Generasi Muda menjadi Garda Terdepan Pelestarian Budaya Lokal
Seorang remaja yang hafal lirik lagu internasional sekaligus mahir menarikan tarian tradisional adalah bukti nyata bahwa kedua unsur tersebut dapat berdampingan secara harmonis.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
JAKARTA – Perkembangan teknologi digital dan meluasnya akses terhadap media sosial secara mendasar telah mengubah pola konsumsi budaya masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan generasi muda. Ketika konten dari seluruh penjuru dunia bisa diakses hanya dengan satu gesekan jari, budaya asing pun kian akrab dalam keseharian. Sebaliknya, kesenian dan tradisi lokal perlahan mulai terpinggirkan.
Fenomena ini mendorong sekelompok mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya (UB) untuk melakukan kajian mendalam. Tim yang beranggotakan Muhammad Anwar Sholeh, Moza Syahrani, Aurel Maylady Ekashanti, dan Zaduna Fiddaraini ini menakar sejauh mana ketahanan budaya lokal di tengah gempuran tren global.
Berdasarkan survei yang mereka lakukan terhadap sejumlah responden generasi muda, ditemukan sebuah fakta menarik. Mayoritas anak muda sebenarnya sadar bahwa budaya lokal, seperti bahasa daerah, tari tradisional, hingga batik tulis, sangat penting untuk dijaga sebagai identitas bangsa yang tak ternilai.
Namun pada praktiknya, kesadaran tersebut sering kali berhenti sebagai pemikiran saja tanpa diwujudkan dalam tindakan nyata. Banyak remaja yang mengaku lebih akrab dengan musik pop Korea, serial Barat, hingga tren fesyen TikTok dibandingkan dengan kesenian asli daerah mereka sendiri.
Kondisi tersebut memicu terjadinya krisis identitas kultural. Bahasa daerah yang dahulu menjadi alat komunikasi utama, kini mulai jarang dituturkan oleh generasi muda dalam pergaulan sehari-hari. Tradisi lokal pun lambat laun bergeser menjadi sekadar warisan masa lalu yang hanya dihadirkan pada momen seremonial atau acara formal belaka. Jika dibiarkan tanpa adanya intervensi, budaya asli Nusantara terancam hilang dan digantikan oleh budaya global yang seragam.
Menariknya, hasil kajian mahasiswa UB ini menegaskan bahwa internet dan media sosial tidak selamanya harus dipandang sebagai ancaman atau musuh bagi kelestarian budaya. Platform digital justru memiliki potensi luar biasa untuk menjadi senjata utama dalam merevitalisasi budaya lokal. Kuncinya terletak pada bagaimana cara mengemas tradisi tersebut agar relevan, menarik, dan sesuai dengan selera estetika generasi masa kini.
Melalui kreativitas digital, kebudayaan lokal dapat diproduksi ulang menjadi konten yang menarik perhatian publik. Transformasi ini sudah mulai terlihat dari munculnya berbagai inisiatif mandiri oleh anak muda di media sosial, seperti pembuatan konten edukasi bahasa daerah yang dikemas secara komedi, tutorial mengenakan kain batik dengan gaya modern yang kasual, hingga digitalisasi musik tradisional. Langkah-langkah organik tersebut membuktikan bahwa budaya lokal bisa tetap tampil keren dan mendapatkan tempat di hati netizen.
Namun, upaya dari individu atau kelompok kecil tentu tidak akan cukup kuat untuk menghadapi arus globalisasi yang masif. Hasil studi ini merekomendasikan perlunya kolaborasi nyata antara tiga pilar utama, yaitu masyarakat, institusi pendidikan, dan pemerintah. Pihak sekolah dan perguruan tinggi perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi kegiatan pelestarian budaya, bukan hanya menempatkannya sebagai muatan lokal di sudut kurikulum, melainkan sebagai karakter yang dirayakan bersama. Di sisi lain, pemerintah juga dituntut hadir melalui program jangka panjang yang berinvestasi penuh pada ekosistem kreator budaya muda.
Sesuai dengan laporan UNESCO mengenai pembangunan berkelanjutan, generasi muda memegang posisi krusial sebagai perantara budaya (cultural transmitters). Merekalah yang akan menentukan apakah sebuah tradisi akan terus hidup dan diwariskan ke masa depan atau perlahan-lahan menghilang ditelan zaman.
Tantangan hari ini bukanlah memaksa anak muda untuk memilih secara ekstrem antara budaya global atau budaya lokal. Seorang remaja yang hafal lirik lagu internasional sekaligus mahir menarikan tarian tradisional adalah bukti nyata bahwa kedua unsur tersebut dapat berdampingan secara harmonis.
Hal yang berbahaya bukanlah ketika masyarakat mengenal budaya bangsa lain, melainkan saat mereka lupa, atau bahkan tidak pernah tahu, siapa jati diri mereka yang sebenarnya. Keseimbangan dalam menerima modernisasi tanpa kehilangan akar tradisi menjadi kunci utama untuk menjaga marwah dan identitas budaya Indonesia di ruang siber.
***
*) Oleh : Saffanah Nurhaliza, Mahasiswa.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


