Sadar Diri
Pendidikan adalah proses menumbuhkan manusia yang merdeka, berkarakter, dan memiliki semangat belajar sepanjang hayat.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
JAKARTA – Perjalanan panjang menjadi guru sepertinya belum bisa memberikan pengalaman yang baik. Di usia yang tidak muda lagi penulis menyadari masih jauh dari kata sempurna. Profesi guru bukan suatu kebetulan, sebuah cerita dengan berbagai tantangan, dan pembelajaran.
Ditengah perjalanan itu, ada satu hal yang terkadang terlupakan, yaitu kemampuan untuk sadar diri. Kesadaran diri bukan hanya tentang mengetahui siapa diri kita, tetapi juga keberanian untuk mengakui kekurangan dan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik.
Dalam proses perjalanannya tidak sedikit guru yang begitu fokus pada perkembangan siswanya. Guru menuntut siswa mendapatkan nilai yang tinggi, mengerjakan tugas tepat waktu, rajin membaca buku, dan aktif dalam pembelajaran.
Setiap hari guru mengingatkan siswa agar belajar lebih giat demi masa depan yang lebih baik. Semua itu tentu dilakukan dengan niat yang baik. Namun pernahkah kita bertanya kepada diri kita apakah sebagai guru sudah melakukan hal yang sama.
Sebuah pertanyaan sederhana tetapi sulit dijawab dengan jujur. Banyak guru yang begitu sibuk menilai siswa, tetapi lupa menilai dirinya sendiri. Banyak guru yang meminta siswa terus belajar, sementara dirinya merasa cukup dengan ilmu yang dimiliki bertahun-tahun lalu. Padahal dunia terus berubah, teknologi berkembang, dan karakter peserta didik juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Tanpa disadari, ada guru yang masih menggunakan cara mengajar yang sama selama bertahun-tahun. Metode yang pernah berhasil pada masa lalu terus dipertahankan tanpa melihat apakah masih relevan dengan kebutuhan siswa saat ini.
Guru merasa sudah mengajar dengan baik karena materi telah disampaikan secara lengkap. Akan tetapi, siswa terlihat bosan, kurang bersemangat, bahkan kehilangan minat belajar.
Ironisnya, kondisi tersebut seringkali dianggap sebagai kesalahan siswa. Guru sering menilai siswa malas, tidak serius, atau kurang memiliki motivasi belajar. Padahal bisa jadi yang perlu diperbaiki bukan hanya siswa, melainkan juga cara guru mengajar.
Sebaiknya guru memiliki sikap sadar diri mengajarkan bahwa setiap guru juga perlu belajar. Gelar akademik, pengalaman mengajar yang panjang, atau berbagai penghargaan bukanlah alasan untuk berhenti berkembang. Justru semakin lama menjadi guru, semakin besar tanggung jawab untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan.
Menjadi guru bukan berarti sudah selesai belajar. Justru seharusnya guru merupakan pembelajar sepanjang hayat. Ketika guru berhenti belajar, maka pembelajaran yang diberikan kepada siswa perlahan akan kehilangan makna. Materi mungkin tetap tersampaikan tetapi semangat belajar tidak lagi tumbuh di dalam kelas.
Kesadaran diri juga mengajak guru untuk merefleksikan praktik pembelajaran yang dilakukan setiap hari. Apakah pembelajaran yang diberikan sudah bisa dipahami oleh siswa atau sudah menyenangkan. Apakah kita sudah menginspirasi atau justru menjadi tempat yang membosankan.
Tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dibutuhkan kerendahan hati untuk menerima bahwa mungkin selama ini ada hal yang perlu diperbaiki. Ada kalanya guru merasa sudah bekerja keras, tetapi hasil yang diperoleh belum sesuai harapan. Dalam situasi seperti itu, refleksi menjadi langkah penting.
Mari kita melakukan refleksi bukan mencari siapa yang salah, melainkan mencari apa yang bisa diperbaiki. Ketika siswa kurang aktif, guru dapat bertanya apakah metode pembelajaran yang digunakan sudah cukup menarik. Ketika hasil belajar siswa belum maksimal, guru dapat mengevaluasi apakah pendekatan yang digunakan sudah sesuai dengan kebutuhan mereka.
Pada akhirnya menjadi guru yang baik bukan tentang seberapa sering kita menuntut siswa untuk berubah. Menjadi guru yang baik dimulai dari keberanian untuk mengubah diri sendiri.
Sebelum meminta siswa rajin belajar, guru harus menunjukkan bahwa dirinya juga gemar belajar. Sebelum meminta siswa disiplin, guru harus memberi contoh kedisiplinan. Sebelum meminta siswa menghargai proses, guru juga harus menghargai proses pembelajaran yang dijalani.
Sadar diri merupakan cermin yang membantu guru melihat dirinya secara jujur. Cermin itu mungkin tidak selalu menampilkan hal-hal yang menyenangkan, tetapi dari sanalah perubahan bermula.
Guru yang mampu bercermin akan memahami bahwa pendidikan bukan sekadar menyampaikan materi atau mengejar nilai tinggi. Pendidikan adalah proses menumbuhkan manusia yang merdeka, berkarakter, dan memiliki semangat belajar sepanjang hayat.
***
*) Oleh : Hery Setyawan, Guru Pendidikan Pancasila di SMPN 42 Jakarta.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


