Advertisement
Kopi TIMES

Teach You a Lesson dan Krisis Empati Generasi Digital

Masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita miliki, tetapi oleh seberapa manusiawi kita menggunakannya.

TIMES Indonesia,
Mucharomatut Toyyibah
Mucharomatut Toyyibah - Kopi Times
Teach You a Lesson dan Krisis Empati Generasi Digital
Mucharomatut Toyyibah, Pendidik Thursina IIBS Malang.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

MALANG Belakangan ini lini masa media sosial dipenuhi satu judul yang sama: Teach You a Lesson (Get Schooled). Drama Korea yang diadaptasi dari webtoon populer tersebut langsung mencuri perhatian sejak tayang di Netflix. Potongan adegan Na Hwa-jin menghajar pelaku perundungan bertebaran di TikTok, Instagram Reels, hingga X. Banyak penonton mengaku puas melihat para pembully menerima balasan setimpal atas tindakan mereka.

Di tengah maraknya kasus kekerasan di sekolah, fenomena itu dapat dipahami. Publik sering kali frustrasi melihat pelaku perundungan lolos dari hukuman yang tegas, sementara korban harus memikul trauma dalam waktu yang lama. Ketika sistem dianggap lambat atau bahkan gagal memberikan keadilan, sosok seperti Na Hwa-jin hadir sebagai fantasi kolektif tentang seorang "penegak keadilan" yang berani bertindak tanpa kompromi.

Advertisement

Namun, jika dicermati lebih dalam, Teach You a Lesson sebenarnya bukan sekadar drama tentang aksi perkelahian atau balas dendam. Drama ini adalah cermin yang memantulkan berbagai problem pendidikan modern, terutama di era digital yang sedang dihadapi Generasi Z dan Generasi Alpha. Di balik adegan baku hantam yang memacu adrenalin, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih penting: mengapa kekerasan di sekolah semakin mudah terjadi, dan mengapa empati semakin sulit ditemukan?

Perundungan hari ini telah mengalami transformasi. Jika dahulu bullying identik dengan ejekan di halaman sekolah atau intimidasi di ruang kelas, kini bentuknya jauh lebih kompleks. Teknologi membuat kekerasan bisa berlangsung selama dua puluh empat jam tanpa batas ruang dan waktu. Seorang anak tidak perlu lagi berhadapan langsung dengan korbannya untuk melukai. Cukup dengan akun anonim, kolom komentar, atau unggahan yang sengaja dibuat untuk mempermalukan seseorang.

Di sinilah letak persoalan terbesar generasi digital. Teknologi berkembang sangat cepat, tetapi perkembangan empati tidak selalu berjalan beriringan. Banyak remaja yang terbiasa mengukur hubungan sosial melalui jumlah pengikut, jumlah suka, dan jumlah tayangan. Akibatnya, manusia perlahan dipandang sebagai objek konten, bukan sebagai individu yang memiliki perasaan.

Fenomena ini membuat perundungan semakin berbahaya. Luka akibat pukulan mungkin dapat sembuh dalam hitungan minggu. Namun luka akibat penghinaan publik yang terus-menerus tersebar di ruang digital bisa bertahan bertahun-tahun. Tidak sedikit korban cyberbullying yang mengalami gangguan kecemasan, kehilangan rasa percaya diri, bahkan depresi.

Karena itu, pesan utama yang seharusnya ditangkap dari Teach You a Lesson bukanlah romantisasi kekerasannya. Yang perlu direnungkan justru alasan mengapa tokoh seperti Na Hwa-jin dianggap menarik. Popularitas karakter tersebut menunjukkan adanya kegelisahan sosial terhadap lemahnya perlindungan terhadap korban dan minimnya keberpihakan sistem terhadap mereka yang tertindas.

Advertisement

Sayangnya, sebagian penonton berhenti pada lapisan permukaan. Mereka melihat kekerasan sebagai solusi, bukan sebagai kritik. Padahal drama ini sesungguhnya mengajak penonton mempertanyakan efektivitas sistem pendidikan, budaya sekolah, hingga pola pengasuhan yang gagal membangun karakter peserta didik.

Selain isu bullying, drama ini juga mengangkat persoalan yang sangat relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini, yaitu jejak digital. Karakter Bong Geun-dae yang ahli melacak data memperlihatkan satu kenyataan penting bahwa dunia digital tidak pernah benar-benar lupa.

Banyak remaja merasa aman ketika menggunakan akun palsu untuk menghina orang lain. Sebagian menganggap menyebarkan foto teman tanpa izin hanyalah candaan. Ada pula yang mengira unggahan yang dihapus akan hilang begitu saja. Padahal hampir semua aktivitas digital meninggalkan jejak yang dapat dilacak.

Dalam konteks ini, Teach You a Lesson memberikan pelajaran penting tentang akuntabilitas digital. Apa yang ditulis hari ini bisa menjadi beban di masa depan. Apa yang dianggap lucu saat ini bisa berubah menjadi penyesalan bertahun-tahun kemudian. Dunia digital bukan ruang tanpa konsekuensi.

Lebih jauh lagi, drama ini juga menyoroti krisis respek yang semakin terasa di berbagai ruang pendidikan. Bukan rahasia bahwa hubungan antara guru dan siswa mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang lebih terbuka, lebih kritis, dan lebih berani menyampaikan pendapat.

Hal itu tentu merupakan perkembangan positif. Pendidikan modern memang tidak lagi menghendaki siswa yang hanya patuh tanpa berpikir. Namun kebebasan berpikir tidak boleh berubah menjadi hilangnya penghormatan terhadap sesama.

Respek bukanlah kepatuhan buta. Respek adalah kemampuan menghargai keberadaan orang lain meskipun memiliki pandangan berbeda. Dalam kehidupan sekolah, respek berarti menghormati guru sebagai pendidik, menghargai teman tanpa melihat latar belakang ekonomi, dan mampu berdialog tanpa harus merendahkan pihak lain.

Di sinilah tantangan terbesar pendidikan abad ke-21. Sekolah tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademik. Sekolah juga harus melahirkan generasi yang memiliki kecerdasan sosial dan kecerdasan emosional. Sebab dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar. Yang semakin langka justru orang yang mampu memahami perasaan orang lain.

Pada akhirnya, Teach You a Lesson adalah lebih dari sekadar drama aksi. Ia adalah kritik terhadap dunia pendidikan yang sedang menghadapi perubahan besar akibat teknologi dan budaya digital. Ia mengingatkan bahwa perundungan tidak pernah bisa dibenarkan, bahwa jejak digital memiliki konsekuensi nyata, dan bahwa rasa hormat tidak boleh hilang di tengah kebebasan berekspresi.

Mungkin pelajaran terbesar dari drama ini bukan tentang bagaimana menghukum pelaku kekerasan, melainkan bagaimana mencegah kekerasan itu lahir sejak awal. Sebab pendidikan sejati tidak dimulai dari ancaman, hukuman, atau kepalan tangan. Pendidikan sejati lahir dari empati, kesadaran, dan keberanian untuk memperlakukan orang lain sebagai manusia.

Jika ada sesuatu yang perlu dipelajari generasi digital dari Teach You a Lesson, maka itu bukan cara bertarung ala Na Hwa-jin. Melainkan keberanian untuk memutus rantai perundungan, menjaga etika di ruang digital, dan membangun kembali empati yang perlahan hilang di tengah hiruk-pikuk dunia maya. Karena pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita miliki, tetapi oleh seberapa manusiawi kita menggunakannya.

***

*) Oleh : Mucharomatut Toyyibah, Pendidik Thursina IIBS Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia