Jalan Menuju Indonesia Emas 2045
Indonesia Emas akan dibangun oleh generasi yang berpengetahuan, berintegritas, produktif, inovatif, serta mampu menjaga kepercayaan publik sebagai fondasi utama kemajuan bangsa.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
GORONTALO – Indonesia sedang berada pada sebuah persimpangan sejarah yang sangat menentukan. Di satu sisi, bangsa ini memiliki peluang besar untuk menjadi negara maju pada tahun 2045 ketika genap berusia 100 tahun. Di sisi lain, tantangan global yang semakin kompleks menghadirkan berbagai risiko yang tidak bisa dianggap ringan.
Konflik geopolitik, gejolak harga energi, ketidakpastian perdagangan internasional, transformasi digital yang berlangsung sangat cepat, hingga perubahan iklim menjadi faktor-faktor yang memengaruhi arah pembangunan ekonomi dunia.
Dalam situasi seperti ini, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor pembeda utama. Negara yang memiliki generasi muda yang adaptif, berintegritas, dan berpengetahuan akan mampu mengubah tantangan menjadi peluang. Sebaliknya, negara yang gagal mempersiapkan generasi mudanya akan menghadapi risiko kehilangan momentum pembangunan.
Di sinilah pentingnya peran Generasi Baru Indonesia (GenBI), sebuah komunitas penerima bantuan pendidikan kebanksentralan yang dibina oleh Bank Indonesia. Program ini sesungguhnya bukan sekadar bantuan pendidikan. Lebih dari itu, GenBI merupakan investasi strategis bangsa dalam mempersiapkan calon pemimpin masa depan yang memahami ekonomi, memiliki kepedulian sosial, dan mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Indonesia saat ini sedang menikmati bonus demografi, yaitu kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Fenomena ini hanya terjadi sekali dalam sejarah perjalanan sebuah bangsa.
Banyak negara maju memanfaatkan bonus demografi sebagai mesin percepatan pertumbuhan ekonomi. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa bonus demografi tidak selalu berujung pada kemajuan. Tanpa pendidikan yang baik, tanpa karakter yang kuat, dan tanpa kualitas kepemimpinan yang memadai, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban demografi.
Karena itu, generasi muda tidak lagi cukup hanya menjadi pencari kerja. Mereka harus mampu menjadi pencipta lapangan kerja, inovator, entrepreneur, peneliti, dan pemimpin yang mampu menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan pembangunan.
Dalam konteks tersebut, literasi kebanksentralan menjadi semakin relevan. Banyak masyarakat yang masih memandang kebijakan ekonomi hanya dari permukaan. Kenaikan suku bunga, pergerakan nilai tukar, inflasi, digitalisasi sistem pembayaran, maupun kebijakan moneter sering kali dipahami secara parsial bahkan disalahartikan. Padahal kebijakan-kebijakan tersebut merupakan instrumen penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Di era media sosial, tantangan terbesar bukan lagi sekadar keterbatasan informasi, melainkan melimpahnya informasi yang belum tentu benar. Hoaks ekonomi, misinformasi, dan narasi yang menyesatkan dapat menyebar jauh lebih cepat dibandingkan fakta. Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan publik menjadi aset yang sangat berharga.
Kepercayaan merupakan modal ekonomi yang sering tidak terlihat tetapi dampaknya sangat nyata. Ketika masyarakat percaya terhadap arah kebijakan pemerintah dan otoritas ekonomi, dunia usaha lebih berani berinvestasi, konsumen lebih percaya diri dalam melakukan aktivitas ekonomi, dan pasar keuangan menjadi lebih stabil. Sebaliknya, ketika kepercayaan menurun, investor menjadi ragu, pelaku usaha menunda ekspansi, dan masyarakat cenderung menahan konsumsi.
Oleh karena itu, menjaga kepercayaan publik bukan hanya menjadi tugas pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, atau lembaga negara lainnya. Menjaga kepercayaan publik juga merupakan tanggung jawab generasi muda. Melalui literasi ekonomi yang baik, kemampuan berpikir kritis, dan penggunaan media sosial secara bertanggung jawab, generasi muda dapat menjadi penjernih informasi sekaligus penyebar optimisme yang rasional.
Peran tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia sedang bergerak menuju ekonomi berbasis pengetahuan, inovasi, dan digitalisasi. Generasi muda merupakan kelompok yang paling dekat dengan teknologi, paling cepat beradaptasi terhadap perubahan, dan paling potensial dalam menciptakan inovasi. Karena itu, mereka tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus menjadi pencipta teknologi, pencipta usaha baru, dan pencipta nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki. Masa depan Indonesia akan lebih banyak ditentukan oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Sumber daya alam dapat habis, tetapi pengetahuan, kreativitas, dan inovasi akan terus berkembang jika dipelihara dengan baik.
Indonesia Emas 2045 pada akhirnya bukanlah sekadar target statistik berupa pertumbuhan ekonomi yang tinggi atau pendapatan per kapita yang meningkat. Indonesia Emas adalah tentang terwujudnya masyarakat yang maju, inklusif, berdaya saing, dan sejahtera. Untuk mencapai tujuan tersebut, bangsa ini membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kepedulian sosial, dan komitmen kebangsaan yang kuat.
Di tengah berbagai tantangan global yang terus berubah, harapan itu tetap ada. Harapan itu berada pada jutaan generasi muda Indonesia yang hari ini sedang belajar, berinovasi, dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan. GenBI adalah bagian dari harapan besar tersebut.
Indonesia Emas 2045 tidak akan dibangun oleh gedung-gedung tinggi atau teknologi semata. Indonesia Emas akan dibangun oleh generasi yang berpengetahuan, berintegritas, produktif, inovatif, serta mampu menjaga kepercayaan publik sebagai fondasi utama kemajuan bangsa.
***
*) Oleh : Dr. Herwin Mopangga, Akademisi Universitas Negeri Gorontalo dan Ketua ISEI Cabang Gorontalo.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


