Advertisement
Kopi TIMES

Belajar Berkorban, Belajar Melepaskan

Semakin bertambah usia, saya semakin menyadari bahwa hidup pada dasarnya adalah serangkaian pilihan. Dan di balik setiap pilihan, hampir selalu ada pengorbanan.

TIMES Indonesia,
Laila Muniroh
Laila Muniroh - Kopi Times
Belajar Berkorban, Belajar Melepaskan
Lailatul Muniroh, Dosen dan Peneliti, Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

SURABAYA Kita sering membayangkan pengorbanan sebagai sesuatu yang besar dan dramatis. Seolah-olah pengorbanan hanya terjadi ketika seseorang kehilangan harta yang banyak, melepaskan sesuatu yang sangat berharga, atau menghadapi ujian hidup yang berat.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengorbanan hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana dan sering kali tidak kita sadari. Setiap kali kita memilih satu hal, pada saat yang sama kita sedang melepaskan hal yang lain.

Advertisement

Seorang mahasiswa yang memilih belajar ketika teman-temannya bersenang-senang, sedang berkorban. Seorang ibu yang mendahulukan kebutuhan anak-anaknya daripada keinginannya sendiri, sedang berkorban. Seorang pekerja yang tetap mempertahankan kejujuran meski harus kehilangan peluang tertentu juga sedang berkorban. Dalam arti tertentu, hidup adalah proses belajar melepaskan.

Sayangnya, kita hidup di tengah budaya yang justru mengajarkan kebalikannya. Kita didorong untuk terus memiliki, mengumpulkan, mengejar, dan mempertahankan. Ukuran keberhasilan sering kali ditentukan oleh seberapa banyak yang berhasil kita genggam: harta, jabatan, popularitas, pencapaian, atau pengakuan dari orang lain. Akibatnya, kita menjadi terbiasa memandang kehilangan sebagai kegagalan. Padahal tidak semua yang dilepaskan adalah kerugian.

Ada kalanya seseorang harus melepaskan kenyamanan untuk bertumbuh. Ada saat ketika seseorang harus melepaskan ego agar hubungan dapat tetap terjaga. Ada pula keadaan ketika seseorang harus melepaskan ambisi tertentu demi mempertahankan prinsip yang diyakininya benar. Justru dalam momen-momen seperti itulah karakter manusia dibentuk.

Saya sering berpikir bahwa yang paling sulit untuk dikorbankan bukanlah harta atau waktu. Yang paling sulit justru adalah hal-hal yang tidak terlihat: ego, gengsi, rasa ingin selalu benar, kebutuhan untuk diakui, dan keinginan untuk selalu menang.

Melepaskan uang mungkin terasa berat, tetapi melepaskan kesombongan sering kali jauh lebih sulit. Melepaskan jabatan mungkin menyakitkan, tetapi mengakui kesalahan di hadapan orang lain terkadang lebih menyakitkan lagi.

Advertisement

Karena itu, pengorbanan sesungguhnya bukan sekadar soal apa yang kita berikan kepada orang lain. Pengorbanan juga tentang apa yang berhasil kita kalahkan dalam diri sendiri.

Dalam pengalaman hidup, saya melihat bahwa banyak konflik, baik dalam keluarga, lingkungan kerja, maupun kehidupan sosial, berawal dari ketidakmampuan manusia untuk melepaskan ego. Kita ingin pendapat kita yang menang. Kita ingin keinginan kita yang dipenuhi. Kita ingin posisi kita yang diakui.

Akibatnya, banyak hubungan rusak bukan karena tidak ada cinta atau kepedulian, melainkan karena tidak ada yang bersedia berkorban. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang mau mendengar. Tidak ada yang mau melepaskan sedikit dari dirinya demi kebaikan bersama. Padahal setiap hubungan yang sehat dibangun di atas kesediaan untuk berkorban.

Demikian pula dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak mungkin ada keadilan jika setiap orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Tidak mungkin ada solidaritas jika semua orang hanya sibuk menghitung untung dan rugi bagi dirinya.

Tidak mungkin ada peradaban yang besar jika tidak ada generasi yang bersedia berkorban untuk generasi setelahnya. Sejarah selalu menunjukkan bahwa kemajuan lahir dari orang-orang yang rela memberikan sesuatu yang berharga dari dirinya.

Ada guru yang mengabdikan hidupnya untuk mendidik. Ada peneliti yang bertahun-tahun bekerja tanpa sorotan demi menemukan solusi bagi persoalan masyarakat. Ada orang tua yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memastikan anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.

Mereka mungkin tidak dikenal luas. Nama mereka tidak selalu tercatat dalam buku sejarah. Namun dunia menjadi lebih baik karena pengorbanan mereka. Dari mereka saya belajar bahwa pengorbanan bukan tentang kehilangan, melainkan tentang tujuan yang lebih besar daripada diri sendiri.

Ketika seseorang rela melepaskan sesuatu demi kebaikan yang lebih luas, ia sesungguhnya sedang memperluas makna hidupnya. Mungkin karena itulah banyak orang yang paling bahagia bukanlah mereka yang memiliki segalanya, melainkan mereka yang menemukan sesuatu yang layak diperjuangkan.

Hidup bukan hanya tentang apa yang berhasil kita kumpulkan. Hidup juga tentang apa yang rela kita lepaskan agar sesuatu yang lebih baik dapat tumbuh. Barangkali kedewasaan tidak diukur dari seberapa banyak yang berhasil kita miliki, tetapi dari seberapa bijak kita menentukan apa yang perlu dipertahankan dan apa yang harus dilepaskan.

Karena dalam hidup, tidak semua yang dapat digenggam harus terus digenggam. Ada saat ketika melepaskan justru menjadi cara terbaik untuk bertumbuh. Dan sering kali, di situlah makna pengorbanan menemukan bentuknya yang paling manusiawi.

***

*) Oleh : Lailatul Muniroh, Dosen dan Peneliti, Departemen Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia