Advertisement
Kopi TIMES

Stunting Tak Selesai Sekedar Makan Gratis

Kita perlu berhenti memandang stunting sekadar sebagai urusan isi piring. Jika solusi hanya terfokus pada pembagian makanan gratis, kita sesungguhnya hanya mengobati gejala sambil membiarkan akar persoalannya tetap hidup. 

TIMES Indonesia,
Laila Muniroh
Laila Muniroh - Kopi Times
Stunting Tak Selesai Sekedar Makan Gratis
Lailatul Muniroh, Dosen dan Peneliti, Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

SURABAYA Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sering diposisikan sebagai salah satu jawaban atas persoalan stunting. Logikanya sederhana: jika anak mendapat makanan bergizi setiap hari, maka masalah kurang gizi akan teratasi. Sekilas, gagasan ini nampak masuk akal. Anak kekurangan energi diberi makanan, anak kekurangan protein diberi sumber protein. Persoalan pun dianggap selesai.

Namun, stunting tidak sesederhana itu. Dalam diskursus publik, stunting sering direduksi menjadi persoalan anak kurang makan. Akibatnya, solusi yang muncul pun cenderung berfokus pada distribusi pangan. Padahal, seperti halnya penyakit, mengatasi stunting tidak cukup dengan meredakan gejalanya tanpa menyentuh akar penyebabnya.

Advertisement

Dalam ilmu gizi masyarakat, stunting dipengaruhi oleh tiga lapisan penyebab: penyebab langsung (immediate cause), penyebab tidak langsung (underlying cause), dan penyebab mendasar (basic cause).

Program makan gratis pada dasarnya hanya menyasar lapisan pertama. Penyebab langsung memang berkaitan dengan kurangnya asupan gizi dan tingginya kejadian penyakit infeksi. Anak yang tidak memperoleh makanan cukup atau sering sakit berisiko mengalami gangguan pertumbuhan. Pada titik ini, pemberian makanan bergizi memang penting.

Namun persoalan stunting tidak berhenti di sana. Di bawahnya terdapat penyebab tidak langsung yang jauh lebih kompleks. Stunting sering kali bermula bahkan sebelum seorang anak dilahirkan. Kondisi kesehatan dan status gizi ibu, kualitas layanan antenatal, sanitasi lingkungan, akses air bersih, pola pengasuhan, literasi kesehatan keluarga, serta keamanan pangan rumah tangga sangat mempengaruhi pertumbuhan anak.

Seorang anak mungkin menerima makan gratis setiap hari, tetapi tetap berisiko mengalami gangguan pertumbuhan apabila tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk, sering terpapar infeksi, atau dibesarkan dalam keluarga yang belum memiliki pemahaman memadai mengenai praktik pemberian makan yang tepat. Dengan kata lain, stunting bukan hanya persoalan biologis, melainkan juga persoalan lingkungan sosial tempat anak tumbuh.

Akar masalahnya bahkan lebih dalam lagi. Di bawah penyebab tidak langsung terdapat penyebab mendasar yang bersifat struktural, seperti kemiskinan, ketimpangan pembangunan, rendahnya kualitas pendidikan, terbatasnya kesempatan ekonomi, lemahnya tata kelola pangan, hingga kebijakan publik yang belum sepenuhnya berpihak pada kesehatan masyarakat jangka panjang.

Advertisement

Keluarga miskin bukan semata-mata kurang memahami pentingnya gizi. Banyak di antara mereka memang tidak memiliki pilihan. Ketika pendapatan hanya cukup untuk bertahan hidup, keputusan pangan lebih banyak ditentukan oleh harga daripada kualitas. Akibatnya, pangan murah dengan kualitas gizi rendah sering menjadi pilihan yang paling realistis.

Karena itu, selama penyebab mendasar belum diselesaikan, stunting akan terus muncul dalam bentuk yang berbeda. Kita mungkin dapat menurunkan prevalensi untuk sementara melalui distribusi makanan. Namun tanpa pembenahan akar strukturalnya, generasi berikutnya akan menghadapi persoalan yang sama.

Di sinilah letak kekeliruan ketika makan gratis dipersepsikan sebagai solusi utama stunting. Bukan berarti program ini tidak penting. Sebagai instrumen perlindungan sosial, terutama bagi kelompok rentan, program tersebut tetap memiliki manfaat. Namun ia hanyalah satu bagian dari keseluruhan solusi. Upaya pencegahan stunting memerlukan pendekatan yang jauh lebih komprehensif.

Pertama, memperkuat intervensi sejak masa prakonsepsi melalui pencegahan anemia pada remaja putri, edukasi gizi, suplementasi zat besi, dan pemantauan status gizi calon ibu.

Kedua, memastikan akses terhadap sanitasi layak dan air bersih. Tidak ada intervensi gizi yang akan optimal jika anak terus-menerus terpapar infeksi akibat lingkungan yang buruk.

Ketiga, meningkatkan literasi gizi keluarga agar praktik pemberian makan yang benar dapat diterapkan sejak dini.

Keempat, memperkuat sistem pangan lokal sehingga keluarga memiliki akses berkelanjutan terhadap pangan sehat yang terjangkau.

Kelima, memperbaiki kebijakan sosial-ekonomi agar keluarga dapat keluar dari jebakan kemiskinan antar-generasi.

Keberhasilan program gizi semestinya tidak diukur dari banyaknya paket makanan yang tersalurkan atau besarnya anggaran yang terserap, melainkan dari perbaikan status gizi ibu dan anak secara nyata. Distribusi makanan memang mudah dilihat, didokumentasikan, dan dijadikan narasi keberhasilan. Namun penurunan stunting yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui kerja yang lebih mendasar: memperbaiki gizi ibu, sanitasi, pendidikan, ekonomi keluarga, sistem pangan, dan layanan kesehatan secara bersamaan.

Karena itu, kita perlu berhenti memandang stunting sekadar sebagai urusan isi piring. Jika solusi hanya terfokus pada pembagian makanan gratis, kita sesungguhnya hanya mengobati gejala sambil membiarkan akar persoalannya tetap hidup. Dan selama akar persoalan itu belum diselesaikan, stunting akan tetap menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini.

***

*) Oleh : Lailatul Muniroh, Dosen dan Peneliti, Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia