Nilai Tukar dan Snowball Effect Kenaikan Harga BBM
Kenaikan BBM non subsidi jangan dibiarkan menjadi alasan umum bagi semua harga untuk ikut naik. Pengawasan distribusi pangan dan stabilisasi komoditas pokok harus lebih rapi.
Ruang Menulis untuk Indonesia
Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.
JEMBER – Pelemahan rupiah mulai terasa di dompet masyarakat. Selama ini, kurs sering dianggap sebagai urusan pasar keuangan, ekspor-impor, atau investor portofolio. Padahal, ketika rupiah melemah terlalu dalam, dampaknya perlahan merembes ke harga barang dan jasa konsumsi masyarakat. Salah satu sinyal jelas terlihat dari kenaikan harga BBM non subsidi.
Per 10 Juni 2026, Pertamina menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Naik Rp3.950 atau sekitar 32%. Namun, Pertalite dan Biosolar masih ditahan. Kenaikan BBM non subsidi penting dibaca sebagai sinyal awal bahwa tekanan biaya energi mulai mencari jalan keluar.
Masalahnya bukan hanya Pertamax naik. Masalahnya adalah apa yang terjadi setelah Pertamax naik. Dalam ekonomi, kenaikan harga energi jarang berhenti di satu komoditas. Efeknya bisa bergerak seperti bola salju. Awalnya kecil dan terbatas, lalu membesar melalui biaya transportasi, biaya distribusi, ekspektasi pedagang, hingga harga pangan.
Di sinilah pelemahan rupiah menjadi penting. Indonesia masih bergantung pada impor minyak dan energi. Ketika harga minyak dunia naik, lalu rupiah melemah, biaya impor energi dalam rupiah ikut membengkak. Jadi, tekanan harga tidak hanya datang dari pasar minyak global, tetapi juga dari nilai tukar. Dolar yang lebih mahal membuat energi impor lebih mahal. Ini lalu mendorong penyesuaian harga di dalam negeri.
Secara teori, ini disebut exchange rate pass-through dan cost-push inflation. Pelemahan nilai tukar dapat masuk ke inflasi melalui barang impor, bahan baku, energi, dan ekspektasi harga. Sementara cost-push inflation menjelaskan bahwa inflasi muncul bukan karena permintaan melonjak, tetapi karena biaya produksi dan distribusi naik.
Meski begitu, dampak langsung kenaikan Pertamax terhadap inflasi mungkin tidak sebesar kenaikan BBM subsidi. Sebab, Pertamax lebih banyak dikonsumsi kelompok menengah ke atas, sementara logistik pangan banyak bergantung pada solar. Justru disini risikonya. Pedagang bisa menaikkan harga bukan semata karena biaya hari ini naik, tetapi karena memperkirakan biaya besok lebih tinggi.
Bukti empiris mendukung kekhawatiran ini. Widarjono et al. (2023) menunjukkan bahwa pelemahan nilai tukar memiliki transmisi asimetris terhadap inflasi di beberapa negara ASEAN, termasuk Indonesia. Depresiasi cenderung lebih kuat mendorong inflasi dibandingkan apresiasi dalam menurunkan inflasi. Artinya, ketika rupiah melemah, harga lebih mudah naik. Sebaliknya, ketika rupiah menguat, harga belum tentu turun secepat itu.
Yang perlu dicermati, inflasi Indonesia sangat sensitif terhadap pangan dan biaya distribusi. Kenaikan BBM non subsidi mungkin tidak langsung memukul semua rumah tangga, tetapi bisa membentuk ekspektasi biaya akan terus naik. Akibatnya, pedagang dan distributor bisa lebih cepat menyesuaikan harga. Di sinilah efek bola salju bekerja. Tekanan awal dari energi perlahan menjalar ke harga pangan dan jasa.
Kondisi ini perlu diwaspadai sebab inflasi Indonesia pada Mei 2026 sudah naik ke 3,08% yoy. Angka ini masih dalam sasaran 2,5±1%, tetapi ruang amannya menyempit. Jika rupiah terus tertekan dan harga energi kembali menyesuaikan, risiko inflasi bukan lagi hanya soal angka bulanan, tetapi soal ekspektasi.
Keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026 harus dibaca dalam kerangka ini. Kenaikan suku bunga bukan hanya untuk menarik aliran modal asing atau menahan rupiah. Lebih jauh, kebijakan ini menjaga agar pelemahan kurs tidak berubah menjadi inflasi yang lebih luas.
Tetapi suku bunga saja tidak cukup. Pemerintah perlu memastikan pasokan pangan aman, distribusi lancar, dan komunikasi harga tidak menimbulkan kepanikan. Kenaikan BBM non subsidi jangan dibiarkan menjadi alasan umum bagi semua harga untuk ikut naik. Pengawasan distribusi pangan dan stabilisasi komoditas pokok harus lebih rapi.
Rupiah melemah memang tidak langsung membuat semua harga naik hari ini. Tetapi efeknya bisa terasa lebih berat ke depan. Kenaikan Pertamax bisa menjadi sinyal pertama dari bola salju itu. Jika tidak dikelola, efeknya bergulir menjadi inflasi pangan, tekanan biaya hidup, dan pelemahan daya beli. Makanya, menjaga rupiah hari ini bukan sekadar menjaga pasar valas. Menjaga rupiah juga berarti menjaga harga di pasar rakyat.
***
*) Oleh : Misbahol Yaqin, Peneliti Pusat Riset Ekonomi dan Sosial Indonesia (PRESISI) dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata.
*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


