Revolusi Spiritual
Hijrah di era modern tidak lagi berbicara tentang berpindah tempat secara fisik, melainkan keberanian untuk bermutasi dari mentalitas yang buruk menuju kesalehan pribadi dan sosial.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
MALANG – Hijrah adalah api semangat untuk menatap masa depan yang lebih baik. Rasulullah saw selama 13 tahun (masa berjuang dakwah semenjak diutus sebagai Rasul setelah turun wahyu) dalam keadaan yang sangat memprihatinkan dan penuh gangguan. Sehingga beberapa kali beliau melakukan upaya untuk hijrah dengan tujuan mendapatkan kehidupan sosial keagamaan yang lebih baik bagi para pengikutnya.
Tercatat ada 3 kali hijrah Nabi dan para sahabatnya. Pertama, Hijrah ke Habasyah (Etiopia) pada tahun ke 5 kenabian. Kedua, hijrah ke Thaif, pada tahun ke 10 kenabian, Setelah wafatnya Khadijah (istri Nabi) dan Abu Thalib (paman sekaligus pelindung Nabi). Ketiga, Hijrah ke Yatsrib pada tahun ke 13 masa kenabian. Inilah peristiwa monumental yang mengubah jalannya sejarah Islam dan menjadi titik awal penetapan Kalender Hijriah.
Tujuan utama dalam hijrah nabi adalah untuk menyelamatkan aqidah dan kebebasan dalam beragama, membangun basis dan pusat dakwah yang aman, membentuk peradaban dan kedaulatan islam, mempersatukan ummat untuk keutuhan ukhuwah islamiyah. Artinya Rasulullah sangat peduli untuk membangun realitas kehidupan sosial keagamaan yang lebih baik, tertata, aman dan sejahtera bagi ummatnya.
Esensi "hijrah" bukan sekadar sebagai peristiwa sejarah migrasi fisik, melainkan sebagai sebuah transformasi mental dan spiritual total (revolusi spiritual). Islam berfokus pada masa depan dan tidak peduli apapun gelapnya masa lalu. Islam percaya bahwa setiap orang pasti punya masa lalu namun islam lebih percaya bahwa peluang perubahan ke arah kebaikan jauh lebih utama. Islam lebih menekankan transformasi dari pada terperangkap gagal move on atas masa lalu.
Perhatikan bagaimana gelapnya umar bin khattab, hamzah bin abdulmuthalib (Sang Singa Allah), khalid bin walid (sang pedang Allah), ikrimah bin abu jahal (anak musuh bebuyutan yang kemudian mati sebagai syahid, Abu Dzar al ghifari (dari perampok jalanan menjadi tokoh zuhud), bilal bin rabah (dari budak tertindas sebagai muadzin pertama islam), hindun bin utbah (wanita pendendam menjadi pembela agama), wahay bin harb (pembunuh singa Allah menjadi pembunuh manusia terburuk al kazzhab), dan masih banyak lagi sederet nama yang dahulunya penuh noda dan kegelapan kemudian bertransformasi menjadi pejuang islam dan kebenaran.
Inilah Islam, tidak peduli atas apapun gelapnya masa lalu selama ada kesadaran untuk berubah dan menggantikannya dengan kebaikan maka titik akhir itulah yang menjadi penilaian utamanya. Rasulullah saw mengatakan dalam sabdanya :
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ ، وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا
Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6493)
Hadits ini seakan menjadi penjamin bahwa setiap orang diberi peluang untuk berubah dan sekaligus melarang untuk terjebak pada masa lalu seseorang seakan tidak memberikan kesempatan orang untuk berubah. Padahal setiap orang punya hak dan kesempatan untuk berubah.
Kalimat "innamal a'mal bil khawatim" , sungguh amalan itu dilihat dari akhirnya, memberikan rasa optimisme dan motivasi bahwa peluang taubat itu selalu terbuka lebar dan peluang menjadi orang baik itu adalah sebuah keniscayaan. Untuk itu tidak ada kata terlambat untuk menjadi orang baik segelap dan seburuk apapun masa lalunya. Pintu rahmad Allah jauh lebih lebar dibandingkan murkaNya.
Untuk itulah Allah swt menegaskan bahwa berfokuslah atas masa depan dengan cara merubah dan mentransformasi diri dengan bekal kebaikan untuk mempersiapkan diri kita bagi kehidupan yang lebih baik lagi kelak di akhiraf. Hari ini harus lebih baik dari hari kemaren.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hasyr: 18)
Inilah hakikat hijrah itu yaitu sikap berani untuk berubah menjadi baik dan lebih baik lagi. Kesediaan merubah diri, mentransformasi diri menjadi lebih baik dan meletakkan masa lalunya dengan penuh penyesalan serta menggantinya dengan kebaikan bahkan menjadi yang terdepan dalam memperjuangkan kebenaran.
Islam menegaskan kepada semuanya bahwa bahwa lakukan kebaikan karena hal itu dapat menghapus keburukan masa lalu. Dan Allah swt menjadikan shalat sebagai penanda utama sekaligus jalan untuk kembali. Artinya, kembalilah pada Allah melalui solat dan kemudian jika solatnya bagus maka peringai dan perbuatan selanjutnya juga akan terjaga menjadi baik pula.
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ
Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah). (QS. Hud: 114)
Kemudian istiqamah dalam menjaga dirinya untuk dapat selalu menjadi pribadi yang mampu menebarkan manfaat dan kebaikan bagi sekitar serta mampu menjaga dirinya bagi keselamatan orang lain. Nabi bersabda :
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنه
Seorang muslim sejati adalah barang siapa yang apabila orang muslim lainnya dapat selamat dari (gangguan) lisannya dan tangannya. Dan seorang yang berhijrah itu adalah orang yang mampu berhijrah (berubah menjadi baik) dari apa-apa yang dilarang oleh Allah kepadanya. (HR. Bukhari)
Hijrah di era modern tidak lagi berbicara tentang berpindah tempat secara fisik, melainkan keberanian untuk bermutasi dari mentalitas yang buruk menuju kesalehan pribadi dan sosial. Masa lalu Anda hanyalah bab lama yang telah usai; ia tidak berhak mendikte akhir dari cerita hidup Anda. Hijrah adalah deklarasi keberanian untuk bangkit, memeluk rahmat Allah yang maha luas, dan menulis ulang takdir baru yang lebih mulia.
Jangan biarkan sisa penyesalan membelenggu langkah kaki Anda menuju masa depan. Ketuklah pintu tobat hari ini melalui perbaikan shalat dan ketulusan amal, sebab Allah tidak melihat seberapa gelap awal perjalanan Anda, melainkan seberapa indah akhir dari kepulangan Anda. Beranilah berhijrah, beranilah berubah, dan jadilah pemenang di akhir hayat.
***
*) Oleh : Dr. Akhmad Muwafik Saleh. M.Si., Dosen UB dan Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


