Diantara Nasab dan Otoritas keilmuan
Sejarah akan selalu membedakan antara pewaris nama dan pewaris ilmu. Pewaris nama mungkin mendapatkan penghormatan untuk beberapa waktu. Tetapi pewaris ilmu akan mendapatkan tempat dalam sejarah jauh setelah dirinya tiada.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
SITUBONDO – Di berbagai daerah, sosok Gus atau Lora masih menempati posisi terhormat dalam struktur sosial masyarakat pesantren. Kehadiranya dihormati, perkataanya didengar, dan pendapatnya sering kali dijadikan rujukan.
Pernghormatan tersebut tentu bukan sesuatu yang lahir tanpa alas an. Ia merupakan buah dari jasa para kiai terdahulu yang telah mengabdikan hidupnya untuk membangun pesantren, mendidikan santri, dan menjaga tradisi keilmuan Islam selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Namun di tengah penghormatan yang begitu besar itu, saya mempunyai satu pertayaan yang jarang diajukan oleh alumni pesantren: apakah semua penerus pesantren benar-benar telah mewarisi keilmuan yang dulu menjadi sumber kewibawaan pada pendahulu ?
Pertayaan ini bukan untuk merendahkan para Gus dan Lora. Justru sebaliknya, pertayaan ini lahir dari kecintaan terhadap tradisi pesantren yang sejak awal dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan bukan semata-mata garis keturunan.
Ketika Menjadi Gus Adalah Sebuah Proses
Dalam tradisi pesantren klasik, menjadi putra/putri kisi buksnlsh skhir dsri perjalanan, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab yang cukup berat.Dalam tradisi pesantren klasik, menjadi putra kiai bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari sebuah tanggung jawab yang cukup besar.
Banyak kiai besar Nusantara yang sengaja mengirim anak-anaknya untuk mondok di pesantren lain. Mereka tidak dididik secara ekslusif di bawah bayang-bayang nama besar ayahnya. Mereka harus juga merasakan kehidupan santri lainya. Bangun sebelum subuh. Menghafal matan kitab, mengikuti pengajian berjam-jam,hingga bertahun-tahun mengembara dari satu guru ke guru lainya.
Tidak sedikit pula yang melanjutkan pengembaraan ilmu hingga ke Makkah,Madinah,Yaman, atau Mesir. Tradisi rihla ilmiah ini menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter dan kapasitas keilmuan seorang calon ulama sebelum terjuan ke masyarakat.
Karena itulah masyarakat dahulu menghormati seorang Gus bukan semata karena ia anak seorang kiai. Masyarakat menghormati karana melihat kesungguhan proses yang telah dilaluinya.
Gelar Gus atau Lora hanyalah identitas keluarga. Sementara kewibawaan lahir dari ilmu yang diperoleh melalui perjuangan Panjang. Dalam konteks ini, nasab dan ilmu berjalan beriringan. Keturunan memberi amang,sedangkan ilmu memberi legitimasi.
Sayangnya, saya melihat keadaan hari ini mulai menunjukkan gajala yang berbeda. Dalam beberapa kasus, penghormatan sosial terkadang diberikan lebih dahulu daripada pembuktian keilmuan. Status sebagai anak kiai dianggap cukup untuk memperoleh otoritas di hadapan masyarakat.
Akibatnya, muncul kecenderungan untuk mengangap bahwa profesi sebagai seorang kiai dapat diwariskan secara otomatis melalui garis darah. Padahal sejarah Islam tidak pernah mengenal konsep tersebut.
Krisis Otoritas Keilmuan di Era Popularitas
salah satu tantangan terbesar pesantren hari ini adalah perubahan cara masyarakat memandang otoritas. Jika dahulu seseorang dihormati karena keluasan ilmunya, kini tidak jarang penghormatan muncul karena popularitas. Media sosial turut mempercepat proses tersebut. Seseorang dapat dikenal luas dalam waktu singkat tanpa harus melalui proses intelektual yang Panjang.
Fenomena ini tentu tidak hanya terjadi di lingkungan pesantren. Hampir semua bidang kehidupan mengalami gejala yang sama. Popularitas sering kali bergerak lebih cepat daripada kompetensi.
Persoalannya menjadi serius Ketika logika tersebut masuk ke dalam dunia keagamaan. Masyarakat terkadang lebih mengenal siapa yang sering muncul di layer ponsel daripada siapa yang benar-benar menguasai khazanah keilmuan Agama islam. Akibatnya, ukuran keberhasilan perlahan bergeser. dari penguasaan ilmu menuju penguasaan perhatian publik.
Menjadi penerus pesantren tidak cukup hanya dengan mewarisi bangunan, Lembaga Pendidikan, atau jumlah santri yang besar, saya melihat yang jauh lebih penting adalah mewarisi tradisi intelektual yang bisa melahirkan pesantren itu sendri.
Seorang Gus atau Lora yang tidak memiliki kedalaman ilmu akan kesulitan Ketika ingin menjaga marwah pesantren di tengah kompleksitas persoalan zaman. Sebab masyarakat hari ini tidak hanya membutukan figure yang dihormati, tetapi juga membutuhkan pemikir yang mampu memberikan jawaban atas berbagai persoalan sosial, ekonomi,hukum dan keagamaan yang semakin rumit,
Untuk itu diperlukan proses belajar yang serius, mempelajari kitab secara mendalam, dialog dengan berbagai tradisi keilmuan, serta kemampuan memahami realitas secara kritis karena tidak ada jalan pintas menuju kapasitas tersebut.
Kegelisaan ini sesungguhnya bukan kritik terhadap individu tertentu. Ini adalah refleksi tentang masa depan pesantren. Pesantren selama berabad-abad bertahan bukan karena kekuatan politik, bukan karena kekuatan ekonomi, dan bukan pula karena popularitas para pengasuhnya. Pesantren bertahan karena memiliki tradisi ilmu yang kuat.
Tradisi itulah yang melahirkan ulama-ulama besar Nusantara. Tradisi yang menjadikan kitab sebagai teman sehari-hari. Tradisi yang menempatkan belajar sebagai bentuk pengabdian. Tradisi yang mendorong seseorang untuk terus mencari ilmu meskipun menjadi tokoh masyarakat.
Karena itu, tantangan terbesar generasi penerus pesantren hari ini bukanlah bagaimana mempertahankan nama besar keluarga. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana membuktikan bahwa mereka layak menjadi penerus warisan keilmuan para pendahulunya.
Masyarakat pun perlu kembali menempatkan ilmu sebagai ukuran utama penghormatan. Kita tentu tetap menghormati keturunan para kiai sebagai bentuk penghargaan kepada jasa orang tua mereka. Namun penghormatan itu tidak boleh membuat kita melupakan prinsip dasar yang sejak lama dijaga pesantren: bahwa kemuliaan seseorang terletak pada ilmu dan akhlaknya.
Sejarah akan selalu membedakan antara pewaris nama dan pewaris ilmu. Pewaris nama mungkin mendapatkan penghormatan untuk beberapa waktu. Tetapi pewaris ilmu akan mendapatkan tempat dalam sejarah jauh setelah dirinya tiada.
Sebab pesantren tidak dibangun oleh kebesaran nasab semata. Pesantren dibangun oleh orang-orang yang rela menghabiskan hidupnya untuk belajar, mengajar, menulis, dan mengabdikan ilmunya kepada umat.
Maka pertanyaan yang patut diajukan kepada setiap generasi penerus pesantren hari ini bukanlah, “Siapa ayahmu?” Melainkan, “Apa ilmu yang telah kau warisi dan kau perjuangkan untuk umat?” Karena pada akhirnya, yang akan menjaga masa depan pesantren bukanlah keturunan. Melainkan keilmuan.
***
*) Oleh : Ahmad Azzakil Amin, Mahasiswa Doktoral Pendidikan Agama Islam, Uin Maulana Malik Ibrahim Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


