Advertisement
Kopi TIMES

Generasi AI dan Krisis Otoritas Keilmuan

Guru, dosen, peneliti, dan ulama tetap memiliki peran yang tidak dapat digantikan mesin yakni menanamkan nilai, membangun cara berpikir, mengajarkan kebijaksanaan, dan membimbing manusia memahami makna di balik pengetahuan.

TIMES Indonesia,
ALDA SYAFIRA
ALDA SYAFIRA - Kopi Times
Generasi AI dan Krisis Otoritas Keilmuan
Alda Syafira, Pengurus Lakpesdam PCNU Banyuwangi dan Dekan FTIK UI CORDOBA.
A-AA+

Ruang Menulis untuk Indonesia

Kopi TIMES adalah ruang kolaboratif bagi siapa saja yang ingin menyuarakan ide, pengalaman, dan pemikiran kepada publik luas. Di sini, tulisan lahir dari beragam latar belakang: akademisi, mahasiswa, guru, santri, profesional, pelaku UMKM, pegiat komunitas, aktivis, birokrat, politisi, seniman, hingga warga biasa yang peduli pada isu di sekitarnya.

JEMBER Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan secara radikal. Jika generasi sebelumnya terbiasa mencari jawaban melalui guru, dosen, kiai, buku, dan lembaga pendidikan, generasi hari ini cukup mengetik beberapa kata di layar gawai untuk mendapatkan jawaban dalam hitungan detik.

Perubahan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan yang jauh lebih mendasar yakni pergeseran otoritas keilmuan.

Advertisement

Fenomena tersebut semakin terasa dalam kehidupan akademik. Mahasiswa tidak lagi bertanya terlebih dahulu kepada dosen atau membuka berbagai referensi ilmiah. Langkah pertama yang dilakukan justru membuka ChatGPT, Gemini, Copilot, atau platform AI lainnya. Pertanyaannya kemudian bukan lagi bagaimana memperoleh informasi, melainkan kepada siapa manusia mempercayakan pengetahuan.

Pertanyaan tersebut menjadi sangat relevan ketika Universitas Islam Cordoba Banyuwangi pada Jumat (5/6/2026) menggelar International Lecture bertajuk Beyond Algorithms: Ethics, Trust, and Human Flourishing in the AI Era. Forum yang menghadirkan akademisi dari Amerika Serikat, Malaysia, dan Indonesia itu mengingatkan bahwa isu utama AI bukan semata kecanggihan teknologi, melainkan bagaimana menjaga etika, kepercayaan, dan kemanusiaan di tengah dominasi algoritma.

Di berbagai negara, perdebatan tentang AI telah bergeser dari pertanyaan "apakah AI bermanfaat?" menjadi "bagaimana AI mengubah cara manusia berpikir?".

Di Amerika Serikat, sejumlah sekolah mulai menerapkan pembatasan penggunaan teknologi dan AI karena muncul kekhawatiran terhadap menurunnya perhatian belajar, integritas akademik, dan kemampuan berpikir siswa. Bahkan beberapa institusi pendidikan tinggi mulai meninjau ulang sistem evaluasi pembelajaran karena penggunaan AI yang semakin luas dalam penyelesaian tugas-tugas akademik.

Survei terhadap dosen perguruan tinggi di Amerika menunjukkan mayoritas besar pengajar khawatir ketergantungan mahasiswa terhadap AI akan melemahkan kemampuan berpikir kritis dan mengikis makna pendidikan tinggi itu sendiri.

Advertisement

Sementara itu, China mengambil langkah berbeda. Pemerintah China justru mempercepat integrasi AI ke seluruh jenjang pendidikan melalui program literasi AI nasional. Namun yang menarik, penguatan AI tersebut tetap dibarengi upaya membangun sistem literasi dan kontrol pengetahuan yang terstruktur agar teknologi tidak berjalan tanpa arah sosial dan ideologis.

Dua pendekatan tersebut menunjukkan satu kenyataan yang sama yakni dunia sedang menghadapi transformasi besar dalam otoritas pengetahuan.

Selama berabad-abad, otoritas keilmuan dibangun melalui proses yang panjang. Seorang ilmuwan memperoleh legitimasi melalui penelitian. Seorang dosen melalui kompetensi akademik. Seorang ulama melalui sanad keilmuan. Pengetahuan tidak hanya dinilai dari hasil akhirnya, tetapi juga dari proses, metodologi, dan pertanggungjawabannya. AI mengubah pola tersebut.

Jawaban hadir tanpa memperlihatkan seluruh proses berpikir yang melahirkannya. Pengguna menerima kesimpulan tanpa selalu mengetahui sumber, konteks, maupun perdebatan ilmiah yang melatarinya. Akibatnya, kecepatan perlahan menggantikan kedalaman sebagai ukuran kualitas pengetahuan. Inilah yang dapat disebut sebagai krisis otoritas keilmuan.

Krisis ini bukan berarti manusia akan kehilangan ilmuwan, guru, atau ulama. Krisis terjadi ketika masyarakat semakin sulit membedakan antara informasi dan pengetahuan, antara jawaban instan dan pemahaman mendalam, antara algoritma dan otoritas ilmiah.

Dalam tradisi Islam, persoalan ini sebenarnya bukan hal baru. Para ulama sejak lama menekankan pentingnya sanad sebagai mekanisme verifikasi pengetahuan. Sebuah ilmu tidak hanya dinilai dari apa yang disampaikan, tetapi juga dari siapa yang menyampaikan, bagaimana metode yang digunakan, dan bagaimana validitasnya diuji.

Di era AI, prinsip tersebut justru semakin relevan. Sebab algoritma mampu menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan, tetapi tidak selalu benar. Bahkan model AI paling canggih sekalipun masih dapat menghasilkan informasi yang keliru, bias, atau tidak memiliki dasar akademik yang kuat.

Karena itu, tantangan terbesar pendidikan masa depan bukanlah mengajarkan cara menggunakan AI. Generasi muda akan mempelajarinya dengan sendirinya. Tantangan sesungguhnya adalah membangun kemampuan untuk mempertanyakan, memverifikasi, dan mengkritisi jawaban yang diberikan AI. Dengan kata lain, pendidikan harus bergeser dari sekadar transfer informasi menuju penguatan nalar kritis.

Ironisnya, ketika AI mampu menjawab hampir semua pertanyaan, kemampuan yang justru semakin dibutuhkan manusia adalah kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat. Ketika informasi tersedia dalam jumlah tak terbatas, kebijaksanaan menjadi jauh lebih penting daripada pengetahuan itu sendiri.

Karena itu, masa depan pendidikan tidak boleh dipertentangkan dengan AI. Yang perlu dilakukan adalah menempatkan AI sebagai alat bantu intelektual, bukan pengganti otoritas keilmuan.

Guru, dosen, peneliti, dan ulama tetap memiliki peran yang tidak dapat digantikan mesin yakni menanamkan nilai, membangun cara berpikir, mengajarkan kebijaksanaan, dan membimbing manusia memahami makna di balik pengetahuan.

Jika tidak, kita mungkin akan melahirkan generasi yang memiliki akses terhadap seluruh informasi dunia, tetapi kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar, mana yang penting, dan mana yang bermakna. Di situlah krisis otoritas keilmuan bermula.

***

*) Oleh : Alda Syafira, Pengurus Lakpesdam PCNU Banyuwangi dan Dekan FTIK UI CORDOBA. 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. 

*) Sertakan nama penulis, profesi beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke https://kopi.times.co.id/

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia