjadi sebuah bukti bahwa menjalankan kepemimpinan itu tidak mudah, susah dan sulit ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Terbersit dalam benak publik hari ini bahwa kepemimpinan hari ini tong kosong nyaring bunyinya, pekat, pahit yang ujungnya hanya akan membawa kita pada kesengsaraan.
Kepemimpinan yang dijalankan dengan metode berat ke kanan atau berat ke kiri, tumpul ke atas dan tajam ke bawah hanya akan menghasilkan yang penulis sebut sebagai degradasi kepemimpinan. Namun di tengah masifnya degradasi kepemimpinan hari ini, ada salah satu tokoh yang mampu mengeksekusi kepemimpinannya sebagai jalan tengah. Ia adalah Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah (2026) menyebut, Nasaruddin Umar bukan hanya Menteri Agama RI, tetapi juga ulama-intelektual, guru besar tafsir, Imam Besar Masjid Istiqlal, dan pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Agama.
Selain itu, ia juga sebagai Rektor Universitas PTIQ Jakarta, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) As’adiyah Sengkang, Wajo – Sulawesi Selatan dan Pendiri Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone. Berdasarkan hal tersebut, Nasaruddin Umar mengelola kepemimpinan yang mampu menjembatani beragam kepentingan yang penulis sebut sebagai jalan tengah kepemimpinan.
Negara-Bangsa hari ini membutuhkan sosok pemimpin yang bukan anti politik, namun tidak dicengkram oleh politik, tidak jauh dari kekuasaan, namun tidak tersubornisasi oleh kekuasaaan. Itulah seni kepemimpinan Nasaruddin Umar, metode kepemimpinannya dapat dinikmati oleh semua kalangan. Ia mampu menyatukan sesuatu yang sulit bahkan tidak bisa diterima, ibarat musik, syairnya begitu syahdu untuk dinikmati dan didengarkan.
Sebagai seorang pemimpin di lembaga eksekutif, Nasaruddin Umar mampu membawa Kementerian Agama RI sebagai lembaga negara yang produktif. Baru menjabat kurang lebih dua tahun setelah ia dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Kabinet Merah Putih periode 2024-2029 di Istana Merdeka, pada 21 Oktober 2024, Kementeri Agama di bawah kepemimpinannya telah banyak menorehkan prestasi.
Misalnya pada tahun 2025, Kementerian Agama menerima penghargaan TOP GPR Award pada kategori komunikasi publik. Penghargaan ini diterima atas konsistensi Kementerian Agama dalam membangun komunikasi yang inklusif, responsif dan dekat dengan masyarakat. Penghargaan ini menjadi bukti tentang bagaimana Nasaruddin Umar mengeksekusi kepemimpinannya dengan model egaliter.
Menerima penghargaan Popular Government Institutions Award di tahun yang sama. Penghargaan tersebut diberikan berdasarkan Survei The Economics. Masih tahun 2025, Kementerian Agama kembali menerima penghargaan sebagai Badan Publik Terfavorit dari Komisi Informasi Pusat (KIP). Berdasarkan penilaiannya, Kementerian Agama menjadi salah satu instansi yang berhasil menarik publik melalui inovasi dan strategi komunikasi yang informatif, interaktif dan mudah diakses, TOP GPR Figure Award 2025, Penghargaan Penyusunan Buku Keagamaan Antikorupsi 2025.
Hingga pada tahun 2026, Menteri Agama menerima Penghargaan Golden Leader sebagai Penggerak Ekonomi Nasional Berbasis Pesantren, Penghargaan Tokoh Kerukunan Umat Beragama. Penghargaan ini merujuk pada kemampuan Nasaruddin Umar dalam mengelola lembaga pendidikan keagamaan dan menjadi solution maker di tengah maraknya konflik horizontal atas nama agama.
Kementerian Agama mampu menjembatani beragam kepentingan diwujudkan melalui kerukunan antar umat beragama, bahwa semua agama memiliki hak yang sama untuk menjalankan kegiatan-kegiatan keagamaannya tanpa intrik dan persekusi.
Terbaru, Kementerian Agama menerima penghargaan Adhi Manawa Nugraha Pratama dalam Implementasi Kebijakan Pro Karir ASN. Sebuah jejak kepemimpinan yang mengurai kebijakan yang pro terhadap warga negara termasuk kepada pihak yang diberikan amanah sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).
Ini adalah seni mengelola kepemimpinan, menurut Plato bahwa kepemimpinan adalah seni membawa masyarakat keluar dari kegelapan (ketidaktahuan) menuju pencerahan akal budi dan keadilan. Hal ini diisyaratkan dari latar belakang Nasaruddin Umar yang dilakoni sebagai seorang ulama, intelektual dan guru besar, memimpin lembaga pendidikan keagamaan, memimpin jamaah menjadikannya sebagai tokoh yang mampu berdiri di atas semua golongan.
Selain itu, ia adalah seorang diplomator yang mampu membawa agenda-agenda perdamaian. Satu prinsip yang konsisten bagi Nasaruddin Umar dalam mengeksekusi kepemimpinannya, yaitu Kepemimpinan adalah Cinta, tanpa cinta kepemimpinan hanya akan membawa kita pada absurditas.
Menurut Erich Fromm bahwa tindakan mencintai dan atau memimpin dengan pendekatan cinta dibangun atas empat elemen dasar yang harus diterapkan secara seimbang, yaitu: (1) Care (Peduli/Perhatian), pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki perhatian, kepedulian terhadap orang-orang yang dipimpinnya; (2) Responsibilty (Tanggungjawab), tanggungjawab bukan bertumpu pada kewajiban yang dipaksakan melainkan hakikat keberadaan seorang pemimpin dalam memenuhi kebutuhan yang dipimpinnya; (3) Respect (Rasa Hormat), kemampuan seorang pemimpin dalam memandang bahwa semua orang itu sama tanpa membeda-bedakan latar belakang dan dapat menghargai setiap usaha orang-orang yang dipimpinnya; dan (4) Knowledge (Pengetahuan), bahwa pemimpin perlu memiliki pengetahuan sebagai modal utama untuk memahami kerja-kerja timnya dan dapat mengarahkan serta mengenali perkembangan potensi orang-orang yang dipimpinnya.
Konsep dan teori yang ditawarkan Fromm bagi penulis sudah dilaksanakan dan dieksekusi dengan baik oleh seorang Nasaruddin Umar. Nasaruddin Umar memahami betul bahwa sebagai manusia biasa, tentu dalam proses kepemimpinan yang ia jalankan pasti ada kekurangan, sehingga baginya keparipurnaan sebuah kepemimpinan adalah yang berani mencintai dan mengucapkan kata maaf.
Letak kemuliaan seorang pemimpin; bukan pada tindakan balasan atau pada kekerasan kata-kata, tetapi kelembuatan hati yang berani mengucapkan kata “maaf”. Cara pandang Nasaruddin Umar melihat kepemimpinan adalah Cinta dan Maaf.
Baginya, kepemimpinan itu bukan tentang apa, siapa dan sekuat apa kita, tetapi tentang “Cinta” dan yang berani mengucapkan “Maaf”. Ini tentang seni mengelola kepemimpinan, ini tentang Cinta dan Maaf, ini tentang pemimpin yang mampu menjalankan kepemimpinannya, ini tentang The Art of Leadership. Yah, dia adalah Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.
***
*) Oleh : Fathullah Syahrul, Direktur Eksekutif Forum Strategis Pembangunan Sosial.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


