Krisis Kepercayaan dan Menurunnya Minat Masuk Pesantren
Krisis kepercayaan yang sedang dihadapi pesantren seharusnya menjadi momentum untuk berbenah. Pesantren telah menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan Indonesia dan telah melahirkan banyak generasi yang berkontribusi bagi bangsa.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Pesantren selama ini dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan yang paling dipercaya oleh masyarakat Indonesia. Tidak sedikit orang tua yang rela melepas anaknya tinggal jauh dari rumah demi mendapatkan pendidikan agama yang lebih baik, lingkungan yang religius, dan pembentukan karakter yang kuat. Bagi banyak keluarga Muslim, pesantren bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga tempat menitipkan harapan akan masa depan anak-anak mereka.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kepercayaan itu mulai menghadapi ujian yang tidak ringan. Berbagai kasus yang terjadi di lingkungan pesantren terus muncul ke permukaan dan menjadi konsumsi publik. Mulai dari kasus perundunganantarsantri, kekerasan fisik dalam proses pendisiplinan, hingga yang paling menyita perhatian masyarakat, yaitu kasus kekerasan seksual yang melibatkan oknum pengasuh, guru, maupun pimpinan pesantren.
Kasus Herry Wirawan di Bandung pada 2021 menjadi salah satu titik balik yang mengguncang kepercayaan masyarakat. Publik dibuat terkejut ketika mengetahui bahwa belasan santriwati menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh seseorang yang seharusnya menjadi pembimbing dan pelindung mereka. Peristiwa tersebut tidak hanya menyisakan luka mendalam bagi para korban, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar mengenai sistem pengawasan di lembaga pendidikan berbasis asrama.
Sayangnya, kasus itu bukan satu-satunya. Dalam beberapa tahun berikutnya, berbagai kasus serupa kembali bermunculan di sejumlah daerah. Masyarakat kembali dikejutkan oleh kasus-kasus pencabulan dan pelecehan seksual yang melibatkan oknum pengasuh pesantren. Belum lama ini, perhatian publik tertuju pada kasus santriwati yang hamil di Pekalongan.
Awalnya, kasus tersebut dipenuhi berbagai spekulasi. Namun setelah dilakukan penyelidikan, terungkap dugaan tindak kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang pengasuh terhadap santrinya sendiri. Berita semacam ini tentu menimbulkan kegelisahan di tengah masyarakat, terutama para orang tua yang sedang mempertimbangkan pendidikan terbaik bagi anak-anak mereka.
Di era media sosial seperti sekarang, dampak dari sebuah kasus jauh lebih besar dibandingkan masa lalu. Dulu, sebuah peristiwa mungkin hanya diketahui oleh masyarakat sekitar. Kini, dalam hitungan jam, informasi dapat menyebar ke seluruh Indonesia. Akibatnya, satu kasus yang terjadi di sebuah pesantren sering kali memengaruhi citra pesantren secara keseluruhan. Tidak sedikit orang yang kemudian menggeneralisasi bahwa semua pesantren memiliki masalah yang sama, meskipun kenyataannya tidak demikian.
Kekhawatiran para orang tua sebenarnya dapat dipahami. Ketika menitipkan anak ke pesantren, mereka tidak hanya menginginkan pendidikan agama yang baik, tetapi juga rasa aman. Mereka ingin memastikan bahwa anak-anak mereka berada di lingkungan yang mampu melindungi hak, martabat, dan keselamatan mereka. Ketika kasus kekerasan terus muncul, rasa percaya itu perlahan mulai terkikis.
Meski demikian, tidak adil jika seluruh pesantren dipandang negatif hanya karena ulah segelintir oknum. Faktanya, ribuan pesantren di Indonesia tetap menjalankan fungsi pendidikannya dengan baik. Setiap hari, jutaan santri belajar, menghafal Al-Qur’an, mendalami ilmu agama, dan dibimbing untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Banyak ulama, akademisi, pemimpin masyarakat, hingga tokoh nasional yang lahir dari lingkungan pesantren.
Justru karena pesantren memiliki peran yang begitu besar, setiap kasus yang terjadi di dalamnya harus menjadi bahan evaluasi bersama. Pesantren tidak boleh menutup mata terhadap persoalan yang ada. Sudah saatnya setiap lembaga pendidikan berbasis asrama memiliki sistem perlindungan anak yang lebih kuat, mekanisme pengaduan yang mudah diakses, serta pengawasan yang transparan. Budaya menghormati kiai dan guru tetap penting, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk membungkam korban atau menutupi pelanggaran yang terjadi.
Di sisi lain, pemerintah juga perlu hadir lebih aktif. Pengawasan terhadap lembaga pendidikan berbasis asrama harus diperkuat, bukan untuk mencurigai pesantren, melainkan untuk memastikan bahwa setiap anak mendapatkan perlindungan yang layak. Kepercayaan masyarakat tidak dapat dibangun hanya dengan slogan atau pencitraan, tetapi melalui komitmen nyata dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.
Krisis kepercayaan yang sedang dihadapi pesantren seharusnya menjadi momentum untuk berbenah. Pesantren telah menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan Indonesia dan telah melahirkan banyak generasi yang berkontribusi bagi bangsa. Karena itu, yang dibutuhkan bukanlah saling menyalahkan, melainkan keberanian untuk mengakui masalah dan memperbaikinya. Sebab, sebesar apa pun reputasi sebuah lembaga pendidikan, kepercayaan masyarakat hanya akan bertahan ketika keselamatan dan martabat anak-anak benar-benar dijaga.
***
*) Oleh : Hanania Hanum Sa’baniyah, S.Hum., Pendidik di Lembaga Thursina IIBS Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


