Beragama di Era Paylater
Agama tidak diturunkan untuk menjadi lembar soal pilihan ganda di akhir semester. Ia adalah kompas navigasi.

Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Bayangkan skenario ini di ponsel seorang anak muda: di antara aplikasi pengingat shalat dan grup WhatsApp keluarga, tersempil tiga aplikasi pinjaman online (pinjol) dengan notifikasi yang terus berkedip, menjanjikan "dana taktis" demi tiket konser atau sepatu impian.
Hari ini, jeratan utang digital bukan lagi monopoli masyarakat kelas bawah yang terdesak kebutuhan pokok. Ia telah bergeser menjadi gaya hidup generasi muda, termasuk mereka yang tumbuh di lingkungan keluarga religius dan rutin menghadiri kelas agama.
Di sinilah letak ironinya. Kita hidup di negara dengan antusiasme belajar agama yang sangat tinggi. Namun, mengapa khutbah-khutbah moral dan hafalan dalil seolah mendadak lumpuh ketika jari-jari Gen Z dihadapkan pada tombol "Setujui Pinjaman" yang hanya berjarak satu ketukan?
Jawabannya mungkin tidak nyaman bagi para pendidik kita: Kelas Fikih Muamalah (hukum ekonomi Islam) kita sedang mengalami krisis relevansi. Kita menghadapi hiu darat digital berteknologi canggih dengan kurikulum yang masih sibuk membahas teori abad pertengahan.
Jebakan Finansial Berwajah "Estetik"
Muamalah dalam tradisi klasik adalah ruang yang sangat progresif. Ia mengatur bagaimana manusia berinteraksi secara adil dalam urusan perut dan dompet. Sayangnya, di banyak ruang kelas hari ini, pelajaran ini telah menyusut menjadi sekadar hafalan istilah.
Siswa diminta menghafal definisi riba, membedakan gharar dan maysir, atau menghafal rukun jual beli unta dan hasil panen. Padahal, musuh yang dihadapi anak muda hari ini tidak membawa unta. Mereka menghadapi algoritma super-komputer yang dirancang khusus untuk memanipulasi psikologi manusia agar konsumtif.
Pinjol dan fitur Buy Now Pay Later (BNPL) tidak datang dengan wajah menakutkan. Mereka datang dengan warna-warna pastel yang estetik, menggunakan istilah ramah seperti "biaya layanan" atau "solusi instan," serta menggandeng pembuat konten populer sebagai duta mereknya.
Ketika kelas agama hanya mendefinisikan riba secara tekstual hitam-putih tanpa membedah bagaimana riba modern berkamuflase, kita sebenarnya sedang membiarkan generasi muda masuk ke medan perang tanpa senjata. Mereka tahu berutang itu berisiko, tetapi mereka tidak dilatih untuk mengenali bahaya yang dibungkus oleh kemudahan teknologi.
Membawa Lembar Tagihan ke Dalam Kelas
Jika kita ingin kelas muamalah kembali bertaji, cara mengajar kita harus dirombak total. Kelas agama harus berani menjadi ruang yang "bising" dengan realitas finansial, bukan sekadar ruang steril penuh hafalan.
Pelajaran muamalah yang efektif hari ini seharusnya tidak dimulai dari kitab kuning yang tidak kontekstual, melainkan dari tangkapan layar skema cicilan di aplikasi belanja online.
Ada beberapa langkah radikal yang bisa diambil untuk mengubah arah ruang kelas kita: Pertama, Bedah Anatomi Kontrak Digital: Ajak siswa membaca lembar Terms and Conditions (Syarat & Ketentuan) aplikasi keuangan.
Hitung bersama mereka berapa bunga riil yang terakumulasi jika mereka terlambat membayar satu hari. Tunjukkan secara matematis bagaimana "biaya admin" yang terlihat kecil sebenarnya adalah bunga berbunga yang mencekik.
Kedua, Melawan Doktrin FOMO dengan Fikih Konsumsi: Konsep zuhud (regulasi diri) dan qana'ah (merasa cukup) jangan lagi diajarkan sebagai konsep mistis yang menjauh dari dunia. Kontekskan konsep ini sebagai alat pertahanan mental untuk melawan Fear of Missing Out (FOMO) dan tekanan sosial di media sosial yang memaksa mereka tampil kaya sebelum matang secara finansial.
Ketiga, Edukasi Skor Kredit sebagai "Catatan Amal" Duniawi: Jelaskan pada mereka bahwa satu kali kecerobohan klik di usia 19 tahun akan tercatat dalam sistem kolektibilitas kredit negara. Catatan buruk itu bisa menjegal mimpi mereka mengambil KPR, mengajukan modal usaha, atau bahkan mendapatkan pekerjaan di masa depan.
Menjadikan Agama sebagai Rem
Menyalahkan Gen Z atas kerapuhan finansial mereka adalah sikap yang malas. Mereka adalah korban dari sebuah ekosistem digital yang sangat agresif, sementara benteng pertahanan moral yang kita berikan di sekolah terlalu rapuh karena minim praktik.
Agama tidak diturunkan untuk menjadi lembar soal pilihan ganda di akhir semester. Ia adalah kompas navigasi. Jika kelas muamalah kita gagal membuat seorang anak muda berpikir ulang sebelum mengklik tombol utang untuk hal-hal tersier, maka kelas tersebut gagal memenuhi fungsi fundamentalnya.
Sudah saatnya para pembuat kebijakan kurikulum dan guru agama turun dari menara gading teori. Kita harus membawa realitas finansial yang pahit ke dalam ruang kelas. Hanya dengan cara itulah, kita bisa mengubah kelas agama dari sekadar tempat mengumpulkan nilai, menjadi ruang penyelamatan masa depan generasi muda.
***
*) Oleh : Sunarti, Lc., M.Pd., Pendidik Thursina IIBS Malang dengan minat Fiqih dan Bahasa Arab.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


